Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 115 Hold My Hand



Di rumah Albert.


Albert mendengar bel berbunyi. Ia membuka pintu.


Tak ada siapa-siapa.


Albert mendengar suara tangis bayi. Ia mencari asal suara. Ternyata ada bayi mungil dalam keranjang di lantai.


Albert melihat sekitarnya. Tetapi tak ada siapapun. Merasa kasihan, Albert membawa masuk bayi itu.


Albert hendak menelpon 911. Tetapi ia mengurungkan niatnya. Ia malah pergi ke supermarket untuk membeli susu formula, botol bayi, popok dan berbagai keperluan bayi. Ia akan merawat bayi itu.


Bayi itu meminum susu buatan Albert. Albert memutuskan untuk menjadi kakek bagi bayi itu dan menamainya Marie, seperti nama anak perempuannya yang telah pergi meninggalkan rumah.


Albert merawat, membesarkan dan menyekolahkan Marie.


Saat ini Albert menunggu Marie yang hendak pulang dari preschool-nya.


"Gyandpa ..." Marie berlari dan memeluk kakeknya. Memberikan senyum termanisnya untuk Albert.


Suatu hari bel pintu berbunyi. Marie membuka pintu. Ia tidak mengenal wanita yang berada di depannya itu.


"Siapa kamu?" Wanita itu bertanya. Ia juga tidak mengenal anak kecil itu.


"Mayie ..."


Albert menuju ke depan rumah. Ia melihat Marie, putrinya, telah pulang ke rumah. Albert memeluk Marie Besar.


Anakku Marie sudah pulang ke rumah.


Marie Besar tinggal bersama Albert. Marie kecil juga menyukai Marie Besar. Ia seperti punya kakak perempuan.


Sampai suatu ketika datang orang yang mengklaim kalau ia adalah pemilik rumah.


"Ini rumah saya." Albert tidak merasa telah menjual rumahnya.


"Putri Anda yang telah menjualnya kepada saya." Pria itu menunjukkan sertifikat rumah.


Marie menjual rumah?


Dengan terpaksa Albert keluar dari rumah sambil membawa Marie kecil. Ia tak punya cukup uang untuk menyewa motel atau rumah. Ia menuju ke bawah jembatan.


"Iya." Albert mulai membuat rumah kardus. Marie kecil membantu mengambilkan kardus. Albert merasa bersalah. Jika saja saat bayi Marie ia taruh di panti asuhan, mungkin Marie tidak akan menderita.


Albert dan Marie tidur di dalam rumah kardus. Saat malam turun hujan deras. Rumah kardus bocor. Air merembes masuk. Albert dan Marie terbangun.


"Gyandpa,, yihat. Aiy mancuy." Marie menunjuk tetesan air hujan yang menetes sangat deras.


Albert segera mengambil terpal dan berhasil menutup kebocoran. Ia mengganti pakaian Marie yang basah.


Keesokkan harinya.


Albert berencana membeli bahan makanan. Ia memasuki supermarket dengan uang lima dolar di dompetnya. Ia hendak mengutil camilan untuk Marie. Tetapi ia menaruhnya kembali saat hati kecilnya mengingatkan dirinya. "Albert, jangan lakukan."


Seorang staff supermarket melihatnya. Albert sudah khawatir ia akan dilaporkan ke polisi. Ternyata tidak. Staff supermarket itu malah membelikan sembako dan memberikan uang untuk Albert. Albert sangat berterima kasih.


Dalam perjalanan pulang, Albert menemukan sebuah troli. Ia menaruh barang belanjaan dan Marie.


Hari berikutnya.


Albert mencoba untuk mengumpulkan kardus bekas untuk ia jual kembali. Ia menemukan boneka Barbie bekas yang kumal dan memberikannya ke Marie.


"Thank you, Gyandpa." Marie memeluk erat boneka Barbie itu.


Albert ingin membelikan mainan baru. Tetapi saat ini uangnya tidak ada.


Tiba-tiba turun hujan. Mereka berteduh di bawah pohon yang rindang. Marie kecil menyanyikan lagu pengusir hujan. "Yain Yain Go Away. Come again anothey day." Tak lama kemudian hujan berhenti. Marie menunjuk langit. "Gyandpa, yainbow."


Mereka kembali ke rumah kardus.


Suatu hari dinas sosial datang. Mereka hendak mengambil Marie karena Albert dirasa tidak mampu untuk merawat Marie.


Albert dan Marie berpisah. Marie dibawa ke panti asuhan. Marie merindukan Albert. "Gyanpa, Mayie kangen gyandpa."


Marie lalu kabur dari panti asuhan. Ia menuju rumah kardus. Tetapi ia melihat Albert yang terbaring kaku.


Marie mencoba membangunkan Albert. "Gyanpa, bangun. Jangan tiduy teyus."


"Gyandpa, nanti yejekinya dipatuk ayam." Marie menyentuh tubuh dingin kakeknya. Marie menyerah. Ia ikut berbaring di sebelah Albert sambil memeluk Albert.


Sejak hari itu Albert dan Marie tidak pernah terpisahkan lagi.