
“Mama ....” Rin memanggil Hana. Ia sudah bersemangat karena hari ini mereka sekeluarga akan pergi jalan-jalan. Ke mana lagi kalau bukan ke Disneyland. Mumpung lagi di Amerika yang nota bene ada dua Disneyland, di California dan di Florida. Tapi mereka akan pergi yang dekat rumah, yang di California.
Rei sudah mengenakan baju yang cantik. Begitu juga Rio. Ia membawa kamera untuk merekam Rei yang akan membuat vlog untuk konten YouTubenya.
“Yobek ...” Rin berjalan ke arah Robert yang baru saja datang.
“Panggil Om, Rin. Jangan nama doang.” Di Amerika tidak masalah jika orang yang berusia lebih muda memanggil nama depan saja ke orang yang lebih tua. Tapi berhubung mereka masih menganut budaya Indonesia sebaiknya Rin diajari budaya Indonesia.
“Om ... Yobek.”
Robek, Robek lagi.
Om bukan kertas yang bisa robek, Rin.
Mereka semua menaiki mobil mini bus yang dibawa Robert. Hana melihat lagi perlengkapan Rin.
Sudah lengkap.
"Mama Berta ... apa kompor sudah dimatikan?" Hana takut kelupaan mematikan kompor.
"Sudah."
"Mama Berta ... apa setrika sudah dimatikan?" Hana takut setrika masih menyala.
"Sudah."
"Mama Berta ..." Hana belum menyelesaikan kalimatnya.
"Sudah." Semua yang berada di mobil berkata bersamaan.
Mereka lalu meluncur ke Disneyland. Tibalah mereka setelah sekitar 40 menit berkendara.
Rei lalu memulai vlognya.
“Halo ... Rei lagi jalan-jalan ke Disneyland bareng papa, mama, kakek, nenek, abuela, Rio, Rin sama om Robek.” Rei sedang berkata ke kamera yang ia letakkan di tongsisnya.
“Bukan om Robek. Om Robert. R, O, B, E, R, T. Robert.” Robert protes.
“Ups ... Rei salah.” Rei menutup bibirnya dengan jari-jarinya.
“Rei keikut Rin. Yang betul om Robert.” Rei meralat ucapannya.
Hana, Rei, Rio dan Rin belum pernah jalan-jalan ke Disneyland. Di Indonesia belum dibangun Disneyland. Paling dekat dengan Indonesia ada di Hongkong, Shanghai dan Tokyo.
Kebetulan Lucas libur hari ini. Jadi, ia bisa mengajak keluarganya jalan-jalan. Sebenarnya bisa saja Hana membawa anak-anaknya ke Disneyland tapi ia masih merasa bahasa Inggrisnya kurang walaupun putra dan putrinya sudah cukup lancar berbahasa Inggris.
“Disneyland California ini dibuka pada tanggal 17 Juli 1955. Udah tua, ya?” Rei berbicara ke kamera yang dipegang Rio.
Rin ditaruh di stroller. Tapi setelah beberapa saat ia minta digendong. Untung ada Robert yang memang menyukai anak-anak. Ia yang menggendong Rin.
Rio merekam suasana di sekitar Disneyland yang ramai dengan pengunjung terutama saat weekend. Rei sibuk berbicara dengan kamera di tongsisnya menjelaskan keadaan sekitarnya.
“Hana ... jangan liat ke atas.” Lucas melihat Hana sedang memandang pohon-pohon yang tinggi.
“Lihat aku aja.” Lucas takut jika Hana menyuruhnya memanjat pohon lagi seperti saat waktu Hana lagi hamil Rin.
“Pohonnya nggak ada buah, kok. Jadi, aku nggak bakalan minta kamu panjat pohonnya.”
Mereka lalu masuk ke sebuah toko cenderamata. Rei memilih bando dengan telinga Mini Mouse. Rin juga sama. Ia meniru Rei memakai bando. Mereka lalu berjalan-jalan lagi.
Rin jadi imut banget.
“Ada Opa Disney.” Rei melihat patung Walt Disney, pencipta Mickey Mouse. Rei berfoto sebentar untuk diupload di instagramnya.
“Ada kurcaci. Tapi kok kurcacinya gede, ya. Harusnya, kan mini-mini sama kayak Rei.” Rei melihat kurcaci di dekat air mancur. Rin melambaikan tangannya ke kurcaci yang besar itu.
“Wek ... wek ...” Rin melihat Donald bebek.
