
Rin akhirnya tertidur. Entah kenapa Hana jadi gelisah. Ia merasa ada seseorang yang selalu mengawasi gerak-geriknya.
"Kak, aku titip Rin." Hana keluar dari kamar rawat inap Rin. Ia melihat lorong. ~ Tidak ada orang. ~ Hana berjalan menuju ujung lorong dan melihat ke kiri dan ke kanan. ~ Apa cuma perasaanku aja?
Hana lalu masuk kembali ke kamar Rin. "Ada apa?" Richard bertanya.
"Kak, aku merasa ada yang membuntuti kita, mengawasi gerak-gerik kita sejak kita pergi ke taman bermain. Tapi pagi saat mengantar Rin ke sekolah juga. Entah mengapa aku merasa ada yang ikutin."
"Perempuan atau laki-laki? Kalau perempuan kemungkinan ia mengawasi aku. Kalau laki-laki, kemungkinan ia suka sama kamu. Apa ia bawa kamera?"
"Aku rasa tidak."
"Tapi jaman sekarang kamera itu nggak usah besar-besar. Yang berbentuk bolpen ada juga." Richard lalu menyewa bodyguard untuk melindungi Hana dan keluarganya. ~ Apa mungkin itu saingan bisnisku? Mereka ingin mencelakai Hana karena ia orang terpenting dalam hidupku.
Richard sudah merasa janggal saat dirinya mengalami kecelakaan. Nyawanya hampir saja melayang jika saja saat itu ia terlambat dibawa ke rumah sakit. ~ Apa mungkin mereka sampai membuntuti ke Amerika?
Di dunia bisnis persaingan sangat keras. Semuanya demi yang namanya uang. Dengan uang kita bisa membeli semua barang yang kita mau. Dengan uang kita menjadi lebih berkuasa.
Keesokkan harinya.
Ada panggilan video dari Lucas. Hana dan Rin masih tertidur. Richard mengangkat ponsel Hana. Lucas dan Richard saling bertatapan.
"Hana masih tidur," ucap Richard.
Lucas bingung mau berkata apa. ~ Tidur di sini itu tidur biasa, kan? Mereka tidak berbuat macam-macam, kan.
Richard memperlihatkan Hana dan Rin yang masih tertidur pulas. Hana berada di sofa yang dijadikan kasur. Rin di ranjang rumah sakit dengan infus di tangan.
"Rin kemarin masuk rumah sakit. Overdosis Paracetamol. Ia minum satu botol Paracetamol. Tapi sekarang ia sudah membaik."
Lucas merasa lega. "Bagaimana ceritanya?"
"Rin di sekolah makan marsmallow. Ia takut sakit panas karena ia alergi marsmallow. Tapi ia minum satu botol obat supaya tidak panas "
"Rin." Lucas menjawab.
"Rin nakal, ya. Makan marsmallow diam-diam. Nggak boleh kayak gitu lagi. Kan masih banyak camilan lain yang bisa Rin makan."
"Iya."
"Opa Lukman mau ke Amerika. Rin mau dibawain apa?"
"Keyupuk."
"Nanti papa minta Oma Lucy beliin banyak kerupuk."
"Yin mau yasa udang, ikan, bawang."
"Iya. Oma Lucy pasti sudah tahu yang Rin suka." Lucas sering melihat mamanya (Lucy) membawa kerupuk untuk Rin jika datang ke rumah untuk menemui cucunya.
Aku itu sebenarnya ingin video call dengan Hana. Tapi, ya sudahlah. ~ Lucas lalu mengakhiri panggilan videonya setelah saling mengucap salam perpisahan."Bye ... bye ..."
Setelah Rin cukup sehat, Rin diperbolehkan pulang. Bodyguard menjaga Hana dan Rin. Sampai akhirnya mereka berhasil menangkap orang yang membuntuti Hana.
"Kau disuruh siapa?" tanya bodyguard dengan galaknya.
"S-saya tidak disuruh siapa-siapa."
"Kau mau apa dengan nyonya?"
"Saya hanya melihat putri nyonya kalian. Saya casting director." Casting director itu cuma melihat Rin. Ia menyesal karena tidak langsung berbicara dengan Hana.
"Maksudmu?" Bodyguard itu merasa aneh dengan jawaban tahanannya.
"Saya ingin memberi putri nyonya kalian peran."