Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 93 Cici Chincilla



Sore hari Lucas datang. Ia memberikan ponselnya ke Rin. Rin mulai menonton rekaman seminar.


Saat waktunya makan malam.


"Rin, makan," panggil Hana. Tapi Rin masih serius menonton seminar yang diikuti ayahnya.


"Rin ..." Hana memanggil Rin lagi.


"Ren, panggil kakak Rin." Hana menyuruh Ren.


Ren langsung berlari mendekati Rin. "Makan." Ren memegangi perutnya. Ia lapar. Jika Rin tidak datang ke meja makan, Ren belum bisa makan.


"Kakak ..." Ren memanggil lagi sambil menarik tangan Rin. Rin akhirnya menuju ke meja makan.


...***...


Keesokkan harinya Rin pergi ke preschool. Hana dan Ren menunggu kedatangan Rin di apartemen.


Saat Hana mendengar suara Rin, Hana langsung keluar kamar untuk menyambut Rin. Tapi ia terkejut saat ada tikus besar di ruang tamu. Hana segera mengambil ember. Ia hendak menangkap tikus itu.


Apartemen semewah ini juga ada tikusnya?



"Mama, jangan." Rin melarang Hana menangkap tikus berbadan besar itu.


"Tikus itu bisa bikin kita sakit." Hana mengejar. Ia ingin mengurung dan membuang tikus itu.


"Jangan bunuh Cici." Rin memegangi tangan ibunya.


"Rin, tikus kok dikasih nama."


Susan, baby sitter Rin memberitahu Hana, "Nyonya, itu bukan tikus. Tapi chincilla. Hewan peliharaan."


"Chincilla?" Hana belum pernah mendengar nama hewan itu.


"Tikusnya punya siapa?" Hana bertanya.


"Bukan tikus, Ma. Chinciyya."


"Iya. Cincin atau Lala apa itu. Punya siapa? Rin sudah ijin belum." Hana khawatir jika Rin asal ambil tanpa ijin pemiliknya.


"Cici punya Yin."


Susan berbicara lagi, "Tadi pulang dari preschool, Matthew dan Rin pergi ke pet shop dekat preschool. Matthew yang membelinya buat Rin."


"Berapa harganya?"


"Lima ratus dolar? Hampir delapan juta itu." Hana mendekati Rin. "Rin, kita harus kembalikan Cici ke pet shop. Harganya mahal. Mama nanti mau kabari mamanya Matthew."


"Mamanya Matthew tadi yang temani Matthew, Nyonya," ucap Susan.


"Mamanya Matthew tahu Matthew keluar uang lima ratus dolar?"


"Malah mamanya Matthew yang tambahin empat ratus dolar karena Matthew cuma punya uang seratus dolar."


Hana semakin bingung. Ia berterima kasih ada yang kasih Rin hadiah. Tapi hadiahnya terlalu mahal. Kemarin-kemarin Matthew pernah kasih gelang emas dengan liontin tengkorak buat Rin. Emas asli bukan imitasi.


Berapa uang saku Matthew setiap harinya sampai-sampai bisa beli barang mewah.


Hana menelpon mama Matthew, Martha." Selamat siang, Nyonya Martha. Saya Hana. Saya mamanya Rin. Saya ingin membayar untuk chincilla yang dibawa Rin."


"Tidak perlu. Itu hadiah buat Rin. Apa Rin nggak suka?"


"Tidak. Rin suka. Ren, adiknya Rin juga suka." Hana melihat Ren mengejar Cici.


"Matthew yang mau kasih hadiah buat Rin. Itu bukan hal besar," ucap Martha. "Lagipula Rin itu my daughter in law (menantu perempuan)"


Pembicaraan mereka terputus karena kesibukan Martha.


Daughter? Itu artinya kak Martha nganggap Rin itu anak perempuannya.


Hana melihat seperti abu di suatu wadah agak tertutup dengan satu lubang. "Sus, ini untuk apa?"


"Chincilla tidak bisa mandi dengan air, Nyonya. Ia mandinya dengan abu vulkanik," ujar Susan.


Rin menggendong chincilla lalu memasukkannya ke dalam tempat abu. Chincilla itu bergulir dan mandi abu.


Selesai Cici mandi abu, Hana mencoba mengelus kulitnya. "Lembut banget.''


...***...


Lucas pulang dalam keadaan lelah. Mendengarkan seminar seharian walaupun hanya duduk-duduk saja tetap bikin capek.


Bel apartemen berbunyi. Hana melihat interkom. Ada Martha dan terdengar suara Matthew juga Mark.


Ada apa mereka datang ke sini? Apa mereka mau mengambil Cici?


Hana membuka pintu. Ia mempersilakan Martha, Matthew dan Mark untuk masuk. Mark membawa sekotak donat dengan aneka topping buat Rin. Mereka lalu duduk di sofa.


Martha mengungkap alasan kedatangannya ke sini."Saya datang ke sini ingin menikahkan Matthew dengan Rin."