
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Rei sehari-harinya sibuk dengan latihan menarinya. Ia ingin berkarier menjadi idol di Korea. Menyempat belajar vokal dan rap. Rio juga sibuk. Ia setiap hari video call dengan Alex untuk belajar tentang IT.
Hana juga sudah menyapih Ricka. Umur Ricka sudah setahun lebih.
Ada satu yang menjadi pikiran Hana. "Lucas, apa Ricka itu bisu?"
"Kenapa bisa berpikiran seperti itu?"
"Sampai sekarang Ricka nggak pernah ngomong mama atau papa."
"Tapi kalau kamu perhatikan. Waktu Ricka tidur, ia sering ngoceh."
"Bener juga."
"Sekarang Ricka lagi nabung kosakata. Nanti kalau ia sudah mau ngomong, bakal keluar semua kata-katanya."
Hana menyimpannya dalam hati. Setiap anak berbeda-beda waktunya untuk merangkak, berjalan, berbicara. Jadi tidak bisa disamaratakan.
Rin dan Ren sudah masuk playgroup. Ren mendapat tugas dari sekolahnya untuk berjualan di enterpreneur day. Hari pengusaha.
"Jualan apa ya bagusnya?"
"Makanan." Ren memang menyukai makanan.
"Makanan apa?"
"Sostel."
"Sostel?"
Bikin sostel cukup gampang. Tinggal tusuk sosis, masukkan telur. Biarkan alatnya yang bekerja.
Hana mulai berbelanja bahan-bahan untuk sosis telur. Sosis satu pack. Telur satu piring.
Saat di rak berisi keju. Mungkin ketel (keju telur) juga bagus.
Hana membeli keju biasa dan keju quick melt (cepat meleleh - mirip Mozarella dengan harga terjangkau).
Akhirnya Ren berjualan sosis telur. Hana membuat poster sostel, ketel dengan model Rin dan Ren.
Hana sibuk karena Ren pergi entah ke mana. "Kakak Ren ke mana ya? Mama yang jualan jadinya." Hana berbicara dengan Ricka yang berada di stroller.
"Satu sostel." Pesanan dari pembeli.
Hana melayani pembeli. Sedangkan Ricka memperhatikan stand jualan yang berada di sebelah mereka yang tidak laris. Sepertinya belum ada pembeli.
Calon pembeli datang tetapi tidak membeli apa-apa. Penjual itu melihat ke stand Hana yang laris.
Jualan Hana sold out. Hana melihat Ricka ingin turun dari stroller-nya. "Ricka mau turun?"
Ricka menunjuk stand jualan tetangga mereka. Mereka berjualan bihun goreng. "Ricka mau beli?"
Hana membeli satu pack. Tapi ia malah terkejut melihat Ricka tiba-tiba berbicara. "Yima Yibu."
Aku nggak salah dengar?
"Yima Yibu." Ricka bersuara dengan lantang. Satu persatu pembeli mulai datang. Jualan mereka juga ludes.
Selesai mengepack peralatan, mereka pulang. Hana mengirim video Ricka yang berbicara ke Lucas dan Richard.
Richard tidak masalah jika Ricka terlambat berbicara karena ia dulu juga sama. Rebecca, mama Richard pernah memberitahunya jika ia lambat berbicara dan punya kekhawatiran jika Richard bisu. Tapi kenyataannya tidak.
Mulai hari itu Ricka jadi mengoceh. Sampai suatu ketika ia memanggil Richard "papa". Richard senang bukan main.
Tapi Rin memberitahu Ricka. "Bukan papa, tapi om."
Hana lalu berbicara berdua dengan Rin. Menurutnya sudah waktunya memberitahu Rin bahwa Richard adalah ayah Ricka yang sebenarnya.
"Mama mau beritahu ke Rin. Om Richard itu papanya Ricka."
Hana melihat Rin yang bingung. "Mama belum bisa jelaskan secara detail. Tetapi Om Richard itu papanya Ricka."
"Papa Lucas?"
"Papa Lucas juga papanya Ricka. Ricka punya dua papa."
Rin masih bingung. Sedangkan Hana belum bisa menjelaskan secara rinci kepada Rin karena Rin masih terlalu kecil.