Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 169 Semuanya Untuk Ricka



Malam hari.


"Papa." Ricka menunjuk rumah sebelah. Ia ingin bertemu ayahnya.


"Bentar, ya. Mama telpon papa dulu." Hana mencoba menghubungi Richard. Richard mengangkat ponselnya.


"Kakak ada di rumah? Ricka mau ke sana."


"Papa." Ricka menyapa ayahnya


"Aku ada di rumah. Tapi aku nggak bisa jaga Ricka malam ini."


Hana melihat Ricka. "Papa Richard lagi sibuk. Ricka nggak bisa nginap di rumah papa Richard. Kita datang sebentar trus pulang, ya."


Ricka menganggukkan kepalanya. Ia paham jika ayahnya sibuk.


"Aku sama Ricka datang ke sana, Kak. Habis itu aku bawa Ricka pulang."


Hana bersama Ricka mengunjungi Richard.


Untunglah rumah kami bersebelahan. Jadi, jalan kaki sebentar sudah sampai.


Hana dan Ricka masuk ke rumah Richard dan langsung menuju ke ruang kerja Richard.


"Papa." Ricka berjalan menuju ke Richard. Richard yang sedang duduk langsung memangku dan mencium Ricka.


Saat ini Ricka yang jadi alasannya untuk tetap semangat menjalani hidup.


Hana duduk di sofa. Ia melihat interaksi Richard dan Ricka. Sesekali Ricka tertawa.


Richard lalu berdiri sambil menggendong Ricka. Ia berjalan menuju Hana. "Ricka sama Mama dulu, ya."


Richard kembali ke mejanya. "Hana, di atas meja itu ada map berisi brosur-brosur wahana permainan."


Hana melihat map berwarna merah di depannya.


"Bawa pulang ke rumah. Rei, Rio, Rin dan Ren mau yang mana. Aku rencananya akan merombak kamar di lantai dua untuk jadi ruang bermain," ucap Richard.


Hana membuka lembar lembar plastik map itu. Ada satu set lengkap seperti permainan untuk anak-anak di mall.


Hana melihat harga yang tertera. Ada yang dua puluh juta untuk tipe kecil. Ada yang seharga lima puluh juta untuk yang lengkap. Bahkan delapan puluh juta untuk perosotan raksasa yang harus diisi udara terlebih dahulu.


"Kak, aku bawa Ricka pulang. Nanti aku kabari lagi." Hana pamit pulang menggendong Ricka sambil membawa map.


Sesampainya di rumah, Hana menaruh Ricka di box bayinya. Ia memastikan Ricka benar-benar tidur sebelum ia pergi keluar kamar. Ia kemudian mengumpulkan semua anak-anaknya.


Rei, Rio, Rin, Ren termasuk Matthew dan Mark melihat brosur itu.


"Rei mau yang ini." Rei menunjuk wahana permainan yang ia suka.


"Rio lebih suka yang ini." Rio menunjuk wahana yang ada gelang-gelang untuk bergelantungan.


Rin dan Ren masih memilih. Mereka sibuk membolak-balik halaman brosur.


"Papa Richard mau beliin ini buat Ricka?" Mark bertanya.


"Iya. Kamar tidur yang di lantai dua akan direnovasi supaya wahana permainannya bisa muat." Hana memberitahu Mark.


Mark melihat semua harga wahana itu dalam bentuk rupiah. Ia mencoba mengkonversinya ke dolar.


"Kakak Yin pilih yang mana?" Ren bertanya.


"Kalau Ren?" Rin bertanya balik.


"Ren mau semuanya." Ren ingin mencoba semua wahana permainan.


"Pilih satu aja. Rumah papa Richard nggak muat kalau semuanya dibeli." Hana mengingatkan. Walaupun Richard mampu membeli semua wahana permainan itu.


"Mama, Yicka mau yang mana?" Ren bertanya.


Hana menunjuk wahana termahal yang ada di dalam map. Wahana permainan seharga seratus juta rupiah.


"Yen juga pilih ini." Ren memutuskan memilih wahana permainan seperti yang Ricka mau.


Semuanya setuju dengan pilihan Ricka. Lagipula yang membayarnya adalah ayah Ricka.


Hana memfoto dan mengirimkannya ke Richard tentang wahana permainan yang mereka pilih.


Selera Ricka sungguh tinggi dan mahal. Tetapi sejak Ricka ada, bisnis Richard berkembang pesat.


Keberadaan Ricka membawa rejeki besar untuk kerajaan bisnis Richard.