Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 142 Menunggu Hana Kecil



Sejak hari itu Sebastian selalu menunggu kedatangan Hana kecil di panti asuhan. Mereka bermain bersama layaknya anak-anak pada umumnya.


"Babas." Hana kecil memanggil Sebastian. "Hana bawa ini buat Babas." Hana memberikan satu pack lolipop.


"Mama Hana nggak marah Hana bawa ini?"


"Hana beli pakai uang saku Hana."


Sebastian membuka pembungkus lolipop dan menyodorkannya ke Hana. Hana mengambil satu lolipop. Ia memilih lolipop rasa strawberry.


Sebastian melihat lutut Hana. "Masih sakit?"


"Sakit apa?"


"Lututnya."


"Masih. Kalau kena air perih. Mama Hana nggak bolehin Hana main bola lagi."


"Kenapa?"


"Nanti Hana jatuh lagi. Luka lagi. Kata mama anak perempuan nggak boleh punya banyak bekas luka."


"Hana main sama Babas aja."


Mereka bermain bola bersama.


"Lebih seru main sama yang lain." Hana ingin bermain dalam satu tim dengan banyak anak.


"Ayo main." Sebastian menggandeng tangan Hana. Ia memberitahu anak-anak lain agar tidak men-tackle Hana.


Hana merasa senang. Akhirnya ia bisa bermain bola bersama dengan anak-anak lainnya.


Hari lainnya.


"Babas." Hana selalu ingin bertemu Sebastian terlebih dahulu.


Sebastian yang sudah bersiap-siap sejak pagi tersenyum melihat Hana. "Hana."


"Hana bikin ini buat Babas." Hana menyerahkan kertas berisi gambar Sebastian. Tidak mirip Sebastian. Tetapi ada bola di tangan anak di kertas gambar itu.


Sebastian mengambil kotak pensilnya. Ia menggambar Hana di sebelahnya.


"Ini siapa?" Hana bertanya.


"Hana."


"Babas bikin rambut Hana jadi panjang," pinta Hana. Rambut Hana yang sekarang masih pendek.


Sebastian menggambar rambut panjang di sebelah kiri kepala Hana.


"Yang kanan dikepang," pinta Hana.


Sebastian melihat Hana. "Kan jadi aneh kalau yang kiri lurus, yang kanan dikepang."


Sebastian menggambar rambut kepang di sebelah kanan kepala Hana.


"Yang ini ada puppy-nya." Hana minta Sebastian menggambar lagi.


"Puppy-nya yang seperti apa? Chihuahua? Pudel?"


Hana mengambil buku tentang ras anjing di rak buku. Ia menunjuk sebuah gambar. "Bulldog."


Sebastian menggambar bayi Bulldog sebisanya. Ia juga tidak ahli dalam menggambar.


"Di sini bayi harimau." Hana menunjuk area kertas gambar yang kosong.


Sebastian selesai membuat bayi harimau.


"Babas suka hewan apa?"


"Cheetah."


"Kenapa? Apa Babas mau pake jaket dari kulit Cheetah?"


"Bukan. Karena cheetah larinya cepat. Kalau Hana suka hewan apa?"


Hana berpikir sejenak. Ia terlalu menyukai banyak hewan.


"Yang paling Hana suka."


"Yang itu. Kupu-kupu." Hana menunjuk kupu-kupu yang terbang di taman.


Sebastian menggambar kupu-kupu dengan sayap kuning di kertas gambar.


"Kertasnya penuh gambar sekarang."


"Babas boleh simpan?" Sebastian bertanya.


"Boleh."


Flashback end.


Sebastian tersenyum melihat gambar yang ia dan Hana buat saat mereka kecil. Kertas gambarnya sudah menguning. Gambar yang tidak bisa dibilang bagus karena mereka berdua tidak jago menggambar tetapi penuh makna karena berisi kenangan mereka berdua.


Sebastian masih ingat saat-saat itu. Ia selalu menunggu kedatangan Hana. Ia memastikan bajunya selalu rapi agar tidak terlihat berantakan di depan Hana kecil.


Saat ia dewasa saat ia berlatih sepak bola. Walaupun latihan terasa berat, ia selalu teringat akan janjinya dengan Hana. Janji saat kecil untuk mengajak Hana menonton pertandingannya.


Hana ...


Keinginanku menjadi pemain sepak bola sudah terwujud.


Aku akan terus mengundangmu untuk melihat pertandinganku