Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 139 Pandangan Yang Membuat Takut



Selesai berlatih mereka lalu menuju ke ruang makan. Ada berbagai macam hidangan tersedia. Tetapi lebih dominan hidangan yang mengandung protein tinggi.


"Yen boleh makan?" Ren mencium aroma masakan yang sedap.


"Boleh."


Ren langsung mengambil nampan dan ikut berbaris. Sebastian membantu mengambilkan nasi dan lauk untuk Ren.


Ren lalu menuju meja tempat Hana dan Ricka berada. "Ini buat Mama." Ren menyerahkan nampan berisi makanan miliknya.


"Ren nggak makan?"


"Yen nanti antyi lagi." Ren mengambil nampan kosong. Lalu mengantre sekali lagi.


Sebastian membantu Ren lagi mengambilkan lauk.


"Teyima kasih, Om."


Hana, Ren, Ricka dan Sebastian berada dalam satu meja. Mereka terlihat seperti keluarga kecil bahagia.


"Ren besok datang ke pertandingan Om?" Sebastian bertanya.


"Iya. Yen jadi playey escoyt lagi." Ren akan bertugas menggandeng tangan Sebastian saat memasuki lapangan sebelum pertandingan dimulai.


Sepertinya Ren akan sering menjadi player escort untuk Sebastian.


Teman-teman Sebastian mulai berbisik-bisik. Mata mereka tertuju pada Hana. "Lihat itu. Sebastian lagi PDKT."


"Mamanya Ren itu tipenya Sebastian, kan?"


"Betul. Mirip sama mantannya Sebastian yang dulu. Yang bikin Sebastian patah hati karena nikah sama pengusaha tajir. Wanita yang lebih pilih harta daripada cinta."


"Dulu Sebastian memang nggak seterkenal sekarang."


"Mantannya Sebastian itu pasti nyesel. Sekarang duitnya Sebastian banyak. Gajinya Sebastian itu paling tinggi diantara pemain bola. Iklannya juga banyak. Belum lagi endors."


"Tapi masa Sebastian mau sama mananya Ren. Buntutnya banyak. Papanya Ren juga tajir. Belum lagi papanya Ricka super tajir."


"Eh? Papanya Ren dan papanya Ricka beda? Pantes Ren sama Ricka nggak mirip. Mamanya Ren nikah berapa kali?"


"Dua kali. Tapi dua-duanya sama papanya Ren. Mereka pernah bercerai sekali tapi mereka nikah lagi."


"Trus kok bisa papanya Ricka bisa beda? Mereka selingkuh?"


Pelatih mereka datang. "Ehm."


Para pemain berhenti bergosip. Mereka buru-buru memakan makanan mereka.


Kembali lagi ke tempat Hana berada.


Hana menyuapi Ricka. Ricka tidak mau memakan nasi. Ia hanya mau memakan daging.


"Ricka harus makan nasi juga." Sebastian mendekatkan sendoknya yang berisi nasi ke depan Ricka. Ricka akhirnya mau membuka mulutnya dan memakan nasi.


"Terima kasih." Hana bingung harus berkata apa. Saat ini ia sedikit gelisah. Ia merasa teman-teman Sebastian melihat ke arah mereka dan membicarakan dirinya.


"Apa ada sesuatu di wajahku?" Hana bertanya.


Sebastian mengambil tisu dan mengelap ujung bibir Hana yang sedikit belepotan karena saus. "Sudah bersih sekarang."


"Terima kasih." Hana merasa dadanya sedikit berdebar. Apa karena Sebastian itu tampan?


Hana berusaha untuk sadar. Ia berada di sana untuk Ren. Supaya kemampuan sepak bola Ren bisa meningkat. Bukan untuk pacaran.


Hana melihat cincin kawinnya. Untuk semakin menyadarkan dirinya.


"Kamu sudah punya pacar?" Hana bertanya.


"Belum."


"Kenapa? Pasti banyak wanita yang mau sama kamu. Kamu ganteng, tinggi, baik, main sepak bolanya oke."


"Terima kasih buat pujiannya. Tapi sekarang aku lagi fokus ke karir."


"Mau aku kenalkan seseorang?"


"Tidak usah."


Hana merasakan sesuatu dari mata Sebastian saat memandangnya. Pandangan yang tidak asing baginya. Pandangan Sebastian saat ini mirip dengan cara Luke memandangnya sebelum kejadian Rin.


Hana merasa sedikit takut.


Asalkan aku terus berada di tempat keramaian, aku pasti aman kan?