Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 20 Rollin' Rollin'



“Hana ...” Lucas membuka pintu kamar mandi dan melihat Hana memandang ke test pack. Ia kawatir karena Hana terlalu lama di kamar mandi.


“Lucas ... Maaf ... Aku rasa aku hamil lagi.” Hana menunjukkan test pack dengan dua garis.


“Kenapa minta maaf. Kan aku pelakunya.” Lucas tersenyum.


Hana ikut tersenyum. Yang menjadi pikiran Hana saat ini adalah Rin. Rin masih bayi dan jika ia hamil lagi ada kemungkinan Rin tidak terurus.


Lucas tahu yang menjadi pikiran Hana.


“Kita bisa menyewa maid. Setidaknya bebanmu sedikit berkurang. Rei dan Rio juga sudah besar. Boleh dibilang mereka sudah mandiri.”


“Tapi maid itu mahal.” Hana mencemaskan kondisi keuangan Lucas.


“Apa kau pikir gajiku sedikit? Kalau cuma bayar maid aku masih sanggup.”


Hana tahu gaji Lucas berapa dan juga jumlah tabungan Lucas. Mereka sekeluarga masih bisa hidup dari bunga bank yang diterima Lucas. Tapi Hana juga tahu walaupun uang mereka banyak, mereka tetap harus berhemat karena mereka tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya.


Lucas lalu membawa Hana ke dokter kandungan untuk memastikan bahwa Hana benar-benar hamil.


“Selamat ... Istri Anda hamil.”


Lucas sangat senang. Ia memang menginginkan anak lagi tapi tidak dengan Hana. Begitu banyak yang menjadi pikirannya saat ini. Saat perjalanan pulang Hana hanya diam.


Di rumah ...


Saat pillow talk.


“Hana ... Jangan terlalu dipikirkan. Anak itu anugrah. Pasangan lain ada yang bertahun-tahun tidak bisa punya anak sedangkan kita baru aja menikah langsung dapat anak.”


Hana menganggukkan kepalanya. Ia harusnya bersyukur. Tuhan sudah mempercayakan mereka anak lagi. Lucas sebenarnya ingin punya anak lagi untuk menebus kesalahannya di masa lalu. Di saat triplet lahir, tumbuh, dari bayi ke batita sampai akhirnya mereka bertemu, ia tidak ada di samping Hana. Dengan adanya adik Rin, ia ingin berada di samping Hana membantu Hana apa yang ia bisa lakukan.


Untung di rumah ini nggak ada pohon jambu dan pohon mangga. ~ Lucas ngeri membayangkan ia harus memanjat pohon lagi.


Hana merasa mual. Ia muntah-muntah di wastafel. Rei dan Rio yang mendengarnya langsung mendatangi ibunya.


Mereka memandang Hana dengan kuatir.


“Mama nggak pa pa.”


Setelah selesai, Hana memberitahu Rei dan Rio.


“Ada adik bayi di sini.” Hana menyentuh perutnya yang masih rata.


“Adik bayi?” Rei dan Rio bersamaan berbicara.


“Iya.”


“Rei mau adik perempuan.” Rei ingin membuat trio power puff girls.


“Nggak boleh. Harus laki-laki. Kak Rei, kan sudah punya Rin. Aku belum ada. Mama sama papa nanti berdoa, ya. Minta adik Rio laki-laki.”


Tapi kehamilan Hana kali agak berbeda dari triplet dan Rin. Morning sicknessnya agak parah. Hana harus bed rest. Istirahat total.


Ia tidak bisa membersihkan rumah sehingga Lucas menyewa maid.


Supaya Hana tidak cemburu, ia menyewa maid yang setengah baya. Kerja Berta, maid berusia 50 tahun itu cukup bagus. Ia membersihkan rumah dengan baik, bahkan ia juga pintar masak. Seandainya Hana sehat, ia akan minta diajari Berta masak.


“Thank you for your help.”


“Saya juga berterima kasih. Karena Mr. Lucas, saya bisa bekerja dan tinggal di Amerika." Berta adalah imigran di Amerika yang berasal dari Meksiko. Ia tidak punya surat-surat resmi di Amerika. Lucas yang mengurus semuanya agar Berta bisa tetap tinggal di Amerika.


Rei dan Rio juga menyayangi Berta. Berta sudah seperti nenek mereka.


“Abuela.” Rei dan Rio menyebut Berta nenek dalam bahasa Spanyol.


“Rio tahu? Arti dari nama Rio itu sungai.” Berta memberi tahu Rio.


“Kalau Rei artinya apa Abuela?” Rei juga ingin tahu apa arti namanya.


“Rei itu ...“ Setahu Berta tidak ada yang bernama Rei di Meksiko.


“Rei itu nama tas.” Rio mengejek Rei. Di Amerika memang ada merk sepatu bernama Rei.


Rei memelototi Rio. Rei lalu mencari di google .


“Rei itu artinya terima kasih dalam bahasa Jepang.”


"Kak Rei yang cantik dan baik hati ... bahasa Jepangnya terima kasih itu arigatou."


Hana mendengar percakapan mereka. Reira itu diambil dari nama barat Layla. Layla jika dijepangkan menjadi Reira karena tidak ada huruf L dalam alfabet Jepang.


