
Hana terbangun saat hari sudah siang. Lucas sudah memberitahu orang-orang di rumah untuk tidak membangunkan Hana. Ia tahu kemarin Hana tidur larut malam. Menangisi kemalangan Ren.
“Hana ... Malam ini tangisi apa yang mau kau tangisi. Besok kau sudah harus bisa menerimanya,” ucap Lucas saat memeluk Hana untuk menenangkan Hana.
Hana terbangun dengan posisi tubuh berada di tengah ranjang. Ia melihat ke arah kirinya.
Tidak ada siapa-siapa.
Ia melihat ke arah kanannya. ~ Tidak ada siapa-siapa juga.
Hana langsung meletakkan tangannya di bawah punggungnya. ~ Apa Rin kegencet?
Tapi tidak ada Rin di bawah tubuhnya. ~ Syukurlah ku pikir Rin ketindis.
Hana melihat pintu kamar yang terbuka sedikit. Ia buru-buru langsung keluar kamar. Ia takut Rin kabur jika tidak ada yang menjaga. Tapi ternyata Rin sudah rapi. Ia duduk di kursi anaknya sambil bermain kerangka manusia yang seukuran boneka Barbie. Ia sedang mencoba memasangkan rok boneka Barbie milik Rei yang dihibahkan ke Rin.
Iya ... Lucas membelikan lagi kerangka manusia ukuran extra mini sehingga lebih mudah bagi Rin untuk dibawa ke mana-mana karena Lucas melihat box bayi penuh jika Rin tidur bersama Apple.
“Mama ... “ Rin memanggil Hana.
Hana tadi sudah kuatir jika Rin keluar kamar tanpa pengawasan. Hana membuka kulkas. Ia melihat di dalamnya ada banyak cake dalam cup dengan krim buatan Lucy.
Semalam saat Hana di kamar, seluruh anggota keluarga berkumpul termasuk mama Berta. Mereka merencakan project untuk membuat Hana terhibur dan meningkatkan berat badan Hana. Selama hamil Ren, berat badan Hana tidak bertambah banyak. Hanya perutnya saja yang menonjol tapi badannya tetap seperti biasa.
Lucy membuat cake yang memang kesukaan Hana. Saat di kota B walaupun tidak ada yang berulang tahun Hana sering membeli cake. Sedangkan Lukman membuat makanan favorit Hana. Hanya Rin saja yang tidak dilibatkan karena ia masih terlalu kecil.
“Hana ... Apa kau lapar?” Lukman bertanya.
“Iya, Pa.” Hana menganggukkan kepalanya. Energinya sudah habis karena menangis terus.
Lukman menyodorkan gado-gado siram Surabaya ke Hana. Hana memakannya.
Ini rasa yang aku suka.
“Enak, Pa.” Selama ini Hana selalu hunting makanan Indonesia di Amerika tapi gado-gado yang ia suka rasanya berbeda dari yang biasa ia suka makan.
“Saus kacangnya lebih enak dari yang pernah Hana makan selama ini.”
“Iya ... Papa tambahin kacang mede biar tambah sedap.”
“Papa kalau buka restoran pasti laku. Masakan buatan papa itu enak-enak. Pasti pelanggannya pada balik lagi dan lagi.”
Lukman tersenyum mendengar pujian Hana.
Setelahnya Hana mencicipi cake in the cup buatan Lucy. Di dalam cup sudah ada layer-layer red velvet cake yang dilapisi krim keju. Krim paling atas di taburi topping kacang walnut.
Enak banget.
Cream cheseenya kerasa banget.
Mama Lucy nggak pernah pelit pake bahan.
Hana ingin mengambil lagi cup yang kedua tapi ia sudah terlalu kenyang. Hana kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, ia melihat dirinya di cermin. Matanya masih terlihat bengkak karena semalaman menangis. Ia melihat perutnya yang sudah menonjol karena Ren.
“Ren ...” Hana mencoba berbicara dengan Ren.
Ren menendang perut Hana.
“Ren ... Sepertinya mama bakal lebih sayang ke Ren daripada kakak-kakak Ren. Nanti pasti yang lain protes karena mama lebih sayang sama Ren. Tapi itu hak istimewa anak bungsu. Nenek Lucy sudah punya Rei. Kakek Lukman punya Rio. Papa Lucas punya Rin. Tinggal mama Berta yang belum. Ren mau punya adik?”
