
"Mama ..." Rin sudah bersiap-siap. Tangan kanannya sudah membawa sekop mini. Ia ingin ke taman belakang rumah. Mencari cacing yang berada di dalam tanah.
"Pake ini dulu, Rin." Hana membawa sarung tangan kecil untuk Rin supaya tangan Rin tidak kotor. Secara Rin masih sering makan dari tangannya jika ia sering gagal mengambil makanan dengan sendok atau garpu. Hana tak mau Rin tertelan telur cacing yang bisa bikin perut Rin cacingan dan mengakibatkan stunting.
Rin langsung jongkok saat ia berada di spot favoritnya. Tempat ia sering mendapatkan cacing.
Rin menyekop dan menyekop. Tapi tidak terlihat ada cacing sedari tadi.
Rin ...
Cacingnya sudah sembunyi.
Takut dipegang Rin.
Rin lalu berdiri dan menyekop tanah di tempat lain. Tapi tidak ada tanda-tanda kemunculan cacing.
Rin memandang Hana. ~ Mama ... cacingnya nggak ada.
"Rin ... Mama lapar. Kita udahan aja cari cacingnya."
Rin lalu mendekati ibunya.
"Cacingnya takut sama Rin. Makanya cacingnya sembunyi."
Hana mengambil camilan dan mulai makan. Napsu makannya mulai bertambah sejak Lucas membelikannya vitamin yang juga bisa menambah napsu makan.
Hana juga menyuapi Rin. Rin sudah boleh makan seperti makanan biasanya. Tidak seperti dulu yang terbatas dan hanya bisa makan makanan tertentu.
Robert datang.
"Hana ... Aku butuh bantuanmu."
"Bantuan apa? Kalau uang aku cuma bisa bantu sedikit."
"Bukan uang. Tapi yang lain."
"Apa?"
"Jadi istriku. Rin juga. Jadi anakku."
"APA!?"
"Sehari aja. Untuk mengelabui wanita gila yang sering kejar-kejar aku." Robert mengatupkan kedua tangannya.
"Aku harus beritahu Lucas dulu. Kalau ia lihat aku sama kamu aja nanti ia marah."
Hana memberitahu Lucas melalui pesan singkat ketika ia mencoba menelpon Lucas tapi tidak diangkat yang artinya Lucas sedang sibuk.
"Okay. Jadi bagaimana?" Hana membantu Robert.
"Kita nanti makan di restoran. Kalau wanita itu datang, aku bakal bilang ke dia kalau aku sudah punya istri dan anak."
"Tapi yang jadi masalah itu Rin. Rin itu biasanya panggil kamu Om. Rencananya bisa gagal."
"Rin. Coba panggil papa." Robert mengajari Rin.
Rin melihat pintu rumah. Ia mengira papanya datang.
"Panggil papa, Rin."
"Papa."
"Jangan panggil Om, ya." Semua rencana Robert terletak di pundak Rin.
Robert mengajak Hana dan Rin ke restoran. Seperti yang diduga Robert, Scarlet, wanita yang menyukai Robert mendatangi meja mereka.
Who is she? ~ Scarlet melihat Hana.
"Scarlet ... this is my wife and daughter. Dan kami sedang mengharapkan anak kedua." Robert menyentuh perut Hana.
"Papa ..." Rin mengangkat kedua tangannya dari kursi anak. Ia ingin dipangku Robert. Hana juga menggelayutkan tangannya ke lengan Robert. Ia ikut berakting.
Scarlet lalu meninggalkan mereka.
"Robert ...ia itu kelihatannya wanita baik-baik."
"Ia itu gila. Sejak aku ketemu dia, dia itu selalu buntuti aku. Stalker berat."
"Itu artinya ia tahu siapa aku."
"Tidak. Ia tidak tahu. Kami baru aja ketemu beberapa hari yang lalu."
"Tapi bukannya lebih baik jika kita menikah dengan orang yang mencintai kita?"
"Aku nggak mau nikah sama dia. Aku itu mau nikahnya sama ...."
"Siapa?"
Kamu ....
"Aku lapar. Kita makan." Robert dengan telaten menyuapi Rin.
"Rin pintar, ya. Mau bantuin Om."
"Papa ..." Rin tersenyum.
Seandainya aku bisa jadi papa Rin yang sebenarnya.
