
Rin seperti biasa sedang menyekop tanah di taman belakang rumah untuk mencari cacing. Hana sedang menggendong Ren untuk berjemur matahari pagi.
Rin menemukan cacing. Ia mengambil cacing itu hendak menakut-nakuti Hana.
Hana langsung bilang, "Katanya Rin nggak mau nakut-nakutin mama lagi?"
Rin jadi teringat janjinya saat di rumah sakit. Ia lalu mengembalikan cacing itu ke tempat asalnya. Ia menggali tanah di tempat lain.
"Rin ... Mataharinya sudah terik. Kita masuk rumah. Besok lanjut lagi." Tidak bagus bagi kulit jika terkena sinar matahari di atas jam sepuluh. Bisa bikin kanker kulit jika nggak pake sunscreen.
Di dalam rumah ...
Hana meletakkan Ren di box bayinya. Ia lalu mencuci tangan Rin.
Begitulah hari-hari Hana setiap harinya. Berkutat di sekitar rumah. Mengurus Rin dan Ren. Sedangkan untuk Rei dan Rio, Hana cukup mengawasi mereka saja.
Ada notifikasi di ponsel Hana. Ada video baru dari kanal YouTube Rei's World.
Eh?
Video apa?
Rei kok nggak bilang-bilang?
Biasanya Rei mempertontonkan video yang akan ia upload ke Hana. Hana lalu memutar video itu. Ada suara nyanyian seorang pria. Suaranya sangat merdu. Ia sedang mengkover lagu Bidadari tak bersayap dari Anji.
Suara siapa ini?
Kenapa wajah dan tubuhnya tidak terlihat?
Hana penasaran. Ia bertanya ke Rei. "Rei, yang nyanyi barusan itu siapa?" Ia tidak mengenali suara itu.
Hana lalu mendengar suara seorang pria. Pria itu menutupi wajahnya dengan buket bunga. Pria itu menyanyikan lagu persis sama seperti di video terbaru Rei.
🎶
Sampai habis nyawaku.
Sampai habis usia.
Maukah dirimu jadi teman hidupku?
Kaulah satu di hati.
Kau yang teristimewa.
Maukah dirimu hidup denganku?
🎶
Eh?
Pria ini ngelamar aku?
Tapi aku sudah punya suami dan anak lima.
Pria itu memberikan buket bunga ke Hana.
Ehhhhh ...?
Apaaaaa ..?
Lucas yang nyanyi?
Tadi itu suara asli atau rekaman?
Hana terkejut. Ia tidak pernah mendengar Lucas bernyanyi. Sekalinya bernyanyi, suaranya bikin Hana jatuh cinta. Dan empunya suara itu suaminya.
🎶
Katakan "Yes I do".
Jadi teman hidupku.
Katakan "Yes I do".
Hiduplah denganku.
Jadi teman hidupku.
🎶
Lucas selesai bernyanyi. Ia menunggu jawaban Hana. "Yes, I do" nya mana?"
"No."
"No?" Lucas merasa ditolak.
"No but Yes."
Lucas memeluk Hana. Ia sangat senang dengan jawaban Hana.
"Bukannya aku sudah menjawab 'Yes, I do' saat kau melamar dulu."
"Aku cuma ingin mendengarnya lagi." Lucas nengecup kening Hana.
"Terima kasih buat bunganya." Hana senang menerima buket bunga.
"Perhatikan baik-baik buket bunganya." Lucas memberitahu Hana.
Hana melihat buket bunga itu lebih teliti. Buket bunga itu bukan buket bunga biasa. Buket bunga itu terbuat dari uang 100 dolar. Uang bergambar Benjamin Franklin, salah satu penemu dan juga diplomat Amerika. Mata uang dengan nominal paling besar.
Mata Hana langsung hijau. 100 dolar itu setara dengan hampir 15 juta rupiah.
Ada berapa bunganya?
Satu, dua, tiga ...
Hana menghitung.
"Ada seratus bunganya." Lucas memberitahu Hana.
100 x 100 \= 10.000
10.000 x 15.000 \= 150.000.000
150 juta?
Aku bisa beli rumah sangat sederhana di Indonesia.
Rei datang mendekat. "Ma, Rei boleh minta satu bunganya?
"Rei mau beli apa?"
"Untuk koleksi aja, Ma."
Hana memberi satu bunga ke Rei. Rin yang belum tahu nilai uang juga ikut-ikutan mengangkat tangannya. Meminta bunga.
