Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 55 Staycation



Malam ini malam seperti biasa. Hana menidurkan Rin. Tapi Rin tak mau tidur. "Sudah malam. Waktunya Rin tidur. Mama juga mau tidur."


"Hotel."


"Hotel?"


"The Yoyal."


"Hotel The Royal?"


"Staycation."


"Rin mau menginap di hotel? Sekarang?"


"Iya." Rin menganggukkan kepalanya.


"Sudah malam Rin." Hana berusaha membujuk Rin. Tapi Rin belum bisa tidur. Hana akhirnya membawa Rin menuju ke hotel The Royal. Di resepsionis Hana hendak menyewa satu kamar untuk semalam. "Saya ingin menyewa kamar."


"Mohon tunggu sebentar." Resepsionis itu melihat komputernya. "Maafkan kami. Saat ini semua kamar sudah terisi penuh."


"Nggak ada kamar kosong, Rin." Hana memberitahu Rin.


Resepsionis itu melihat Rin yang kecewa. Ia mencoba melihat lagi komputernya "Ada satu kamar yang kosong. Exclusive suite room. Semalam harganya dua puluh juta rupiah." Resepsionis itu tahu Rin dan Hana orang mampu melihat tas yang saat ini dikenakan Rin. Tas ransel anak branded merk Gucci hadiah dari Oma Lucy.


Hana terkejut. ~ Dua puluh juta! Semalam saja? Bisa buat makan bakso selama lima tahun.


*Jika harga satu mangkuk bakso Ro 10.000 maka bisa dapat 2.000 porsi. Bisa untuk 5 tahun 5 bulan 25 hari jika sehari satu porsi bakso.


"Mahal?" Rin tahu ekspresi mamanya. Sama seperti saat dirinya meminta mainan yang harganya mahal. "Yin punya uang." Rin mengambil koin seribuan dari dompet mini yang ia taruh di ransel Gucci-nya.


"Uang Rin kurang. Harga kamar hotel dua puluh juta rupiah. Dua puluh juta dibagi seribu berapa?"


"Dua puyuh yibu."


"Rin cuma punya satu koin seribuan. Jadi kurang berapa?"


"Sembiyan beyas sembiyan yatus sembiyan puyuh sembiyan."


Resepsionis yang mendengarkan jawaban Rin terkejut. Anak berumur sekitar tiga tahun dengan benar menjawab pertanyaan matematika yang dimana kebanyakan usianya baru bisa berhitung satu sampai sepuluh.


Hana sebenarnya bisa saja menggunakan black card dari Luke tapi ia merasa mubazir jika cuma semalam dan hanya dirinya dan Rin saja yang menginap.


"Kita pulang, ya. Kita tunggu ada kamar kosong dulu."


Richard menggendong Rin dan mencium pipi Rin. "Rin malam-malam mau ke mana?"


"Staycation," jawab Rin.


"Tapi semua kamar penuh." Hana berencana hendak pulang.


Richard lalu membawa Rin menuju ke resepsionis. "Ada kamar kosong?"


"Hanya ada exclusive suite room, pak. Besok kamarnya akan disewa."


"Hana, kau bisa check out jam sembilan pagi?"


"Bisa."


Richard lalu membawa Hana dan Rin ke exclusive suite room.


"Kak, aku nggak bisa bayar kamar hotelnya. Terlalu mahal."


"Tenang aja. Gratis. Lagipula nggak ada yang pake malam ini."


Saat mereka masuk ke dalam exclusive suite room. Ada kolam renang outdoor.


"Mama, koyam yenang." Rin ingin berenang.


"Sudah malam, Rin. Nanti Rin masuk angin."


"Kolam renangnya bisa diatur suhu airnya." Richard mengatur suhu air kolam renang agar bisa menjadi hangat.


"Rin mau berenang?" Richard bertanya.


"Iya. Boyeh, ya, Ma?" Rin memasang puppy eyesnya. Membuat Hana tidak tega.


Hana mengecek suhu air yang sudah menjadi hangat. "Boleh. Tapi sebentar aja."


Akhirnya Rin dan Richard berenang sebentar. Setelah sepuluh menit mereka selesai. Richard sebelumnya sudah meminta asistennya untuk menyiapkan baju bersih dan mengirimkannya ke exclusive suite room. Richard juga memesan beberapa makanan.


"Terima kasih, Kak."


Rin mengantuk dan tertidur. Hana dan Richard berbincang-bincang. Richard mendekati Hana. Tiba-tiba ia berkata "Hana, lahirkan anakku."