Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 82 Penerus



Alex sudah diperbolehkan pulang. Sesekali Hana menengok Alex. Membawa makanan bergizi karena Hana melihat Alex itu seperti sebatang kara.


Richard juga tidak mempermasalahkannya karena saat ia menyelidiki Alex, catatan Alex sangat bersih. Tidak ada catatan kriminal. Usaha yang Alex punya juga cukup maju dan menghasilkan banyak uang.


Terkadang Rio juga mampir saat menghadapi jalan buntu untuk hal-hal yang berhubungan dengan teknologi. Alex melihat bakat Rio.


"Wanna work with me?" Alex melihat potensi Rio yang luar biasa.


"How much you pay me?" Rio bertanya gajinya.


"How much do you want?" Alex bertanya balik ke Rio berapa yang Rio mau.


"I can't work right now. My father want me to finish school." Rio menolak untuk bekerja. Ia disuruh Lucas untuk sekolah sampai selesai.


"After you finish your school, you can work with me." Alex berencana meneruskan perusahaannya ke Rio.


"Uncle."


"You can call me Alex." Alex ingin Rio menyebut nama saja. Di Amerika tidak masalah menyebut nama saja meskipun lebih tua.


"No, no, no. My mom will pinch my ear." Rio ngeri membayangkan jeweran di telinganya. Rio lalu meminta bantuan untuk mengupgrade pelacak Rin lagi. Sampai sekarang Rio belum berhasil membuat aplikasi pelacak yang bisa merekam jejak pelacak berada di mana saja.


"If you enter this code ..." Alex mengajari Rio.


"Uncle. How to ..." Rio minta diajari membuat pelacak siluman. Karena setiap kali Rin masuk rumah Alex, Rin harus melepas antingnya yang sudah ditempel pelacak.


"It's homework for you." Alex ingin Rio mengerjakannya terlebih dahulu. "I give you one week." Alex memberi Rio waktu seminggu. Tentu saja Alex juga memberi bantuan berupa buku dan video untuk Rio pelajari.


Sedangkan Hana yang kepo tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya di mana istri Alex. "Where is your wife?"


"My wife ..." Alex ragu untuk bicara. "She is ... can we not talk about it?" Alex tidak ingin membicarakan perihal istrinya.


"Your daughter?" Hana menanyakan putri Alex yang tak pernah kelihatan.


"She ..." Air mata Alex menetes. Rin memeluk Alex. Hana merasa bersalah. Ia merasa telah melanggar batas. Ia meminta maaf ke Alex. "I'm so sorry."


"She drowned." Alex sudah tak sanggup berkata-kata lagi.


Hana tahu seperti apa kehilangan anak itu. Berat. Bahkan ia sudah bisa dibilang gila saat Ryu meninggal dulu. Jika tak ada Lucas, mungkin ia akan berada di rumah sakit jiwa saat ini.


...***...


Sudah waktunya bagi Hana untuk mengecek kandungannya. Ia sengaja tidak mengunakan test pack.


Dokter memeriksa Hana dan dokter menyatakan Hana hamil. Hana senang. Apalagi Richard. Kegigihan mereka membuahkan hasil.


Sekarang Hana tinggal menunggu tiga bulan untuk bisa pulang ke Indonesia. Sampai trisemester kedua karena terlalu beresiko jika ia naik pesawat di trimester pertama. Ia langsung mengabari Lucas. "Lucas, aku hamil. Tiga bulan lagi kita bisa kumpul lagi." Mata Hana berseri-seri.


"'Kumpul?'"


"Iya. Aku sudah nggak sabar ketemu. Aku sudah kangen berat."


"Seberat apa?"


"Gajah."


"Kurang berat."


"Brontosaurus." Hana langsung menyebut dinosaurus yang berbadan besar.


"Jangan sampai lelah. Sering-sering istirahat. Ingat saat Ren dulu." Lucas tak ingin perpisahannya dengan Hana berlangsung lebih lama lagi. Sudah cukup perpanjangan waktu karena kegagalan bayi tabung.


Hana mengelus perutnya. "Ricky." Ia memanggil putranya.


Bukan Ricky, Ma. Tapi Ricka.


Hana menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia seperti mendengar suara Ryu.


Ricka? Itu artinya Ricky itu perempuan. Nggak mungkin!