Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 155 Adegan Penyiksaan



"Aku mau." Richard juga merasa haus.


Hana menuang teh hangat yang berada di termos kecil ke tutupnya. Ia lalu memberikannya ke Richard.


Richard mencoba menikmati aroma kurma dan mengecap rasa madu di dalam teh.


"Aroma kurma dan madunya tidak terlalu kuat, Kak. Tapi nikmat. Cocok buat santai."


Hana meneruskan perkataannya. "Teh juga berkhasiat untuk meningkatkan daya tahan tubuh, juga menurunkan berat badan."


"Tapi kalau terlalu banyak ditambah gula juga tidak baik."


Rin dipanggil salah seorang kru untuk syuting ulang. Hana mengambil Ricka. Untuk sementara ini ia, Ren dan Ricka akan berada di luar lokasi syuting.


*Lokasi syuting film Rin saat ini berada di sebuah gudang besar.


Tapi di luar ruangan, matahari bersinar terik lagi. Ia harus membawa masuk Ricka supaya kulit Ricka tidak menjadi lebih gelap lagi. Tapi Ricka akan menangis melihat Rin disiksa.


Sewaktu Rin ditampar saja, Ricka sudah menangis luar biasa. Apalagi jika Rin dipukul. Adegan syuting kali ini agak ekstrem.


Richard menyuruh supir Hana untuk membawa mobil ke dekat mereka. Ia meminta Hana, Ren dan Ricka menunggu di dalam mobil supaya tidak kepanasan.


Richard juga pamit. Ia ada meeting di tempat lain. "Papa pergi dulu." Richard mencium Ricka.


"Hati-hati di jalan, Om," ucap Ren.


Hana berusaha mendistraksi Ricka dengan bermain bersama Emo, si robot mini.


"Emo." Hana memanggil Emo.


Emo merespon dengan menggerakkan kepalanya.


"Emo bisa diperintah apa aja, Ren?"


Ren mulai mengajarkan beberapa perintah untuk Emo."Dance, foto, nyanyi lagu happy birthday, banyak Ma."


"Emo. Emo. Emo." Hana mengucap sampai tiga kali.


Emo mulai menari.


Selagi Ren bermain bersama Ricka, Hana melihat jadwal syuting Rin hari ini. Ia memperhatikan scene berapa saja hari ini sambil melihat-lihat naskah film.


Hari ini semuanya adegan Rin disiksa.


Sementara itu Rin sedang melanjutkan syuting yang tertunda. Sutradara dan pemain bersiap-siap.


"Action." Aba aba dari sutradara. Papan slate diketuk tanda syuting dimulai.


"Ma, kenapa kita ke sini?" Lisa (nama tokoh yang diperankan Rin) tidak mengerti kenapa mama tirinya membawanya jauh dari rumah dan berada di tempat seperti gudang besar yang terlantar.


"Aku bukan mamamu. Jangan panggil aku mama," ucap ibu tiri Lisa dengan ketusnya.


Lisa tidak mengerti. Di rumah saat ayahnya ada, ibu tirinya selalu bersikap manis. Kenapa sekarang ia terlihat jahat.


Ibu tiri Lisa mulai menampar dan menyiksa Lisa yang masih berumur lima tahun. Lisa masih mengenakan seragam TK nya.


"Cut," ucap Sutradara.


Mereka mulai memonitor adegan tadi. Sutradara merasa puas."Okay. Good job."


Tim make up mulai bergerak. Mereka mulai memberi riasan darah di bibir Rin dan riasan memar di tubuh Rin.


Adegan selanjutnya adalah saat Lisa pingsan. Ibu tirinya meninggalkan Lisa begitu saja. Ia akan bilang ke suaminya (ayah Lisa) bahwa Lisa menghilang. Ia sudah mencari Lisa tetapi ia tidak menemukan Lisa.


"Action." Syuting dimulai. Kameraman meng-close up wajah ibu tiri Lisa. "Aku hanya menyukai harta ayahmu. Selebihnya tidak ada yang aku sukai." Ibu tiri Lisa meninggalkan Lisa sendirian di dalam gudang. Ia mengira Lisa sudah mati.


"Sekarang tinggal menghabisi Bram." Bram adalah ayah kandung Lisa.


Ibu tiri Lisa pergi meninggalkan gudang.


Kamera mulai menyorot Rin yang terbaring di lantai gudang. Rin hanya berbaring karena berbagai penyiksaan dari ibu tiri Lisa. Ia ditampar, dipukul, dianiaya. Tubuh mungil Lisa tidak sanggup menerima semua siksaan itu.


"Cut." Syuting untuk scene ini telah selesai.