Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 141 Kenangan Manis Saat Kecil



Sementara itu di tempat Sebastian berada.


Sebastian membuka sebuah buku yang sudah tua. Ia melihat foto polaroid lama. Foto dirinya dengan seorang gadis kecil.


Hana ...


Akhirnya aku menemukanmu.


Flashback saat Sebastian masih kecil saat ia berada di panti asuhan Pelangi.


Seorang anak perempuan datang. Sebastian terlihat malu-malu saat anak perempuan itu mendekati dirinya.


"Kata Andrew kamu suka bola?" Anak perempuan itu bertanya.


Sebastian menganggukkan kepalanya. Ia terlalu malu untuk menatap mata anak perempuan itu. Sebastian saat itu baru saja berada di panti asuhan Pelangi karena panti asuhan tempat ia berada sebelumnya ditutup.


"Ayo kita main sama-sama." Anak perempuan itu menggandeng tangan Sebastian.


Mereka bermain sepak bola bersama. Ada sepuluh anak yang bertanding. Masing-masing tim lima anak. Anak perempuan itu dan Sebastian satu tim.


Sebastian bertugas sebagai striker. Sedangkan anak perempuan itu sebagai gelandang.


*gelandang : menjaga daerah tengah, mengoper bola ke striker.


Bola bergulir dari tim lawan. Anak perempuan itu berhasil merebut bola. Ia mengopernya ke Sebastian kecil. Sebastian menggiring bola itu. Ia mengoper ke striker satu timnya. Berkat kerjasama tim mereka, satu gol terwujud.


Sebastian melihat anak perempuan itu meloncat kegirangan.


Permainan dimulai kembali. Saat anak perempuan itu berhasil merebut bola ia di-tackle oleh pemain tim lain dan terjatuh. Lututnya berdarah. Anak perempuan itu menangis.


Sebastian kecil segera berlari dan menggendong anak perempuan itu di punggungnya . Ia menuju ke dalam panti. Ia mengambil kotak P3K dan mengobati luka anak perempuan itu.


"Akh ... Sakit." Air mata anak perempuan itu menetes deras saat Sebastian mengoleskan obat merah.


"Tahan sebentar." Sebastian mengambil lolipop dari kantung celananya. Ia memberikannya ke anak perempuan itu.


"Terima kasih." Lolipop itu membuat anak perempuan itu jadi lebih baik.


Sebastian menempelkan Hansaplast ke lutut anak perempuan itu.


Mereka akhirnya menonton pertandingan dari dalam.


"Kamu nggak main lagi?" Anak perempuan itu bertanya.


"Nggak."


"Kenapa?"


Anak perempuan itu tersipu.


"Kita belum kenalan. Nama kamu siapa? Aku Hana." Anak perempuan itu mengulurkan tangannya.


Sebastian kecil menyambut uluran tangan Hana kecil. "Sebastian."


"Sebastian, waktu besar nanti mau jadi apa?" Hana kecil bertanya.


"Pemain sepak bola "


"Kenapa?"


"Supaya bisa punya banyak uang. Sebastian mau beli papa sama mama."


"Papa sama mama nggak bisa dibeli. Biar papa sama mama Hana jadi papa dan mama Sebastian."


"Hana nanti jadi saudara Sebastian?"


"Iya."


Mereka mendukung tim mereka dari dalam panti. Gol demi gol tercipta. Tim mereka kalah.


"Babas harus main. Tim kita nggak boleh kalah," ucap Hana kecil.


"Babas?"


"Sebastian terlalu panjang. Jadi Hana singkat jadi Babas aja. Jelek, ya? Atau mau Hana panggil Tian?"


"Babas aja."


Sebastian lalu kembali ke lapangan. Ia bermain dan mencetak hattrick. Tetapi tim mereka masih kalah.


*Hattrick : seorang pemain sepak bola mencetak tiga gol dalam satu pertandingan.


Setelah pertandingan berakhir Sebastian kembali lagi ke dalam panti asuhan. Ia duduk di samping Hana kecil.


"Babas hebat. Babas besar nanti pasti bisa jadi pemain sepak bola," puji Hana kecil.


"Janji, ya. Nanti kalau Babas jadi pemain sepak bola beneran, undang Hana buat lihat pertandingannya Babas." Hana kecil menunjukkan jari kelingkingnya.


Sebastian kecil menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Hana.