Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 52 Sakit Perut



Di mobil dalam perjalanan pulang. "Instruktur akting yang bernama Rosa itu bukan orang sembarangan. Banyak aktor berkualitas yang lahir dari tangannya. Aku aja kaget saat tahu ia mengajar kelas pemula tadi," ujar Ronald.


"Apa Rin tadi terlalu menonjol?"


"Tentu saja. Tapi tadi itu teman-teman Rin semuanya malu-malu. Rin sudah punya nilai plus. Ia tidak malu tampil di depan umum. Bahkan aktingnya itu tampak nyata walaupun perlu perbaikan di beberapa bagian."


"Aku tadi juga kaget Rin ngomong kalimat yang pernah ia dengar dari mulut aku." Hana melihat Rin yang berada di sampingnya. Rin saat ini sedang tertidur pulas di baby seat-nya. Hana menutupi tubuh Rin dengan selimut.


"Kalau aku dapat kabar audisi, aku kabari lagi. Aku nggak nyangka Rin punya bakat di dunia akting. Jangan-jangan nanti Rin bisa jadi seperti Shirley Temple."


*Shirley Temple : aktris cilik Hollywood jaman dulu.


"Aku harus cari kelas menari untuk Rin," ucap Ronald.


"Kalau menari, Rei bisa mengajari Rin. Otak Rin memang mengingat gerakan tari tapi sepertinya tubuh Rin tidak. Tapi namanya juga anak-anak."


Hana akhirnya sampai di rumah. Ia berterima kasih ke Ronald. Ia lalu membawa Rin masuk dan membaringkannya di box bayinya. ~ Aku harus hati-hati kalau bicara sekarang. Rin itu ingat semuanya.


Hana lalu beralih ke Ren. Ia sebenarnya kasihan karena Ren sering ia tinggal. Tapi membawa Ren juga merepotkan jika ia harus fokus ke Rin.


Hana bermain dengan Ren. Ren sudah mulai belajar berjalan. Ia memegangi sofa. Hana melihat kaki Ren. Ia bersyukur Ren hidup di jaman sekarang yang serba maju. Jadi walaupun tak punya telapak kaki tapi bisa diganti kaki palsu.


Ren, nanti minta papa kaki emas. ~ Hana tahu ada saatnya nanti kaki palsu Ren akan diganti dengan kaki palsu yang agak besar menyesuaikan tubuh Ren.


Malam tiba. Saatnya makan malam. Hana dan anak-anak menunggu kedatangan Lucas. Pesan masuk di ponsel Hana. Lucas mengabarkan kalau ia lembur di RS. Hana lalu memberitahu anak-anak. "Papa tidak bisa pulang. Ia harus jaga di RS karena mereka kekurangan dokter jaga."


Hana dan anak-anaknya makan tanpa Lucas. Yang merasa kehilangan tentu saja Rin. Ia yang selalu berada di dekat ayahnya.


Waktunya tidur. Hana mulai menidurkan Ren. Setelah itu Rin. Tapi tiba-tiba Rin memegangi perutnya. "Sakit ...."


"Sakit? Di mananya Rin?" Hana mengambil minyak kayu putih dan mengoleskannya ke perut Rin. Tapi sakit perut Rin tidak kunjung reda. Rin meringis memegangi perutnya. Hana segera meminta supir menyiapkan mobil untuk membawa Rin ke RS.


Hana membangunkan mama Berta dan memintanya menjaga Ren. Hana segera menggendong Rin dan membawanya ke rumah sakit.


Di rumah sakit Rin masih kesakitan. Dokter jaga memeriksa Rin.


Hana tak henti berpikir penyebab Rin bisa sakit perut. ~ Apa keracunan makanan? Tapi kami pasti juga ikut keracunan.


Rin diperiksa lebih lanjut tapi kondisi tubuh Rin baik-baik saja. Tidak ada tanda-tanda keracunan makanan atau yang lainnya.


Hana memberitahu Lucas kalau Rin sakit dan saat ini berada di UGD. Lucas langsung menuju ke tempat Hana dan Rin. Saat Rin melihat ayahnya, ia mengubah ekspresinya dari kesakitan menjadi senang saat bisa bertemu ayahnya. "Papa."


Tunggu ... Tunggu sebentar ...~ Hana mencoba mencerna apa yang terjadi ~ Rin dari sakit kok bisa jadi sembuh. Pura-pura? Betul! Rin pasti pura-pura.