Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 146 Mati Lampu



Eh!? Sebastian itu Babas?


Babas yang sering main sama aku dulu?


Nggak mungkin!


Hana merasa jika memang Sebastian itu Babas yang ia kenal sewaktu kecil dulu, maka perubahan Sebastian terlalu mencolok.


Panggilan telepon dari Lucas membuyarkan lamunan Hana. "Driver-nya sudah ada di depan."


Hana menuju ke depan rumah. Ren menemaninya. Hana mengambil makanan dari driver. "Terima kasih."


"Teyima kasih, Om." Ren juga ikut berterima kasih.


Ren langsung menuju ke kamar Rin. "Kakak, bihun goyengnya sudah datang."


"Iya." Rin bersama Ren menuju ruang makan. Hana sudah menyiapkan piring untuk alas dan sendok makan.


"Ren mau coba nasi goreng punya Mama?"


"Iya." Ren mengambil sesendok nasi goreng.


"Ren mau bihun goreng?" Rin menawarkan bihun goreng miliknya.


"Iya." Ren mengambil sesuap bihun goreng.


Hana mencoba menghubungi Lucas untuk berterima kasih tetapi tidak terhubung. Sepertinya Lucas kembali sibuk.


Hana akhirnya mengirim pesan suara bersama Rin dan Ren. "Terima kasih, Papa."


Ren mengelus perutnya yang makin menonjol.


Rin hendak kembali ke dalam kamar.


"Rin, jangan langsung tidur." Hana mengingatkan Rin.


"Iya, Ma." Rin menjawab.


"Ren mau tidur juga?" Hana bertanya ke Ren.


"Ren mau makan lagi."


"Lagi?"


"Yen masih lapay."


"Ren tunggu sebentar. Nanti rasa laparnya hilang." Menurut Hana porsi makan Ren sudah cukup banyak. Satu porsi mi goreng plus setengah porsi bihun goreng milik Rin.


Sementara itu di rumah Richard.


"Mama." Ricka menunjuk rumah Hana. Sepertinya Ricka berubah pikiran.


"Ricka mau pulang?" Richard lalu menyelimuti Ricka dan membawanya ke rumah sebelah.


"Oh, Yicka manis." Ren bernyanyi. Ia mengganti lirik lagu "Oh, nona manis" dengan "Oh, Ricka manis."


Hana lalu mengambil alih Ricka. Sedangkan Richard segera kembali ke rumahnya setelah mencium Ricka. Masih ada beberapa berkas yang harus ia periksa dan tanda tangani.


"Ayo masuk. Sudah malam. Hawanya sudah terlalu dingin." Hana membawa Ren dan Ricka masuk ke dalam rumah.


"Yen boleh tidur sama Mama?"


"Boleh. Ren pakai bantal dan guling papa Lucas aja."


Hana menaruh Ricka di ranjangnya. Sepertinya mereka akan tidur bertiga di ranjang.


Bunyi guntur terdengar.


Sepertinya mau hujan.


Betul dugaan Hana. Tak lama kemudian hujan deras. Tiba-tiba lampu mati.


Hana langsung menyalakan lampu emergency. Ricka mulai menangis. Hana menggendong Ricka dan menenangkannya.


Sedangkan Ren mulai menyanyi untuk Ricka.


Oh, Yicka manis.


Yang selalu kakak jumpa di yumah.


Oh, oh Yicka manis.


Jangan menangis yagi ada Kakak.


Jangan jangan jangan teyus menangis.


tapi tapi tapi Yicka hayus tenang.


Ricka mulai tenang. Kondisi gelap juga membuat Hana takut tapi sebagai seorang ibu ia harus berani. Apalagi saat ini tidak ada Lucas di rumah.


Pintu kamarnya diketok oleh Rei, Rio dan Rin. Mereka juga tidak menyukai berada di kegelapan sendirian.


Alhasil semua anggota keluarga berkumpul di kamar Hana.


Hana akhirnya kembali berhasil menidurkan Ricka. Ia kemudian menaruh Ricka di box bayinya.


Sedangkan Rei, Rio, Rin dan Ren bermain bayangan di dinding. Mereka membuat bayangan burung dari tangan. Membuat bayangan bebek. Membuat bayangan kelinci.


"Mama. Yihat." Ren mulai menari asal.


"Sst. Jangan ribut. Ricka nanti bangun. Sudah malam, waktunya tidur."


Keempat anak tertua Hana mulai mengambil posisi di ranjang. Hana juga mengambil posisi.


Mereka akhirnya bisa mengakhiri hari dengan damai.