Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 68 Roller Coaster



Setelahnya Richard membawa mereka semua ke taman hiburan.


"Mama, yoyyey coastey." Rin menunjuk roller coaster yang sedang bergerak. Terdengar teriakan dari orang-orang yang menaikinya.


"Yin mau naik." Rin ikut antri.


"Rin masih kecil. Nggak boleh naik. Tinggi Rin masih kurang." Hana menunjukkan tanda di papan untuk mengukur ketinggian.


"Gendong." Rin minta digendong. "Yin sekayang tinggi," ucap Rin saat ia digendong Hana. Hana menoel hidung mungil Rin.


"Naik." Richard memerintahkan asistennya untuk naik ke atas roller coaster. "Ta ... Tapi Tuan ..." Ada nada bergetar dari mulut asisten tersebut.


"Aku bilang naik, ya, naik. Atau mau aku pecat?" Richard mengancam. Sebenarnya ia cuma ingin bermain-main dengan asistennya.


Dipecat? ~ Asisten itu akhirnya menuruti perintah Richard. "Baik, Tuan."


Kenapa aku mau aja ikut ke Amerika? ~ Asisten itu memaki dirinya sendiri. Ia mau ikut ke Amerika karena gaji yang ia terima 10 kali lipat dari gaji yang biasanya ia terima.


Pengaman roller coaster mulai diturunkan. Roller coaster bergerak perlahan pada awalnya. Lalu mulai menambah kecepatan. Asisten itu memegang erat pengaman roller coaster dan berteriak, "PECAT AJA AKU ..."


Richard tersenyum lalu tertawa. Ia merasa puas mempermainkan asistennya itu.


"Kak, itu namanya penyalahgunaan kekuasaan." Hana mengingatkan Richard.


"Maaf. Tapi seru lihat dia yang takut-takut begitu." Richard tertawa lagi.


"Tapi, kak. Kita tak pernah tahu sampai kapan kita berada di atas. Kita tetap harus memperlakukan karyawan kita dengan baik."


Roller coaster selesai berputar. Asisten itu turun dan segera duduk di bangku. Seluruh tubuhnya terasa lemas.


"Om, yang itu." Rin menunjuk wahana roller coaster yang lebih ekstrem. Asisten itu langsung menggelengkan kepalanya tanpa menolak. ~ Kalau aku disuruh naik lagi, aku bakal langsung pulang ke Indonesia.


Rin dan Ren yang masih anak-anak menaiki wahana Merry go round (komedi putar). "Mama ..." Rin dan Ren melambaikan tangannya ke Hana. Rin ditemani susternya. Sedangkan Ren ditemani mama Berta. Hana dan Richard membalas lambaian tangan mereka.


Tiba-tiba ada seorang pria paruh baya mendatangi Richard. "I'm sorry. Can I check your legs?" (Maafkan saya. Apa boleh saya mengecek kaki Anda?)


Richard ragu. Baginya pria paruh baya itu orang asing. Pria paruh baya itu menunjukkan kartu namanya. "I'm a therapist."


Richard membaca kartu nama itu. Brian Lee. Ada alamat lengkap di kartu nama itu. Richard sebenarnya juga sudah memeriksakan kakinya di beberapa rumah sakit. Bahkan ia sempat berencana membuat kakinya bisa berdiri dengan membuat alat bantu yang mirip kaki robot Ren. Ia ingin bisa berdiri lagi.


Richard memperbolehkan Mr. Lee untuk memeriksa kakinya. "This is hurt?" (Apakah terasa sakit?)


"No." Kaki Richard mati rasa. Mr. Lee menekan beberapa area di kaki Richard. Richard tidak merasakan apapun.


"Try to move your toe," (Coba gerakkan jempol kakimu) ujar Mr. Lee.


Udah gila apa orang tua satu ini? Nggak mungkin aku bisa gerakkan jempol kakiku. ~ Tapi Richard tetap menuruti perintah Mr. Lee. Ajaibnya jempol kaki Richard bisa bergerak.


Hana terkejut. ~ Kak, masih ada harapan untuk kaki kakak.


Hana tahu perjuangan Richard untuk memulihkan kakinya karena terkadang ia menemani Richard fisioterapi di rumah sakit. Tetapi fisioterapi itu hanya bisa sebatas supaya fungsi bagian tubuh yang lain tidak menurun.