Ren menendang perut Hana tanda setuju.
“Ren maunya adik perempuan?”
Ren diam.
Ren menendang perut Hana.
”Berapa? Satu?”
Ren hanya diam.
“Dua?”
Ren masih diam .
“Tiga?”
Ren menendang perut Hana.
“Tiga!? Mau bikin boyband sama kak Rio? Atau bikin tim futsal?”
“Tapi mama nggak tau sanggup atau tidak. Kalau papa sanggup aja biayainnya. Tapi sebelum itu kita pilih nama buat adik Ren. Kalau perempuan mama sudah ada nama yaitu Ran yang artinya anggrek. Tapi kalau laki-laki mungkin Romeo atau Leon dari aktor Hollywod Leonardo di Caprio karena papa pinginnya punya anak yang inisialnya L. Mama paling suka nonton Titanic tapi Ren belum boleh nonton kalau belum cukup umur. Tunggu Ren gede, ya. Tapi kalau dikasih nama Leon bakal dirubah kak Rio jadi lele.” Hana jadi berpikir ulang.
Hana lalu menuju ke kasurnya. Ia mulai browsing tentang kaki palsu. Dari sana ia bisa melihat jenis-jenis kaki palsu. Ada yang model biasa, ada yang bergambar, ada yang mirip robot dan ada yang berbentuk huruf C.
Tak hanya itu saja ternyata orang dengan kaki yang cacat atau diamputasi karena penyakit atau kecelakaan ada yang menjadi model, pesenam. Bahkan atlet di paralympic (paralimpiade). Mereka tidak kalah hebat dari manusia normal.
Betul kata Lucas, teman-teman Ren bakal takjub lihat kaki canggih milik Ren.
Kalau saja mama bisa sumbangin kaki mama, mama bakal kasih kasih mama ke Ren.
...🌼🌼🌼...
Rin yang biasanya selalu ingin dekat Lucas menjadi lebih dekat ke Hana beberapa hari ini. Seolah-olah ia tahu kalau Hana lebih membutuhkan dirinya daripada ayahnya.
Hana sedang bermain bersama Rin saat ini. Rin sudah memakai jas dokter mini seperti ayahnya. Lengkap dengan stetoskop mainan.
“Bu dokter ... Saya sakit perut. Lihat ... Perut saya besar sekali, kan?” Hana memperlihatkan perutnya yang memang besar. Rin mendekati Hana ia menyentuhkan stetoskopnya ke perut Hana. Menyuntikkan jarum suntik mainan ke panta* Hana.
“Obatnya dokter?” Hana meminta obat ke Rin. Rin lalu mencium perut Hana.
Di lain waktu Hana merajut benang wol. Membuat topi untuk boneka Barbie milik Rei dan Strawberry, kerangka manusia extra mini milik Rin. Rin melihat Hana menggerakkan jarum rajut. Selain topi, Hana juga bia membuat dress dari benang rajut. Tapi topi lah yang paling mudah dibuat dan membutuhkan waktu yang sedikit.
“Sudah jadi.” Hana selesai membuat topi warna pink dari benang wol dan memasangkannya ke kepala Strawberry.
“Rei yang ini, Ma.” Rei memberikan benang wol berwarna merah ke Hana. Ia mengukur kepala Barbie dan mulai merajut. Tak lama kemudian jadilah topi.
“Rin ... Lihat Barbie dan Strawberry kayak anak kembar.” Rei tadi memasangkan baju boneka Barbie yang sama warna dan model ke Barbie miliknya dan Strawberry.
Rei lalu bermain bersama Rin.
Hana melihat keluar jendela. Di luar sana sedang hujan.
Hujan ...
Aku sudah bisa menerima kenyataan kalau Ren cacat.
Walaupun aku masih menyalahkan diriku atas kecacatan Ren ...
Tapi aku beruntung, Papa Ren, kakek dan nenek Ren, kakak-kakak Ren tidak malu atau membenci Ren.
Mereka tetap mendukungku.
Terutama Rio, ia ingin Ren cepat lahir.
Rio ingin punya teman di rumah seperti Rei dan Rin.
Lamunan Hana buyar saat ia mendengar suara klakson mobil Lucas yang baru saja pulang dari rumah sakit.