
Saat ini di rumah hanya ada Hana dan Rin. Lucas berada di rumah sakit. Rei dan Rio bersekolah. Lukman dan Lucy sedang berada di negara bagian lain untuk mengecek perusahaan Luke. Mama Berta sedang libur. Ia keluar rumah menemui temannya.
Sepi, ya, Rin.
"Mama ..." Rin memanggil Hana.
"Iya."
Hana merasa mulas. Ia cepat-cepat masuk ke kamar mandi. Setelah selesai, ia tahu ada yang salah. Perutnya terasa sakit.
Apa ini?
Hana melihat ada air mengalir dari kakinya. Air itu sekarang berubah jadi merah.
Air ketuban?
Darah?
Rin mendekati kamar mandi. Ia bisa melihat darah di bawah kaki ibunya.
"Rin, ambilin hp mama."
Rin segera menuju ranjang tempat Hana meninggalkan ponselnya tadi. Ia menyerahkan ponsel ke Hana.
Hana mencoba menghubungi Lucas. Tapi tidak diangkat. Hana lalu menelpon 911, nomor darurat di Amerika.
"Hello."
"I need your help. Saya akan melahirkan. Air ketuban saya sudah pecah bercampur darah."
"Kami akan mengirimkan ambulan."
Tak lama kemudian ambulan datang. Rei dan Rio yang baru saja pulang sekolah kaget melihat ada ambulan di depan rumah mereka.
"Ada apa, ya, Rei?" Rio cemas.
Siapa yang sakit?
Mereka buru-buru masuk ke dalam rumah. Mereka melihat Hana sudah berada di ranjang beroda. Tangan dan tubuh Rin juga bernoda darah.
Rei menggendong Rin. Mereka bertiga ikut menemani Hana ke rumah sakit.
"Rei ... Rio takut mama ..." Rio menangis. Saat ini Hana dalam kondisi tidak sadar. Sedangkan pakaian Hana mulai berwarna merah.
"Remember what Daddy said 'Don't panic.'" Lucas mengajari Rei dan Rio untuk tidak panik di situasi darurat. Rasa panik tidak akan membantu mereka.
"Mama ..." Rin mulai menangis. Ia berusaha membangunkan Hana.
Ambulan tiba di rumah sakit. Dokter segera mengoperasi Hana.
"Isn't that your daughters and son?" Dokter teman Lucas mengenali Rei dan Rio.
Lucas melihat arah yang ditunjuk temannya. Lucas segera menghampiri anak-anaknya.
"Apa yang terjadi?" Lucas tahu sesuatu yang buruk terjadi saat melihat tubuh Rin.
"Mama, Pa." Rei ikut menangis. Ia tadi berusaha tegar untuk adik-adiknya. Tetapi saat ada papanya ia bisa menumpahkan emosinya.
Lucas dan anak-anaknya menunggu operasi selesai. Tak lama kemudian Ren lahir.
Dokter membersihkan dirinya. Ia keluar dari ruang operasi dan memberitahu Lucas dan keluarganya bahwa Ren selamat. Hanya saja untuk Hana tidak begitu baik. Hana kehilangan banyak darah. Ia kritis.
Lucas melihat Ren. Ia lalu melihat Hana.
"Bangun, sayang. Aku dan anak-anak masih butuh kamu."
Sedangkan itu di alam bawah sadar Hana ...
"Ryu ... Ryu ... Mama kangen." Hana memeluk Ryu. Sudah lama Ryu tidak datang dalam mimpinya. Ia sudah begitu merindukan Ryu.
"Ryu juga kangen, Ma." Ryu memeluk Hana.
"Ryu pasti betah di sini sampai lupa sama Mama." Hana melihat sekitarnya.
Tempat paling indah yang pernah ku lihat.
Hana dan Ryu berbincang-bincang.
"Ryu sekarang punya adik lagi. Namanya Ren. Ia laki-laki." Hana memberitahu Ryu. Ia memeluk Ryu lagi. Ia tak ingin lepas dari Ryu.
"Ma ... Ren bilang ia mau jadi pemain bola."
"Pemain bola? Tapi kaki Ren ..."
"Nanti Ren pasti punya kaki. Minta papa beliin kaki yang bagus buat Ren, ya, Ma."
Hana menganggukkan kepalanya. "Ryu tenang aja. Uang papa itu banyak. Pasti papa bisa beli yang paling canggih dan paling bagus.,"
"Maksud Ryu?"