Rei mulai berlatih untuk penampilannya di TV. Menyesuaikan diri dengan kamera live. Ia tidak boleh melakukan kesalahan karena hanya ada satu kesempatan saja.


Tapi Rei tidak lolos babak berikutnya tapi Rei tetap tersenyum, “My father said that it is okay if I’m can't be the winner. Next year I can try agian. After all I’m still young.”


Rei tidak menangis karena kalah. Ia tahu yang namanya kompetisi pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Malah memacu Rei untuk tampil lebih baik lagi.


Tampil di acara TV tentu saja membuat Rei jadi lebih terkenal. Followernya di instagram bertambah. Belum lagi subscribernya juga bertambah. Rei sekarang membuat konten tentang masakan Meksiko dibantu Berta.


“Now I will making Mexican food. I like tacos, burritos, quesadilla, guacamole sauce, especially nachos and churros.” Rei menjelaskan. Sejak tinggal di Amerika, bahasa Inggrisnya meningkat pesat.


“Sekarang Abuela akan bikin saus guacamole. Pertama-tama kita haluskan alpukat dulu. Rei paling suka kalau alpukat dibikin jus. Apalagi kalau ditambah susu kental manis coklat. Sedap.”


“Langkah kedua kita campur dengan air lemon. Saus guacamole ini bisa jadi isian sandwich atau ditaruh di salad.”


Rei lalu mengoles suas guacamole yang sudah jadi di atas roti tawar yang baru saja dipanggang.


“Luar biasa Abuela.”


Mereka lalu membuat churros. Karena harus digoreng jadinya Berta yang menggorengnya. Terlalu berbahaya untuk Rei.


Mereka kemudian selesai rekaman. Rei membawa sandwich dengan saus guacamole juga churros ke kamar Hana.


“Ma ... Rei bawain Mama sandwich sama churros.“


Hana menyantapnya ~ Enak. Buatan mama Berta memang enak-enak.


Melihat Hana yang terbaring lemah, Lucas ingin menghiburnya. Ia minta diajari menari oleh Rei.


“Papa coba nari. Rei mau lihat level papa di mana.”


Lucas mulai menari. Rio yang melihatnya hanya bisa menepuk jidatnya.


Rio berbisik ke Rei, “Lebih parah dari mama. Kalau mama itu robot. Papa itu manekin.”


“Papa ... Dance-nya papa itu ...“ Rei mau berkata yang sesungguhnya tapi ia tahan. Ia takut menyakiti hati ayahnya dan membuat ayahnya tidak mau menari lagi.


“Papa harus banyak berlatih. Nanti tarian papa pasti jadi bagus.”


Lucas mulai menari di bawah bimbingan Rei. Mereka sudah memutuskan untuk menari Rollin’ dari girl group Korea Brave girls. Grup yang sudah hampir bubar. Bahkan membernya sudah bersiap untuk meniti karir yang lain. Lagu Rollin’ lah yang membuat mereka tenar.


🎶


Rollin’, rollin’, rollin (hey)


Rollin’, rollin’, rollin (hey)


Rollin’, rollin’, rollin


🎶


Rei sengaja menyingkat lagu tersebut. Hanya bagian pentingnya yang ia ajarkan ke papanya.


“Pa ... Seperti ini.” Rei memperagakan gerakan seperti orang sawah.


Lucas mulai meniru Rei.


Rio melihatnya ~ Papa cocok jadi orang-orangan sawah.


Sebenarnya Rio ingin memvideo papanya berlatih menari tapi sudah Lucas wanti-wanti karena Lucas tidak ingin diejek teman-temannya.


“Papa ... Pinggulnya digerakin juga.”


Lucas menggerakkan pinggulnya.


“Kemudian gerakan imut.” Rei meletakkan tangan kanannya di pipi kanannya.


“Pantatnya digerakkin juga.”


“Terus gerakan seperti ikan pari.” Rei menaruh kedua tangannya di kepala.


Sebenarnya Rei ingin mengajarkan seluruh koreografi tapi melihat kemampuan Lucas, lagu yang awalnya tiga menit dipangkas Rei jadi 30 detik saja.


Saat di ruangan kerjanya di rumah sakit, Lucas juga berlatih. Saat suster mengetok pintunya, ia buru-buru mematikan musik.


Malam harinya ...


“Papa sudah siap?”


“Sudah.”


Lucas, Rei dan Rio masuk ke kamar.


“Ma ... Papa mau nari. Beri tepuk tangan buat Papa.” Rei mencoba menjadi MC. Ia lalu menjauh dari ayahnya. Ia mulai memainkan musik.


🎶


Rollin’, rollin’, rollin (hey)


Rollin’, rollin’, rollin (hey)


Rollin’, rollin’, rollin


🎶


Lucas menari seperti yang diajarkan Rei. Tapi tentu saja hasilnya tidak sama seperti saat Rei menari. Hana seperti mendengar suara kriet kriet, bunyi pintu lama yang belum dioles minyak dari tubuh Lucas. Tapi Hana merasa sangat terhibur.


Lucas...


Terima kasih.