Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 136 VVIP



Di tribun penonton.


Seseorang mendekati Richard. Mereka saling berbicara satu sama lain.


Hana tidak mengenal pria itu. Siapa ya yang ngobrol sama Kak Richard?


Richard lalu memberitahu untuk pergi dari bangku penonton mereka.


"Yen masih mau nonton." Ren ingin menonton pertandingan sepak bola sampai selesai. Ia mulai merengut.


"Kita pindah ke tempat yang lebih adem. Ruangan yang ada AC nya. Kasihan Ricka keringetan," ucap Richard.


Ren melihat pelipis Ricka yang basah karena keringat. Ia akhirnya menurut untuk pindah tempat.


Mereka mengikuti pria yang berbicara dengan Richard tadi. Mereka lalu menuju ke ruangan VVIP.


Mata Ren terpaku dengan camilan yang ada di sana. "Boyeh dimakan?"


"Boleh. Semuanya boleh dimakan."


"Boyeh dimakan sampai habis?" Ren memang jago makan.


"Boleh. Ren boleh makan sampai habis."


"Om tau nama Ren?" Ren merasa belum pernah memperkenalkan dirinya ke pria itu.


"Om tahu nama Ren karena tadi Ren jadi player escort. Silakan dinikmati sajiannya. Jika ada yang kurang atau butuh sesuatu, hubungi staff di sini. Saya permisi dulu."


"Teyima kasih, Om."


"Sama-sama." Pria itu meminta ijin untuk pergi.


Ren mulai memakan camilannya sambil menonton pertandingan bola.


Ricka juga tidak mengeluarkan keringat lagi karena ruangan yang adem. Ia juga terlihat mengantuk dan tak lama kemudian Ricka tertidur.


"Tadi itu siapa, Kak?" Hana bertanya ke Richard.


"Tadi itu pemilik klub yang pemainnya digandeng tangannya oleh Ren."


"Tidak. Aku tidak memintanya." Richard mulai mengalihkan pandangannya ke lapangan. Seolah-olah tertarik dengan pertandingan sepak bola.


Hana tahu Richard berbohong. Tapi di dalam hatinya ia berterima kasih ke Richard. Sejak Ren tahu ia menjadi player escort, Ren jadi semakin bersemangat berlatih sepak bola.


Hana sempat berpikir untuk mencari alternatif olahraga lain untuk Ren karena masalah kaki Ren. Tetapi sepertinya Ren sudah fix untuk memilih sepak bola.


"Gol ..." Ren bersorak lagi. Tapi ia langsung menutup mulutnya saat melihat Ricka tersentak dari tidurnya.


Ren bersorak lagi tanpa bersuara.


Saat pertandingan berakhir, pemilik klub sepak bola itu kembali datang ke ruangan. "Ren mau ketemu sama om Sebastian?"


Sebastian adalah nama pemain sepak bola yang Ren gandeng tangannya saat akan memasuki lapangan.


Mereka lalu menuju ke tempat Sebastian berada. Pemilik klub itu memanggil Sebastian untuk keluar sebentar dari ruang gantinya.


Ren lalu megacungkan kedua jempolnya saat bertemu Sebastian lagi. "Om hebat. Ren mau jadi pemain sepak boya sepeyti Om."


Ren tadi melihat aksi aksi Sebastian saat menggiring bola, mempertahankan bola supaya tidak direbut lawan dan juga saat Sebastian menendang bola ke gawang lawan.


Pertandingan akhirnya dimenangkan oleh tim sepak bola Sebastian.


"Ren juga pemain bola?"


"Iya. Yen yatihan teyus."


Sebastian tidak bisa berlama-lama. Ia harus meeting bersama rekan satu timnya dan pelatihnya. Membahas kekurangan tim mereka saat bertanding tadi.


Mereka mengakhiri percakapan dengan foto bersama.


Dalam perjalanan pulang menuju ke rumah, Ren yang kelelahan tertidur. Terkadang dia menggerakkan tangannya seperti bersorak. Hana hanya tersenyum. Begitu juga Lucas.


Sesampainya di rumah, Lucas menggendong Ren lalu meletakkannya di ranjang.


Ricka yang tadinya tidur malah terbangun. Ia ingin bermain dengan Ren.


"Kakak Ren baru aja tidur. Ricka main sama Kakak Rin aja." Rin mengajak Ricka bermain bersama.