"Mama harus pulang."
"Pulang? Mama masih pengen di sini. Mama nggak mau pisah sama Ryu."
"Papa, kak Rei, kak Rio, Rin dan Ren masih butuh mama. Mereka menangis melihat mama tidak sadar-sadar."
"Mama mau balik tapi Ryu juga harus ikut Mama."
"Mama tahu, kan itu nggak mungkin. Suatu saat nanti kita pasti ketemu lagi." Ryu tersenyum.
Hana merasa tubuhnya terasa tersedot dalam lubang hitam.
"RYUUUUU ..."
Di dunia tempat tubuh Hana berada. Alat detak jantung Hana menunjukkan tanda-tanda tidak baik. Lucas segera memanggil dokter yang berjaga.
Dokter itu lalu menempelkan alat kejut jantung ke dada Hana.
"Mama ..." Rei dan Rio tahu kalau Hana berada dalam kondisi kritis. Mereka menangis lagi. Mereka takut kehilangan mamanya.
Sekali alat kejut jantung itu ditempelkan. Tapi tidak ada perubahan. Dokter menaikkan angka alat itu. Menjadi lebih tinggi.
Saat kedua kalinya barulah detak jantung Hana kembali normal. Lucas bernapas lega. Ia belum siap kehilangan Hana. Untuk saat ini ia dan anak-anak masih menunggu Hana sadar.
"Tuhan jangan ambil mama." Rei dan Rio berdoa. Mereka masih ingin Hana tetap bersama mereka.
"Rei janji nggak akan habisin lipstick mama lagi." Rei berjanji.
"Rio juga janji nggak akan ambil jatah es krim mama lagi."
Rin cuma bisa mengatupkan kedua tangannya seperti kakak-kakaknya. Ia belum bisa bicara panjang lebar.
'Mama ... Yin ... Caci ..."
Rin nggak akan takut-takutin mama lagi.
(Jika Rin menemukan cacing di tanah yang ia gali, ia akan mendekatkan cacing itu ke Hana. Untuk membuat Hana geli.)
"Beneran semuanya itu?" Hana bangun dari tidur panjangnya.
"Mama ..." Rei, Rio dan Rin langsung mendekati Hana. Mereka merasa lega, Hana bisa sadar kembali. Terutama Lucas. Ia menangis karena bahagia. Hana masih bisa bersama-sama mereka.
Lucas lalu memanggil dokter yang berjaga. Sebagai seorang dokter, ia bisa saja memeriksa Hana tapi ia tidak ada wewenang untuk memeriksa Hana.
"Everything okay. Don't worry anymore."
Lucas benar-benar merasa lega.
"Aku mau lihat Ren."
Lucas mengambil Ren dari box bayinya. Hana melihat kaki kiri Ren. Hana menghembuskan nafasnya. Ren tidak punya telapak kaki seperti yang pernah ia lihat di layar monitor dokter.
Ren tenang aja.
Papa pasti beliin kaki palsu buat Ren.
Setelah satu Minggu, dokter memperbolehkan Hana dan Ren pulang ke rumah. Lukman dan Lucy ikut menjemput.
Lucy menggendong Ren. Hana digandeng Lucas menuju ke mobil.
Lukman membawa Hana dan Ren pulang.
Di rumah ...
Mama Berta memandikan Ren. Ia pernah menjadi suster. Jadi, ia sudah terbiasa dengan bayi dan kebutuhannya.
Hana lalu menyusui Ren.
Ren harus minum banyak-banyak.
Biar cepet gede.
Rin memperhatikan Ren.
"Yen." Rin tersenyum. Dibalas oleh Ren dengan semyuman juga. Seolah-olah ia mengerti kalau kakaknya memperhatikan dia.
Rin terkadang membantu Hana merawat Ren. Begitu Ren mau ganti popok, Rin membawakan popok bersih untuk Ren. Walau terkadang ia salah bawa. Popok yang ia bawa popok yang biasa ia pakai. Sedangkan popok Ren lebih kecil dari yang dipakai Rin.
"Yen ..." Rin melihat kaki kiri Ren. Ia melihat kakinya sendiri. Ada yang berbeda dari kaki Ren. Rin lalu mengambil telapak kaki Apple dan meminta Hana memasangnya ke kaki Ren.
"Ren nggak bisa pake kaki Apple. Tunggu Ren agak besar. Nanti Papa beliin Ren kaki palsu."