
Saat ini Hana dan keluarganya sedang berada di hotel.
Ren bermain bersama Ricka. Mereka sedang mencorat coret papan dengan spidol yang mudah dihapus.
Ricka menggambar lingkaran besar. Kemudian lingkaran agak kecil di atasnya. Dan juga garis panjang di kiri dan kanan.
"Yicka gambay apa?" Ren melihat gambar Ricka yang menyerupai orang gemuk itu. Lingkaran yang dibuat Ricka memang tidak mulus dan penuh gelombang.
"Kaka ..."
"Kakak Yen?"
"Iya."
"Kakak Yen gemuk?"
"Iya."
"Yicka juga gemuk."
"Yicka kuyus." Ricka tak ingin dibilang gemuk. Walaupun perut Ricka juga sedikit buncit tetapi tidak sebuncit Ren.
Hana yang lapar ingin memakan makanan Indonesia. Ia mengambil sesuatu dari kopernya.
"Yen mau opoy ayam." Ren melihat makanan di tangan Hana. Makanan siap santap yang bisa dipanaskan dengan direndam air panas atau microwave.
"Tanya kakak Rei, kakak Rio, sama papa. Mereka mau apa."
Tak perlu disuruh dua kali Ren langsung bertanya. "Kakak mau apa? Ada opoy ayam, kaye ayam, sate Padang."
Rei menjawab. "Kare."
Sedangkan Rio, "Sate Padang."
Ren melihat Lucas. "Papa?"
"Papa ikut makan punyanya Ren." Lucas menggoda Ren.
"Nggak boyeh. Nanti Yen nggak kenyang." Ren protes. Satu porsi itu terkadang tidak cukup bagi Ren. Apalagi jika harus berbagi.
"Ren yang pilihin buat Papa."
"Okay." Ren lalu menuju ke Hana yang sudah selesai memanaskan opor ayam untuk Ren. Hana juga sudah memotong-motong ketupat agar mudah disendok Ren.
"Makasih Mama." Ren mulai duduk di meja makan.
"Kakak Yei mau Kaye. Kakak Yio mau sate. Papa terserah." Ren memberitahu Hana.
Hana mengeluarkan mangkuk kedua yang berisi opor ayam untuk Lucas. Ia mulai memasukkan kare untuk Rei.
Tiga menit kemudian. Microwave berbunyi.
Mereka akhirnya bisa makan bersama.
Mereka mulai merencanakan kegiatan mereka.
"Rei mau ke Harajuku."
"Rio mau ke Shibuya."
"Yen mau ke Akihabaya."
"Yicka ...Doyaemon, heyyo Kitty." Ricka hanya ikut saja mereka pergi ke mana. Ia tak tahu daerah Tokyo. Ia tahunya Doraemon, kucing sahabat Nobita yang takut dengan tikus.
Lucas mendapat panggilan telepon. Raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran. Ia agak menjauh dari meja makan.
Hana melihat Lucas. Ia ikutan khawatir. Ada apa? Sepertinya bukan berita baik.
Lucas lalu memutuskan panggilan telepon. Ia kembali menuju ke meja makan. "Sepertinya acara jalan jalan di Tokyo harus kita batalkan. Kakek masuk rumah sakit."
Lucas lalu mengajak Hana bicara berdua. "Papa tadi telepon. Ayah masuk rumah sakit. Serangan stroke yang kedua. Saat ini kondisinya kritis."
Hana mulai menangis. Lucas memeluknya. Tetapi mereka tidak bisa berlama-lama lagi.
Lucas lalu memesan tiket. Sedangkan Hana dan anak-anaknya mulai beberes. Mereka akan segera pulang.
Di pesawat.
Hana menangis lagi. Ia berdoa semoga ia masih diberi waktu untuk bertemu ayahnya selagi ayahnya masih bernafas.
Lucas memeluk Hana.
"Lucas, aku takut ayah ..."
"Kita hanya bisa berdoa. Hidup dan mati seseorang tetap di tangan Tuhan." Lucas tidak bisa memberi harapan lebih. Menurut informasi yang ia dengar dari Lukman, tipis harapan bagi Budiman untuk bertahan hidup.
Serangan stroke pertama memang bisa dilalui oleh Budiman. Tetapi yang kedua kali akan lebih berat daripada yang pertama.
"Mama." Ricka memanggil Hana. Hana segera menghapus air matanya. Ricka ingin menghibur Hana. Ia juga hanya bisa memeluk Hana.