Selesai makan Robert mengantar Hana pulang. Robert juga sudah membungkus makanan untuk orang di rumah Hana. Sebagai tanda terima kasih atas bantuan Hana dan Rin.
Hana dan Rin masuk ke dalam rumah.
"Papa ..." Rin menghampiri Lucas yang sudah berada di rumah sedari tadi.
"You go out with Robert?" Lucas tidak terlalu suka jika Hana hanya pergi berdua bersama Robert. Rin tidak masuk hitungan karena ia masih terlalu kecil.
"Tadi aku sudah nelpon dan kirim pesan juga. Apa pesanku belum dibaca? Aku cuma membantu Robert."
"Kalau nanti Robert minta tolong kau menikah dengannya, kau mau?"
"Sebentar ... apa kau cemburu?" Hana mendengar nada suara yang tidak biasa dari Lucas.
"Iya. Aku cemburu."
Rin yang di dalam dekapan Lucas memeluk Lucas agar emosinya mereda.
"Rin aja tahu kalau aku itu cemburu."
"Maaf ... Aku seharusnya menunggu persetujuanmu. Tapi aku malah langsung pergi sama Robert."
"Menolong orang itu boleh. Aku nggak melarang. Tapi lihat lagi situasi dan kondisinya."
"Baiklah." Hana lalu masuk ke dalam kamar mandi. Hendak membasuh tubuhnya.
"Rin ... Ayo mandi sama Mama." Hana mengajak Rin mandi bersama.
"Aku?" Lucas juga ingin mandi bersama Hana.
"Kamu, kan sudah mandi." Hana bisa melihat piyama di tubuh Lucas yang berarti Lucas sudah membersihkan tubuhnya.
"Aku bisa mandi sekali lagi."
"Nggak."
"Nggak nolak?"
"Nggak mau. Aku cuma mau mandi sama Rin." Hana mengambil Rin dari gendongan Lucas. Lalu menutup pintu kamar mandi.
Segarnya ....
Hana buru-buru mengelap tubuh Rin. Ia juga segera mengelap tubuhnya. Air terasa lebih dingin sore ini.
Rio mengetuk pintu kamar orang tuanya.
"Masuk aja." Lucas berkata.
Rio membuka pintu lalu masuk.
"Pa ... Besok Rio mau ke rumah sakit lagi. Rio sudah buatin anti virus yang baru."
"Boleh. Besok papa antar ke rumah sakit. Oh, iya, Rio. Rumah sakit mau bikin selebaran. Rio bisa jadi desainer-nya?"
"Bisa, Pa. Kasih aja materinya ke Rio. Nanti Rio bikinin."
"Nanti Papa minta ke adminnya rumah sakit."
Rio lalu kembali ke kamarnya. Saat ini ia sedang membuat game dengan karakter kerangka. Belum banyak game dengan karakter kerangka. Adanya biasanya wallpaper. Rio membuat game ini untuk Rin. Ia berencana menjualnya kalaupun tidak laku, ya, tidak apa-apa.
Rin pasti senang.
Keesokkan harinya Rio menunjukkan game barunya ke Rin. Rin terkesima melihat kerangka manusia menari.
Ada juga menu belajar berhitungnya.
Satu tulang, dua tulang. Tulang-tulang berjejer sesuai jumlah angka. Selain dalam bahasa Indonesia juga tersedia dalam bahasa Inggris.
Hana melihatnya.
"Rin ... Kak Rio baik, ya. Ia bikinin game buat Rin, lho. Terima kasihnya mana?"
Rin lalu menghampiri Rio dan memeluknya. Rin masih belum bisa mengucapkan terima kasih. Jadi, ia hanya bisa memeluk Rio. Memberi kecupan di pipi Rio. Rio langsung mengelap pipinya. Rin tidak hanya menempelkan bibirnya di sana tapi juga air liur yang tanpa sengaja ikut keluar saat ia mencium Rio.
"Rio ... Ayo. Kita pergi sekarang." Lucas dan Rio lalu pergi ke rumah sakit.
Rio mulai menginstal anti virus terbaru. Masih belum diketahui siapa pelaku yang mengacaukan sistem komputer di rumah sakit tapi setidaknya sekarang pihak rumah sakit bisa bernafas lega karena ada Rio.