Setelah beberapa lama mereka makan siang di sebuah restoran. Lucas yang mentraktir atau lebih tepatnya Rin. Sebelum meninggal Luke memberi Lucas sebuah black card, kartu tanpa limit.
Ini cuma buat keperluan yang menyangkut Rin.
Sampai kau habiskan uang milik Rin,
Aku akan bangkit dari alam kubur dan menghantuimu seumur hidupmu.
Ancam Luke saat ia menyerahkan black card itu ke Lucas. Perusahaan Luke lah yang nantinya membayar semua tagihan black card itu. Baru kali ini Lucas memekai black card itu. Setiap bulan akan ada transfer uang yang masuk ke rekening Hana untuk keperluan Rin.
Jika ada yang bertanya kenapa Lukman dan Lucy sering berada di Amerika itu juga salah satunya mengecek kondisi perusahaan milik Luke. Jadi, untuk saat ini Rin lah yang bisa dibilang paling kaya di antara anak-anak Hana, harta warisan dari Luke.
Robert begitu telaten menyuapi Rin.
“Robert, sudah saatnya kau menikah,” ucap Hana.
“Lucas ... Jessica itu masih single, kan?” Hana bertanya ke Lucas. Jessica adalah dokter teman Lucas di rumah sakit.
“Mau dikenalin ke Robert?”
“Iya.”
“Mungkin lebih cocok Melisa. Ia sama seperti Robert ingin punya anak banyak. “ Dulu saat Hana dan Robert masih sekolah Robert pernah menyatakan ingin punya anak banyak.
“Robert dulu ingin punya anak lima. Biar rame rumahnya. Aku dulu cuma pengen punya anak satu tapi sekarang malah mau lima.”
Setelah makan mereka lanjut jalan-jalan lagi.
“Disneyland itu luas banget, ya.” Hana duduk di bangku yang memang sudah disediakan di sana. Yang lainnya melanjutkan perjalanannya, terutama Rei yang ingin mengabadikan momen ia berada di Disneyland.
Mereka lalu memasuki Haunted Mansion. Rin sangat senang bisa melihat tengkorak di sana. Sepertinya Haunted Mansion bakal jadi tempat favorit Rin di Disneyland.
Sekarang mereka berada di komedi putar. Rei menaikinya dengan membawa tongsisnya. Sedangkan Rio akan merekam dari luar arena. Rin juga ikut menaiki komedi putar. Ia memilih karakter ular. Robert berada di samping Rin memegang tubuh Rin.
Mereka lanjut lagi ke butik pakaian princess.
Rei memilih kostum Snow White. Rin memilih kostum Belle dari Beauty and the Beast.
“Mama sukanya Cinderella, kan?”
“Mama Rei itu harusnya princess Aurora. Dulu mama Rei itu suka tidur di kelas.” Robert membocorkan rahasia Hana. Hana mencubit lengan Robert.
“Ouch ...” Robert mengusap-usap lengannya yang sakit. Ia memaki Hana dalam hatinya.
Hari sudah sore menjelang malam. Mereka menyaksikan pertunjukan kembang api. Acara highlight di Disneyland selain parade.
Setelahnya mereka pulang. Robert mengantar mereka sampai depan rumah lalu ia pulang membawa mini busnya.
“Capekkk ....” Hana duduk di sofa. Ia beristirahat sebentar.
“Ma ... “ Rei mendekati Hana.
“Foto yang bagus yang mana, ya?” Rei bingung mau mengupdate instagramnya dengan foto yang mana. Terlalu banyak foto yang bagus.
“Yang ini.” Hana menunjuk foto Rei dengan patung Walt Disney.
“Yang ini.” Hana memilih foto Rei berpakaian princess.
“Yang ini juga bagus.” Hana juga memilih foto yang kembang apinya.
Rei lalu mempostingnya di feed instagramnya. Tak lupa menge-tag @disleylandcalifornia.
“Pa ... liburan nanti kita jalan-jalan lagi ke Disneyland tapi yang di Florida,” ucap Rei.
“Kalau yang di Florida tunggu papa libur yang agak lama. Ke sana itu harus naik pesawat. Kalau nggak salah butuh waktu empat jam. Seharian itu nggak cukup, kan keliling Disneylandnya?”
Rei menganggukkan kepalanya. Ia ingin memasuki semua wahana yang ada di sana.
“Tapi sepertinya Rei harus sabar. Kita harus nunggu sampai Ren lahir dan sedikit agak besar.”