
Lukman mengajari Ren kunci D. Setelah Lukman merasa Ren cukup mampu, ia mengajari keseluruhan lagu Happy birthday.
"Sekarang kunci G, sekarang kunci D." Lukman memberi arahan.
"Kunci D, kunci G." Lukman mengarahkan sambil memberi contoh.
Selesai satu lagu, mereka mengambil break sejenak.
"Opa, Yen kayaknya harus panjangin kuku jayi Yen." Ren menunjukkan kuku jarinya yang pendek.
"Tapi nanti guyu Yen di sekolah Yen mayah." Ren ingin memanjangkan kuku jarinya tapi jika panjang, guru di sekolahnya akan memarahinya
Lukman lalu mengambil pick gitar untuk Ren. "Ren bisa pakai ini."
Ren menerima pick gitar dari Lukman. "Teyima kasih, Opa." Ren melanjutkan belajar gitar.
Siang harinya.
Ren memegang gitar kecilnya. Ia akan mempertontonkan hasil belajar gitarnya dengan Lukman. "Oma, yihat."
Ren mulai memetik gitarnya.
"Seyamat siang, Oma." Ren mulai bernyanyi. Hari ini Lucy dan Lukman tidak berulang tahun. Jadinya Ren mengubah lagu Happy Birthday menjadi lagu Selamat Siang.
"Seyamat siang, Opa."
"Seyamat siang. Seyamat siang."
"Yen sayang Oma Opa."
Ren mengakhiri penampilannya bersama gitar. Walaupun ada nada yang masih fals tapi cukup lumayan.
"Encore. Encore." Lucy bertepuk tangan . Ia meminta Ren menyanyi dan memainkan gitar lagi.
"Encoye itu apa Oma? Encok? Oma sakit pinggangnya? Mau Yen pijitin?" Ren masih belum tahu istilah encore.
"Encore itu artinya penampilan tambahan. Oma mau dengar Ren nyanyi lagi." Lucy menjelaskan.
Ren menjadi percaya diri. Ia tahu sekarang ini pertunjukkannya jauh dari kata sempurna, masih ada nada yang meleset. Tapi dorongan dari Lucy dan Lukman membuatnya bersemangat untuk belajar.
Ren sekali lagi menyanyikan lagu Selamat Siang buat Lucy dan Lukman. Lucy dan Lukman bertepuk tangan mengikuti pertunjukkan Ren.
Selesai perform, Ren menelpon Hana. "Mama yihat. Yen tadi belajay gitay sama opa." Ren mulai menggenjreng gitarnya. Sekarang ia menyanyikan lagu Selamat Siang Mama.
Hana melihat dan mendengarkan penampilan Ren. Entah kenapa ada rasa haru di hatinya.
Ricka ikut bertepuk tangan dengan lagu yang terdengar familiar di telinganya.
Saat Ren melihat Ricka juga menonton, ia juga menyebut nama Ricka dinyanyiannya.
Ren menghirup aroma sedap masakan. Lukman di dapur sedang menumis bawang putih.
"Mama, Yen cium masakannya Opa. Yen jadi lapay. Yen mau makan duyu. Bye bye Mama. Bye bye Yicka."
"Bye bye."
Panggilan video mereka terputus.
Ren segera berlari ke dapur. Ini adalah salah satu alasan mengapa ia suka menginap di rumah Lucy. Masakan buatan Lukman yang super sedap.
"Opa masak apa?" Ren melihat ajak jauh karena jika berada dekat Lukman akan mengganggu dan berbahaya karena kompor menyala.
"Nasi goreng sosis." Lukman memasukkan potongan sosis dan menumisnya. Ia lalu nasi putih ke dalam wajan. Menambahkan lada, garam dan gula. Juga saus tomat.
"Hayum." Ren menghirup lagi aroma masakan yang menggugah seleranya.
"Yicka juga bisa masak."
"Ricka bisa masak apa?" ucap Lukman membelakangi Ren. Fokusnya saat ini adalah wajannya.
"Hambuygey."
Ricka memasak itu bukan berarti memasak sungguhan. Tetapi masak-masakan. Richard yang membelikan mainan masak-masakan yang bagus.
"Tapi Yen makan, nggak kenyang." Tentu saja. Karena makanannya palsu, Ren cuma makan angin (Ia berpura-pura memakan hamburger buatan Ricka).