Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 23 Masa Lalu Biarlah Masa Lalu



🎶🎶🎶


Masa lalu biarlah masa lalu


Jangan kau ungkit


Jangan ingatkan aku


Masa lalu biarlah masa lalu


🎶🎶🎶


Suara dari biduanita dangdut Inul Daratista terdengar oleh Robert. Ia mendekati asal suara itu. Dari ponsel yang sedang dipegang Rio.


“Rio suka dangdut?” tanya Robert.


“Bukan Rio. Ini game buat mama. Mama minta dibikinin game rhythm yang isinya lagu dangdut dan lagu India.” Rio saat ini sedang finishing game untuk Hana.


Selama ini kebanyakan hanya ada game rhythm lagu Korea dan lagu barat di Google Playstore. Hana ingin ada lagu yang ia suka yang ia bisa mainkan di ponselnya. Ditambah dengan music video lagu tersebut. Game yang dibuat Rio hanya untuk kepentingan pribadi. Jadi, tidak akan ada tuntutan royalti atau tuntutan hukum dikemudian hari.


Hana bukannya ngefans berat dengan dangdut tapi ia menyukai lagu Inul yang satu ini. Lagu yang selalu ia dengarkan di acara kondangan.


“Ma ... Sudah jadi.” Rio membawa ponsel Hana. Ia memberi tahu Hana cara memainkannya.


Hana mencoba game yang baru saja dibuat Rio. Ia menyentuh tombol-tombol mengikuti irama. Selain lagu dangdut. Ia juga menyuruh Rio memasukkan lagu-lagu India, lagu-lagu Korea juga lagu–lagu Jepang.


“Mama download musik videonya di Youtube lalu mama tinggal upload musik videonya. Nanti ia akan loading dan bisa mama mainkan gamenya.”


“Rei mau juga.” Rei menyerahkan ponselnya ke Rio.


Sekali lagi Robert dibuat kagum oleh anak-anak Hana. Kapan lalu Rin. Sekarang Rio.


Kecil-kecil sudah bisa bikin game.


“Hana ... Dulu waktu hamil kau makan apa sampai-sampai anak-anakmu itu genius kayak gini.”


“Aku makan cacing hidup.”


“Cacing hidup?” Robert terkejut.


Hana tertawa. Robert percaya dengan omongannya.


“Boong, ya?”


“Ya ... iyalah. Kalau aku makan cacing, bisa-bisa aku masuk rumah sakit dan cacingan.”


Rio mendekati Robert.


“Om Roboh kita main ini.” Rio membawa pop-it. Game yang terbuat dari silikon yang dimainkan dengan cara menekan lingkaran-lingkaran di dalamnya. Bunyinya seperti saat kita meletuskan gelembung di bubble wrap.


Hana memang membatasi pemakaian gadget untuk anak-anaknya. Tidak baik bagi mata mereka yang masih muda memandang layar gadget terlalu lama. Harus diistirahatkan beberapa saat.


Rio juga memang sering mengubah nama-nama orang. Kadang Rei yang seharusnya Reira, ia akan mengubahnya jadi Reina. Rin dijadikan Rini. Bahkan papanya Lucas kadang ia ganti jadi luka dalam.


Sedangkan Rei juga tidak mau kalah, Rio ia ganti jadi Rio de Janeiro, salah satu kota di Brazil.


Mereka bertiga bermain. Robert kalah. Ia harus menerima hukuman.


“Om Roboh kita kasih hukuman apa, Rei?” Rio berbisik di telinga Rei.


“Nyanyi?”


“Hmmm ... Nari?” Rio memberi usul lain.


“Nari aja.”


“Om Roboh harus nari.”


“Okay.” Robert berdiri. Ia bersiap untuk menari. Rei dan Rio tidak berharap lebih dari tarian Robert. Secara papa dan mamanya itu sangat kaku saat menari.


Robert memainkan lagu hip hop barat. Ia mulai menari. Mata Rei dan Rio memandang takjub gerakan tari Robert.


Rei yang memang jago menari ikut menari. Ia seperti menemukan kembali papa Luke yang sudah tiada.


Sekali lagi Robert dibuat kagum. Ia melihat Rei yang menari bersamanya. Gerakan tari Rei bukan gerakan tari yang biasa dilakukan oleh anak-anak. Satu lagu selesai. Rei dan Robert duduk dan beristirahat.


