
"Rin baik-baik saja. Matthew yang tidak baik-baik saja." Matthew merasa ia harus segera menemui Rin. Dengan ia berada di dekat Rin, ia akan bisa mengurangi kedekatan Rin dengan Rayhan.
"Matt tanya Mommy. Apa Matt dibolehkan bolos sekolah?" Martin bertanya kembali walau ia tahu jawaban Martha apa. Martha pasti mengijinkan Matthew bolos sekolah demi cinta.
Matthew pergi mendekati mommy nya. "Mom. Please. Matt harus ke Indonesia."
Martha tentu saja mengijinkan. Ia tak boleh kehilangan Rin secara Rin itu calon mantunya. Matthew dan Rin tidak boleh berpisah.
Martin akhirnya membelikan tiket pesawat ke Indonesia untuk Matthew.
Martha memberitahu Hana jika Matthew akan terbang ke Indonesia.
"Eh? Apa?" Hana merasa salah dengar.
"Matthew akan terbang ke Indonesia. Sekarang ia lagi masukin bajunya ke koper." Martha melihat Matthew mulai sibuk beberes.
"Mark ikut juga?" Hana bertanya.
"Tidak. Hanya Matthew. Matthew cemburu sama Rayhan. Ia takut Rin direbut Rayhan," ucap Martha.
Kadang-kadang Hana hanya geleng-geleng kepala. Kok bisa bisanya Martha mengijinkan putranya terbang seorang diri di usia yang masih belia. Tapi Hana tetap menghargai kepribadian tiap orang terutama Martha yang terbilang unik.
"Jam berapa Matthew tiba di Indonesia?"
"Nanti aku kabari lagi. Martin membelikan tiket pesawat yang tercepat sampai ke sana."
Hana dan Martha berbincang sejenak lalu mereka mengakhiri percayakan mereka.
Hana melihat jadwal penerbangan. Yang kelas ekonomi aja 23 jam 50 menit. Itu aja sudah delapan belas jutaan.
Hana juga mengecek kelas bisnis. Dua puluh dua jam dengan biaya seratus juta? Hana tercengang melihat harga tiket yang fantastis.
Orang kaya mah bebas.
Hana lalu memberitahu Lucas jika Matthew datang ke Indonesia.
"Mereka liburan?" Lucas bertanya.
"Nggak. Kata kak Martha karena Matthew cemburu melihat Rin syuting bersama Rayhan."
"Rayhan?"
"Rayhan itu aktor cilik yang berperan sebagai kakaknya Rin di film. Yang meranin Putra."
"Lucas, aku matikan telponnya. Bentar lagi syuting. Bye." Hana melihat tes kamera Rin dan Rayhan sudah selesai. Ia takut suaranya akan menggangu proses syuting.
"Bye." Hana berpamitan lalu memutus panggilan mereka.
Kameraman mengambil posisi.
"Action." Syuting dilanjutkan kembali. Kali ini adegan Lisa yang tersadar dari pingsannya.
Lisa membuka matanya. Tubuhnya terasa sakit. Ia melihat orang yang berada di sampingnya.
Orang itu memberinya air hangat. Dengan bantuan sedotan, Lusa meminum air hangat itu.
Lisa melihat orang itu. Orang itu juga melihat Lisa dan bertanya, "Kamu siapa?"
"Aku ..." Lisa tidak mengingat namanya sendiri. Pukulan di kepalanya membuatnya mengalami amnesia.
"Aku ... Tidak ingat."
"Mulai sekarang namamu Putri. Namaku Putra. Aku kakakmu."
"Kakak?"
"Iya. Mulai sekarang aku Kakak kamu," ucap Putra.
"Kakak."
"Cut." Sutradara mengakhiri syuting. Mereka mulai memonitor lagi adegan yang baru saja mereka rekam di layar.
Sutradara mulai memberi masukan ke Rayhan. "Ray, di sini kamu harus terlihat lebih berempati ke Lisa."
"Rin harus terlihat lebih lemah lagi karena ini adegan Lisa yang masih sakit karena pukulan ibu tirinya."
"Baik, Om," ucap Rin dan Rayhan bersamaan.
Rin mulai berbaring di tikar. Sedangkan Rayhan duduk di samping Rin.
Syuting diulang kembali saat Lisa tersadar dari pingsannya.
"Action." Syuting dilanjutkan kembali. Rin dan Rayhan beradu akting lagi.
"Cut." Sutradara mengakhiri rekaman. Mereka memonitor lagi akting Rin dan Rayhan. Sutradara terlihat cukup puas.