
"Daripada capek menangis lebih baik capek bikin adik buat Ricka." Lucas menunjuk Ricka yang bermain sendirian di lantai.
Ricka sedang menungging dengan kepala di lantai. Yang katanya tanda seorang anak menginginkan adik.
Hana menggelengkan kepalanya. "Enam anak sudah cukup."
"Kamu nggak kasihan sama Ricka? Rei punya Rio. Rin punya Ren. Cuma Ricka aja yang sendirian." Lucas berusaha membujuk Hana.
"Nggak!" tegas Hana.
"Ok. Oh, iya. Richard tadi kirim pesan ke aku. Ia mau ajak kita main golf."
"Kapan?"
"Hari Minggu."
Ronald datang berkunjung. Ia membawa sekardus skenario. Sejak film Hold My Hand tayang di bioskop, banyak tawaran mengalir untuk Rin. Dari iklan, sinetron dan film.
"Ini apa?" tanya Lucas.
"Tawaran main sinetron sama film buat Rin. Aku sudah baca semuanya. Yang kira-kira cocok buat Rin, aku taruh di paling atas." Ronald juga memberitahu tawaran iklan apa saja yang sudah masuk.
Lucas menyaring lagi tawaran yang masuk. Tidak semuanya diambil jika tidak sesuai dengan Rin.
"Untuk film dan sinetron, aku baca dulu skenarionya."
Ronald pamit pulang. Hari-hari ini ia sibuk dengan jadwal Rin. Hampir setiap hari Rin syuting iklan dan wawancara.
Lucas mulai membaca satu persatu skenario di ruang kerja. Untuk mempercepat ia mulai dari sinopsis film.
"Ini bagus. Ini tidak bagus." Akhirnya ada lima skenario yang Lucas rasa terbaik. Ia akan meminta pendapat Hana dan Rin.
Lucas memberikan Hana skenario untuk dipilih lagi. Hana membolak-balik halaman skenario.
"Lima limanya cocok buat Rin. Tapi yang ini yang menurutku yang terbaik."
"Tentang Ren ... Apa sebaiknya kita mengubah olahraga untuk ditekuni Ren?" Hana menyarankan olahraga tenis.
"Ini pasti gara gara nonton King Richard."
"Kok tahu?"
"Kemarin kan aku nonton bareng kamu. Tapi Ren itu sudah mania bola. Bola hadiah ulang tahunnya yang pertama dari mama aja selalu ia bawa ke mana-mana."
"Iya. Ren sudah cinta mati sama sepak bola."
...***...
Hari Minggu tiba. Hana, Lucas, Rei, Rio, Ren dan Ricka ikut ke lapangan golf bersama Richard.
Hana mengoleskan sunscreen ke kulit Ren dan Ricka. Ren mengira itu buttercream dan membuka mulutnya.
"Ini tabir Surya. Bukan krim kue." Hana meratakan krim tabir Surya ke kulit Ren. Lalu lanjut ke Ricka.
Mereka naik mobil kecil untuk keliling lapangan golf. Richard mulai memukul bola golf. Disusul Lucas. Hana memperhatikan Lucas. Tiba-tiba terdengar bunyi byur. Ada yang masuk ke dalam genangan air di lapangan golf.
Hana melihat asal suara. Astaga! Ren!
Hana segera mengambil Ren yang sedang menikmati berada di genangan air yang dalam. "REN! AIRNYA KOTOR!"
"Rei, tolong jagain Ricka. Mama mau ganti bajunya Ren."
Hana mengambil pakaian Ren di mobil. Juga pakaiannya karena saat mengambil Ren pakaiannya jadi ikut basah.
"Kenapa Ren nyebur? Airnya itu banyak kumannya." Hana takut Ren jatuh sakit.
"Yen kiya kopi susu."
Astaga! Hana hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kelakuan Ren.