“Rei jago banget narinya.”


“Terima kasih, Om.”


“Hari minggu ini ada lomba tari di kota ini. Rei mau coba ikut?”


Rei bertanya ke mamanya, “Ma ... Rei boleh ikut?”


Hana menganggukkan kepalanya.


“Tapi tanya papa juga.” Walaupun sudah pasti jawaban Lucas juga iya. Hana dan Lucas selalu mendukung apa yang anak-anak mereka mau asalkan itu sesuatu yang positif. Hana dan Lucas memang tidak bisa mengajari Rei menari. Tapi mereka bisa mencarikan guru tari atau mentor untuk Rei.


Saat Lucas datang, beristirahat sejenak dan pada saat mereka makan malam, Rei bertanya, “Pa ... Hari minggu nanti ada lomba. Rei mau ikut. Boleh, ya, Pa? Please ...”


Rei sengaja membuat wajah yang sedikit memelas dengan puppy eyes-nya. Membuat Lucas tidak tega untuk melarang Rei ikut lomba.


“Boleh ...”


Rei senang bukan main. Ia memang ingin mengikuti perlombaan menari di Amerika. Walau hanya skala kecil tapi Rei tahu akan ada banyak bakat tersembunyi.


Rei mulai berlatih. Robert membantu gerakan Rei. Robert memang menyukai menari. Jika ia tidak memilih menjadi tattoo artist, mungkin ia akan jadi koreografer atau dancer.


Hana juga sudah sering melihat tarian Robert. Sejak mereka sekolah, jika ada pertunjukkan bakat, Robertlah yang maju untuk menari. Dan kemampuan menarinya membuat Robert punya banyak fans di sekolah. Mereka sering menitip surat untuk Robert ke Hana karena mereka tahu Hana cukup dekat dengan Robert.


Tapi ada juga yang cemburu melihat kedekatan Haan dan Robert. Sampai-sampai mereka pernah membully Hana. Tapi Hana memberi mereka pengertian kalau ia dan Robert hanya sebatas teman. Atau hanya Hana saja yang berpikiran seperti itu? Atau mungkin Hana yang kurang peka dengan perasaan Robert.


Hari Minggu. Hari H lomba menari.


Rei diantar satu rombongan. Ada Hana, Lucas, Rio, Rin, Lucy, Lukman, Mama Berta dan Robert. Lucy dan Lukman sangat bersemangat. Selama ini mereka belum pernah melihat Rei mengikuti lomba menari.


Di panggung, Rei mulai menari. Para juri memandang takjub dengan gerakan tari Rei. Rei selesai menari dengan diikuti tepuk tangan meriah dari penonton. Terutama Lucas.


“She is my daughter.” Lucas bangga punya anak seperti Rei.


Juri juga bertepuk tangan sambil berdiri. Rei membungkukkan punggungnya. Lalu turun dari panggung. Rei bisa bersantai karena ia sudah selesai menari. Ia lalu memperhatikan kontestan lainnya. Melihat gerakan tari mereka. Ia juga sudah menyuruh Rio untuk merekam gerakan tarinya dan kontestan lain untuk ia pelajari lagi nantinya.


Kemudian pengumuman pemenang. Rei berharap ia bisa menang walaupun dalam hatinya ia ragu. Ada yang lebih jago menari dari dia.


“And the winner is Justin.” MC mengumumkan pemenangnya.


Rei kalah. Ia hanya meraih juara tiga. Mata Rei melihat piala yang dipegang Justin.


“It’s okay.” Lucas memeluk Rei. Ia tahu Ri kecewa. Rei mulai menitikkan air mata. Lucas menggendongnya.


“It’s okay. Bukan karena tarian Rei jelek. Malah papa rasa tarian Rei itu yang terbaik. Tapi juri-juri punya penilaiannya sendiri.” Lucas menepuk-nepuk punggung Rei.


“Rei mau es krim?” Lucas melihat ada mobil van penjual es krim.


Rei menganggukkan kepalanya.


Lucas yang masih menggendong Rei membawa Rei menuju truk es krim.


“Rei mau rasa apa?”


“Strawberry.”


“One strawberry, one vanila.” Lucas memesan es krim untuk Rei dan dirinya.


“One chocolate.” Rio ikut memesan es krim.


“One green tea.” Hana juga mau es krim.


Akhirnya semua membeli es krim.