
Lucas membaca detail surat perjanjian surogasi Hana dan Richard. "Sepertinya Richard memiliki pengacara yang bagus. Poin-poin dalam kontrak dibuat dengan baik." Lucas lalu membaca surat perjanjian itu sampai habis.
Poin utamanya seluruh biaya ditanggung oleh Richard. Tentu saja. Karena Richard yang menginginkan anak dari Hana. Kedua jika memang ada pembaruan kontrak, akan dibuat kontrak baru.
Hana mulai mempersiapkan kepergiannya ke Amerika. Ia akan menjalani proses bayi tabung di sana. Mengemas perlengkapan Rin dan Ren. Meminta bantuan mertuanya untuk menjaga Rei dan Rio karena masih harus bersekolah.
Sedangkan Richard mengurus semua hal dengan bantuan asistennya. Mulai dari visa, tiket, tempat tinggal, pemilihan rumah sakit, termasuk dokter.
Akhirnya saat hari keberangkatan Hana. Richard sudah menyewa satu baby sitter yang bisa berbahasa Inggris untuk menjaga Rin. Sedangkan untuk Ren, mama Berta yang akan menjaganya.
Hana memeluk Rei dan Rio. Kemudian mertuanya. Juga orang tua Richard. Terakhir Lucas. Lucas memeluk Hana sangat erat dan lama. Mereka akan berpisah dalam waktu yang cukup lama. Semua berdoa untuk keberhasilan bayi tabung.
Membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di Amerika. Tetapi untung saja Richard membeli tiket bisnis. Ruang duduknya nyaman. Rin juga langsung tidur saat berada di pesawat.
Sedangkan mama Berta yang menjaga Ren memberi Ren sedikit air minum untuk menghilangkan tekanan udara di telinganya saat lepas landas.
"Tidurlah." Richard melihat Hana yang menguap. "Rin dan Ren sudah tidur dari tadi."
Hana menutup matanya dan tertidur. Richard melambaikan tangannya di depan wajah Hana. Saat Hana tidak bereaksi, ia mendekati Hana dan mengecup kening Hana. ~ Hana, saat ini aku hanya bisa mengecup keningmu. Aku tidak berharap lebih dari ini. Kau bersedia jadi ibu dari anakku, aku lebih dari bersyukur.
Beberapa jam kemudian mereka tiba di Amerika. Mobil pribadi dan supir pribadi Richard sudah menunggu mereka. Akhirnya mereka tiba di apartemen Richard.
Keesokkan paginya Rin bangun dan melihat pemandangan dari apartemen yang berada di lantai tiga puluh. Rin memandang takjub gedung tinggi di depan apartemennya. "Mama, heyikoptey." Rin melihat helikopter melintas di langit.
"Rin, sarapan," ajak Hana. Chef pribadi Richard baru saja membuat sarapan untuk penghuni rumah.
Tapi tentu saja tidak ada kata istirahat dalam kamus Richard. Ia mengadakan zoom meeting untuk staf hotelnya.
Hana melihat Rin yang sudah akrab dengan baby sitter-nya. ~ Richard nggak salah pilih orang.
Seharian itu Hana hanya bersantai sambil sesekali melakukan video call dengan Rei dan Rio.
"Yio." Ren memanggil kakak kesayangannya.
"Kakak Rio." Rio meralat ucapan Ren.
"Karma itu. Rio juga nggak mau panggil kakak ke aku," ucap Rei.
"Kakak Yei." Ren memanggil kakak ke Rei.
Keesokkan harinya Richard membawa Hana ke dokter. Dokter mengecek kondisi Hana dan Richard. Kondisi Hana baik. Begitu juga Richard.
"Kenapa kalian tidak mencoba cara alami? Sekali kalian melakukannya, akan jadi anak. Tidak perlu membuang banyak uang." Dokter melihat kondisi Hana dan Richard yang sangat subur. Tidak ada tanda-tanda kekurangan seperti penyumbatan atau jumlah dan kualitas sper ma Richard.
"Kami tidak menikah. Hana juga sudah punya suami." Richard menjelaskan. Kalaupun Richard ingin secara alami, ia harus menikahi Hana dulu.
"Jika seperti itu kami akan memulai prosedurnya."