"Rin mau juga?"
Rin menganggukkan kepalanya. Hana memberi satu bunga ke Rin.
"Rio, Ma? Satu bunga aja." Rio juga meminta bunga.
Hana memberi satu bunga ke Rio.
"Ma, Rio itu maunya satu ditambah satu ditambah satu ditambah ..." Tapi Rio langsung kabur ke kamarnya saat melihat Hana melototi dirinya.
Hana memajang buket bunga itu di kamarnya. Terlalu cantik untuk dibongkar.
Nanti aja kalau aku butuh duit, aku ambil.
"Aku nggak tau kalau itu suaramu. Selama ini aku pikir suaramu jelek sama kayak tarianmu. Ternyata suaramu ..."
"Bikin jatuh cinta, kan?"
"Iya."
"Karena itu aku jarang nyanyi. Aku takut semua wanita, juga pria yang mendengar nyanyianku bakal jatuh cinta ke aku."
"Sombong ..."
"Aku memang sombong dari dulu."
"Oh, iya. Tadi guru Rei dan Rio menelpon."
"Ada apa?"
"Ia memberitahu kalau Rei dan Rio bisa naik tingkat. Kayak akselerasi gitu."
"Aku pengennya anak-anak kita tetap bersekolah seperti biasa. Normal seperti anak-anak lain."
"Bukannya bagus kalau mereka bisa cepat naik tingkat?"
"Itu memang bagus karena otak mereka cerdas dan bisa mengimbangi pelajaran. Tapi Hana ... ada hal yang kurang. Dulu aku pernah ikut kelas akselerasi. Saat umurku baru dua belas tahun, aku sudah kuliah."
"Boong."
"Aku nggak boong. Kau bisa tanya papa dan mama. Saat aku kuliah dulu, teman-temanku sudah dewasa. Hanya aku aja yang masih anak-anak walaupun otakku genius. Ini fakta. Sedikit sombong juga, sih." Lucas tersenyum.
Lucas melanjutkan. "Pembicaraan mereka yang aku nggak nyambung. Mereka sudah membicarakan cinta, **** dan hal-hal yang berbau dewasa. Karena itu aku minta papa untuk sekolahin aku seperti anak-anak lain."
"Besok aku kabari guru mereka. Tapi apa sebaiknya kita juga tanya ke Rei dan Rio? Mungkin mereka mau ikut akselerasi."
"Mereka sempat memberitahuku soal itu saat aku mengantar mereka ke sekolah. Mereka juga ingin sekolah seperti anak-anak normal lainnya."
"Hana ..." Lucas melihat Hana yang terus melihat buket uang yang dibentuk bunga.
"Yang dilihat itu orang yang ngasih. Bukan bunganya." Lucas protes. Hana lalu melihat Lucas.
"Apa kau mau lagi buket bunga seperti tadi?"
Tidak perlu menunggu lama, Hana langsung menganggukkan kepalanya. Rin juga ikut menganggukkan kepalanya.
"Kalau buat Rin yang gambar George Washington aja."
(George Washington itu 1 dolar.)
Rin menunjukkan kedua telapak tangannya.
"Rin mau yang Alexander Hamilton?"
(Alexander Hamilton itu sepuluh dolar.)
Rin menganggukkan kepalanya.
"Rin kecil-kecil sudah tau uang." Lucas mengusap kepala Rin.
"Rin mau beli apa?" Lucas bertanya.
Rin menyentuh kaki kiri Ren. Ia lalu menyentuh kakinya.
"Rin mau beli kaki buat Ren?"
Rin menganggukkan kepalanya.
Air mata Hana menetes. Begitu juga Lucas. Mereka pikir kalau Rin akan minta dibelikan kerangka manusia lagi.
Ren ...
Kak Rin baik, ya.
Ia mau beliin Ren kaki.
"Sepuluh dolar masih kurang buat beli kaki palsu. Nanti Papa tambahin lagi."
Hana menaruh Ren di box bayinya. Ia menepuk-nepuk pantat Ren agar cepat tidur. Lucas juga menaruh Rin di box bayinya. Box bayi Rin dan Ren berdempetan. Jadi, Rin bisa menyentuh Ren. Rin memegang tangan Ren. Seolah-olah menenangkan Ren. Mereka akhirnya tidur dalam posisi bergandengan tangan.
Lucas membenarkan tangan Rin. Ia takut tangan Rin terkilir saat bergerak.