Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 191 Empat, Dua, Enam



"Kakek cuma tidur kan Ma?" Ren mengira kakeknya hanya tertidur. Sama seperti dirinya saat sakit dan tertidur.


"Kakek bangun. Yen punya ini." Ren sengaja membawa camilan lalu ia menggoyang-goyangkan isinya dan sengaja membuat berisik dengan bungkus camilan.


Sama seperti cara Hana saat membangunkan Ren untuk pergi ke preschool.


Flashback.


"Ren bangun. Sudah pagi. Waktunya pergi ke preschool." Hana mencoba membangunkan Ren.


Ren sebenarnya sudah bangun tapi ia pura-pura tidur.


Hana tak kehilangan akal. Ia mengambil satu bungkus keripik kentang lalu menggoyang-goyangkan isi sambil meremas bungkusnya. "Mama punya ini. Oh, Ren masih tidur. Mama habisin aja." Hana berpura-pura membuka bungkus keripik itu


Mata Ren akhirnya terbuka. Ia akhirnya bangun.


Flashback end.


Tetapi cara Ren tidak berhasil untuk kakeknya. "Mama, Kakek nggak bangun bangun."


"Kakek masih sakit."


"Kakek sakit apa? Yen mau beyi obat buat Kakek." Ren menunjukkan uang koinnya.


"Ren simpan lagi uangnya. Kakek sudah diberi obat sama dokter tadi."


Sedangkan Richard berpamitan. Ia harus datang ke perusahaan.


"Ikut." Ricka ingin ikut ayahnya, Richard.


"Ricka sama Mama. Papa mau kerja." Hana menggendong Ricka.


"IKUT!" Ricka mulai menaikkan suaranya. Ia ngotot ingin ikut Richard.


Richard mengambil Ricka dan menggendongnya. "Ricka boleh ikut. Tapi Papa nggak bisa temanin Ricka main. Papa harus kerja."


Ricka menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Kak, kalau ada apa-apa kabari aku. Nanti aku jemput Ricka," ucap Hana.


"Tenang aja. Nggak perlu khawatir. Aku bisa meng-handle Ricka." Richard yakin dengan kemampuannya menjaga Ricka.


"Iya."


"Yen boyeh ikut?" Ren juga ingin tahu perusahaan Richard sebesar apa.


"Boleh."


"Ren jaga Ricka. Papa Richard di sana pasti sibuk." Hana berpesan.


"Iya, Mama."


Akhirnya Ren dan Ricka ikut Richard pergi bekerja.


Jadilah ini kedatangan perdana Ricka di perusahaan Richard. Semua mata karyawan melihat Ricka.


Semuanya seperti sudah tahu Ricka itu anak Richard. Walaupun tidak menikah, tetapi Richard sudah memiliki anak, pewaris tunggal Richard, bos mereka di masa depan.


Richard memasuki lift sambil menggendong Ricka. Mereka tiba di lantai tempat Richard bekerja.


Richard mulai sibuk. Sedangkan Ren bermain bersama Ricka. Ren mencoba membacakan buku cerita untuk Ricka.


Tetapi Ren belum lancar membaca. Ia bercerita berdasarkan gambar yang ada di buku.


Tak lama kemudian mereka bermain sembunyi sembunyian. Ren yang berjaga sedangkan Ricka yang bersembunyi.


Selesai berhitung, Ren mulai mencari Ricka.


"Yicka. Yicka." Tetapi Ren tidak menemukan Ricka. Ia sudah mencari ke mana-mana. Di belakang sofa, di kamar mandi. Ren mulai cemas. "Yicka. Yicka."


"Papa Yicat, Yicka hilang." Ren mulai menangis. Ia takut kehilangan adiknya. Tetapi Ren melihat ada yang bergerak di dada Richard. Dada Richard terlihat menggelembung tertutup selimut.


"Yicka!" Ren membuka selimut di dada Richard. Ren bisa melihat Ricka yang tertawa. Ren juga merasa lega bisa menemukan adiknya. Adiknya tidak hilang. "Yicka ketemu. Sekayang Yicka jaga."


Ricka mulai berhadapan dengan tembok. Ia berhitung angka yang ia ketahui. "Empat, dua, enam."


Ricka mulai berbalik. Ada Ren di depannya. Ren belum bersembunyi karena hitungan Ricka terlalu singkat.


"Yicka hitungnya satu sampai sepuluh. Jangan cepat-cepat."


"Iya." Ricka berbalik dan mulai berhitung lagi.