Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 94 Kecil-kecil Bertunangan



Hana mempersilakan Martha, Matthew dan Mark untuk masuk. Hana melihat Matthew dan Mark yang mengenakan jas dan dasi kupu-kupu. Sedangkan Martha berpakaian agak wah.


Apa mereka mau ke kondangan habis ini?


Ren yang mencium bau makanan manis mendekati Mark yang membawa sekotak donat dengan aneka topping. Mark lalu menyerahkan kotak donat ke Ren.


Sedangkan Matthew memberikan buket bunga mawar buat Rin dengan pembungkus bunganya bercorak tengkorak dan kerangka manusia


Mereka lalu duduk di sofa.


Martha mengungkap alasan kedatangannya ke sini."Saya datang ke sini ingin menikahkan Matthew dengan Rin."


APA!? Hana dan Lucas sama terkejutnya. Mereka mengira salah dengar.Rin dilamar?


Martha melihat ekspresi shock di wajah Hana dan Lucas. "Maaf jika membuat Anda terkejut. Apa papa Rin juga bisa duduk bersama kita?" Martha melihat ke arah Richard yang duduk agak jauh dari mereka. Ia mengira Richard lah ayah Rin.


"Saya papa Rin." Lucas memperkenalkan dirinya.


"Eh? Bukannya papa Rin itu?"


"Dia memang papa Rin." Hana menegaskan. Walaupun ayah kandung Rin adalah Luke.


Martha lalu berbicara lagi. "Tentu saja mereka tidak menikah saat ini. Tunggu mereka cukup umur. Jadi, jangan nikahkan Rin dengan pria lain."


Hana tergagap. "Tapi ... Tapi ..."


Martha lalu berbicara dengan Rin. "Rin mau kan nikah dengan Matthew?"


Rin mengangguk.


Lucas menoleh ke arah Rin. Rin masih kecil. Apa ia tau tadi ia setuju apa.


Martha lalu menunjukkan sesuatu. "Anda tak perlu kuatir. Hidup Rin akan terjamin."


Lucas dan Hana saling berpandangan. Mereka tahu suatu saat nanti. Mungkin dua puluh tahun lagi, akan ada pria yang datang melamar Rin. Tapi saat ini terlalu cepat. Masuk SD aja belum.


Martin, suami Martha, ayah Matthew dan Mark adalah pemilik Wally Mart. Jaringan mini market yang tersebar di seluruh negara bagian.


"Matthew dan Mark akan mewarisi usaha ayahnya. Selain Rin, saya juga hendak meminta Ricka untuk Mark."


Richard yang mendengar dari jauh dan baru saja hendak meneguk kopi hangatnya tersedak. Ia tidak menduga, anaknya yang belum lahir sudah ada yang mau.


"Anda harus bertanya ke papanya Ricka juga." Hana menunjuk Richard.


"Tidak. Tidak seperti itu." Hana takut dikira poliandri.


"Saya menikah dengan Lucas. Kalau Richard hanya ... "


"Hanya teman." Hana melanjutkan. Betul. Aku dan kak Richard hanya sebatas teman sekarang.


"Tapi bagaimana bisa kau mengandung Ricka? Apa ia memaksamu?"


"Tidak. Tidak ada paksaan."


Hana melanjutkan. "It's a long story (Ceritanya panjang)." Hana enggan menjelaskan panjang lebar. Nanti mungkin saat ia sudah lebih dekat dengan Martha, ia akan menceritakannya.


Hana berkata lagi sambil menyentuh perutnya. "Tapi bisa saja anak saya ini lelaki."


"Jika laki-laki, saya akan melahirkan adik perempuan Matthew dan Mark," kata Martha.


WHAT? Hana shock kembali.


"Tapi kita belum begitu saling mengenal. Apa Anda serius tentang ini?" Hana bertanya. Ia mengira Martha hanya bercanda. Gurauan sesaat. Rin aja baru masuk sekolah.


"Saya serius. Apa Anda tahu? Mencari jodoh buat anak saya itu sangat sulit. Sejak masih di kandungan saja sudah ada yang menginginkan Matthew dan Mark." Martha sering mendapat foto anak perempuan untuk dijadikan istri Matthew dan Mark.


"Lucas, kau setuju?"


Lucas menatap Martha. "Rin masih kecil. Ia belum tahu tentang pernikahan. Saya ingin Rin menikah dengan pria yang ia sukai."


Martha bertanya ke Rin. "Rin suka Matthew?"


"Suka." Rin langsung menjawab.


Lucas masih ngotot. "Tapi apa Matthew suka Rin?" Lucas mencari-cari alasan.


Martha bertanya ke Matthew. "Matt, do you like Rin?"


"I yove Rin (I love Rin)."


"Tapi ..." Lucas masih tidak ingin terikat terlalu cepat.


"Apa Matthew tidak layak buat Rin?"


"Tidak. Tidak seperti itu." Lucas sangat tahu betapa kayanya keluarga Wally. Keluarga yang sudah dikenal sultan di negara bagian yang mereka tinggali saat ini.