
Rin merasa geli karena pijitan dari Ren dan Ricka yang terasa menggelitik.
"Ha ... Ha ... Ha ..." Rin tertawa. "Sudah. Sudah. Kakak sudah nggak capek lagi."
Ren dan Ricka menghentikan pijitan yang tidak bisa dibilang pijitan.
Rin membuka tas ranselnya. Ia mengambil Oreo mini dalam cup. Rasa coklat untuk Ren dan rasa strawberry untuk Ricka.
Ren mencoba membuka cup. Ia berhasil. Ricka mencoba membuka tetapi tidak berhasil. Ia lalu menjulurkan cup ke Hana. Ia ingin dibukakan.
"Oreonya buat Mama?" Hana mengerjai Ricka. Ia tahu Ricka minta tolong dibukakan. Ricka menganggukkan kepalanya. Ia lalu mendekati Rin lagi. Berharap untuk diberi lagi.
Rin akhirnya mengeluarkan Oreo mini dalam cup rasa vanila. Ia membantu membukakan cup itu untuk Ricka.
"Yicka, coba punya Kakak." Ren menyuapi Ricka. Ricka juga ikut menyuapi Ren.
Mereka akhirnya sampai di rumah.
Keesokkan harinya.
Seperti biasa Hana menjemput Ren di sekolahnya. Ia juga membawa Ricka karena mereka akan menjemput Matthew.
Tetapi ibu guru Ren meminta Hana untuk menemui kepala sekolah terlebih dahulu. Hana bertanya-tanya dalam hati.
Apa Ren berkelahi dengan temannya? Karena kaki palsunya?
Sedangkan Ren untuk sementara bersama dengan gurunya. Ren tidak ikut bersama Hana.
Hana mengetuk pintu ruangan kepala sekolah. "Ibu, saya mama dari Ren."
"Silahkan masuk," ucap kepala sekolah.
Hana masuk ke dalam ruangan.
"Silakan duduk."
Kepala sekolah itu menunjukkan uang kertas kepada Hana. "Ren tadi menggunakan uang ini untuk berbelanja di kantin."
Hana memperhatikan baik-baik uang kertas itu. Uang itu uang palsu.
Astaga,! Ini kan uang yang biasanya dipakai buat mainan di rumah.
Pantes aja kemarin Ren nge-print banyak uang.
Hana mengira Ren membuat uang palsu untuk mainan mereka.
"Maafkan saya. Biasanya uang ini dipakai jika kakak, Ren dan adiknya bermain sebagai penjual dan pembeli. Saya akan memberitahu Ren jika ia tidak boleh menggunakan uang ini untuk berbelanja." Hana merasa beruntung karena kejadiannya berada di dalam sekolah.
Bagaimana jika terjadi di tempat lain. Bisa bisa keluarga mereka dipenjara karena mengedarkan uang palsu.
"Saya harap kejadian ini tidak terulang lagi."
"Sekali lagi maafkan saya."
"Anda boleh membawa Ren pulang sekarang."
Hana menemui Ren. Ia memberitahu Ren tentang uang palsu yang Ren pergunakan tadi. "Ren, Mama mau beritahu Ren kalau ini uang palsu. Cuma bisa dipakai saat bermain. Tidak bisa dipakai untuk membeli barang di tempat lain. Ren bisa masuk penjara kalau belanja pakai uang ini."
Ren mulai menangis. Ia takut masuk penjara. Kalau ia berada di penjara, ia tidak bisa bebas bertemu papa, mama, kakak, adik, kakek, terutama opa dan Omanya.
Hana memeluk Ren. "Jangan diulangi lagi. Untung saja ibu guru Ren beritahu Mama."
"Iya, Ma."
"Ayo. Kita harus jemput kakak Matthew. Bentar lagi ia sampai di bandara."
Mereka bertiga diantar supir menuju ke bandara. Mereka menunggu dan menunggu.
"Mama, Ren lapar."
Hana mengajak Ren makan siang di salah satu restoran di bandara. "Ren mau apa?"
"Yang ini." Ren menunjuk salah satu menu.
Mereka akhirnya makan terlebih dahulu. Selesai makan mereka menunggu Matthew lagi.
"Kakak Matthew." Ren melambaikan tangannya saat melihat Matthew. Matthew juga ikut melambaikan tangannya.
Setelah sekian lama, akhirnya mereka bisa bertatap muka lagi.