Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 130 Kebenaran Yang Terungkap



Keesokkan harinya Lucy datang sambil membawa kotak besar berisi camilan untuk dibagikan ke reporter dan kru dari infotainment.


Hana sudah bersiap sedari tadi. Ia mengecek penampilannya berulang kali di depan cermin. Ia benar-benar gugup.


Kru infotainment datang. Kameraman menyiapkan kameranya. Rin diberi mic. "One, two, three." Rin mencoba mic.


Syuting dimulai.


"Halo pemirsa. Hari ini Rin mau nunjukin kegiatan Rin." Rin lalu mengajak kameraman berkeliling.


"Ini kamar kakak Rei."


"Ini kamar kakak Rio."


"Dan ini kamar Rin." Rin menunjukkan isi kamarnya. Rata-rata koleksi kerangka mini. "Rin paling suka sama kerangka. Ini hadiah dari papa." Rin menunjuk kerangka yang seukuran manusia.


Rin lalu keluar kamar. Ia memperlihatkan Cici, chincilla peliharaannya. "Cici." Rin mengambil Cici dari kandang.


"Rin suka Cici karena bulunya itu lembut banget." Cici tiba-tiba meloncat. Ia kabur.


"Cici ..." Rin berusaha mengejar Cici. Untunglah Lukman berhasil menangkap Cici.


"Terima kasih, Opa." Rin mengembalikan Cici ke kandang.


Sekarang mereka akan mewawancarai Hana. Hana memegang mic tetapi hanya berkata. "E ... E ...E ..."


"Maaf saya gugup. Mama aja yang ngomong ." Hana menyerahkan mic ke Lucy.


"Rin memang sudah terlihat berbakat sejak kecil. Ia cepat menghafal apa yang dikatakan oleh orang lain. Sepertinya itu yang membantunya untuk menghafal skenario. Saat film Hold My Hand Rin bahkan belum bisa baca. Ia menghafal apa yang dikatakan oleh papanya." Lucy berbicara dengan lancar.


Reporter itu bertanya. " Apa benar ayah Rin itu bukan Lucas?"


Ronald langsung menghentikan wawancara. "Pertanyaan tadi tidak ada dalam list yang Anda berikan kemarin."


Akhirnya reporter itu mengganti topik lain. Tetapi Rin yang berada di sana mendengar dan mengingatnya.


Otak Rin mengolah informasi itu. Selama ini ia menganggap dirinya anak mama Hana dan papa Lucas. Bukan anak orang lain. Kenapa? Karena wajahnya, warna kulitnya mirip dengan kakak-kakaknya.


Kalau Ricka memang beda ayah dan Rin sudah tahu itu. Karena Ricka mirip ayahnya dari segi warna kulit yang lebih gelap juga rambut yang agak bergelombang.


Syuting dilanjutkan ke lokasi Rin syuting film barunya.


"Pemirsa, sekarang Rin mau syuting."


Kameraman merekam Rin yang sedang beradu akting. Adegan Rin sedang menghibur ibunya dalam drama.


"Mama." Rin memeluk pemeran ibu.


Infotainment selain meliput keseharian Rin, mereka juga mewawancarai pemeran lain.


"Rin itu anaknya sopan, baik, aktingnya juga bagus," ucap pemeran ibu Rin di drama.


"Pertama saya kaget saat tahu Rin suka koleksi miniatur kerangka," ujar pemain lain.


"Terima kasih sudah nemenin Rin seharian ini. Bye bye." Rin menyelesaikan syuting.


Di rumah.


Lucas sedang berbincang dengan Hana. Ia berencana mengunjungi makam Luke besok.


"Aku mau ke makam Luke. Kamu mau ikut?"


"Kapan?"


"Besok."


"Aku ... Aku besok nggak ikut."


Lucas tidak memaksa Hana. Jelas trauma saat kejadian Rin itu masih ada.


Keesokkan harinya.


Lucas mengemudikan mobilnya menuju pemakaman. Ia mengunjungi makam Luke.


"Hai, Luke." Lucas menyapa batu nisan Luke.


"Rin sekarang sudah besar." Lucas menunjukkan foto-foto Rin.


"Makin lama ia mirip kamu. Ia pintar. Jago akting juga. Aku jadi fans nomor satunya." Lucas berbicara lagi.


Tiba-tiba Hana menelpon. "Lucas, Rin nggak ada di kamarnya. Seluruh rumah juga nggak ada." Hana menangis. Ia tadi hendak membangunkan Rin karena ada syuting drama.


"Coba cari lagi di kebun belakang rumah. Siapa tahu ia lagi petik buah berry."


"Iya."


"Aku pulang sekarang."


Lucas hendak kembali ke mobil. Saat berbalik, ia melihat Rin berdiri tepat di depannya.


Dengan uraian air mata, Rin bertanya. "Rin bukan anak Papa?"