
Selesai bernyanyi, Putra melepas topinya dan berjalan menuju ke para pembeli. Ada yang memberi seribu, ada yang memberi dua ribu.
Saat mereka berada di luar warung, Putri melihat uang berwarna merah bergambar Bung Karno dan Bung Hatta. Uang seratus ribu rupiah.
"Kakak, lihat. Putri nggak salah lihat kan?" Putri menunjukkan uang seratus ribu. Ia senang bisa mendapatkan uang besar.
"Apa orangnya salah kasih? Kita kembalikan saja." Putra mengira orang itu mungkin salah memberi. Ia tadi tidak memperhatikan uang yang masuk ke topinya karena ia menatap orang yang memberi dan mengucapkan terima kasih.
Tapi Putra juga butuh uang untuk dirinya dan Putri. Anggap aja rejeki.
"Cut." Sutradara mengakhiri syuting adegan di warung. Sekali lagi mereka memonitor penampilan mereka di layar monitor.
Sutradara terlihat cukup puas. Syuting berlanjut ke adegan berikutnya.
"Action." Sutradara memberi aba-aba.
Seorang preman datang. Ia memalak Putra dan Putri. "Ini daerahku. Kalian harus bayar." Preman itu mengambil uang seratus ribu.
Putra dan Putri tidak bisa melawan. Mereka masih kecil sedangkan preman itu bertubuh kekar dan mempunyai banyak tato yang membuatnya semakin garang.
"Dasar orang jahat!" Putri memaki ketika preman itu sudah tidak ada lagi dari hadapan mereka.
"Sudah. Ikhlaskan saja. Anggap kita bersedekah. Nanti kita pasti bisa dapat rejeki lagi." Putra berusaha menenangkan Putri padahal ia juga marah di dalam hatinya.
"Tapi, Kak. Kita yang panas-panasan. Nyanyi sana sini. Tapi orang itu main ambil uang aja. Bikin Putri kesal." Putri sengaja menyanyikan part lagu Quin Salma "Tiba-tiba" di bagian "bikin aku kesal" jadi "bikin Putri kesal".
"Maafkan saja preman itu. Kita doakan supaya suatu saat nanti ia bisa insyaf."
Perut Putri berbunyi.
"Putri lapar?" Putra bertanya.
"Iya." Perut Putri berbunyi lagi.
"Ayo kita beli makanan di warung." Putra mengajak Putri menuju warung terdekat untuk membeli nasi dan lauk untuk dibawa pulang.
Baru saja mereka berada di depan warung, pemilik warung berteriak. "Di sini nggak boleh ngemis. Hush! Hush!"
"Tapi Putri nggak ngemis. Putri punya uang." Putri ikut ngotot.
Putra memegang lengan Putri. "Sudah, Put. Kita cari warung yang lain." Putra mengajak Putri pergi. Putra sudah terbiasa dengan perlakuan ini.
"Cut " Sutradara mengakhiri rekaman. Mereka memonitor lagi penampilan mereka.
"Kalian berdua hebat." Sutradara memuji Rayhan dan Rin. Ia tidak salah pilih aktor cilik untuk filmnya.
Awalnya. Rin hanya bawaan Richard. Richard mau menjadi sponsor dengan syarat pemeran Putrinya adalah Rin.
Sutradara mengira Rin hanya akan menyusahkan dirinya. Tetapi kenyataannya tidak. Ia berencana akan memberi Rin peran lagi di proyek film selanjutnya jika ada peran yang cocok buat Rin.
Syuting break sebentar. Kru sibuk menutupi kamera karena sebentar lagi syuting adegan hujan.
Rin mendekati aktor yang berperan sebagai preman yang memalak mereka. Ia melihat lagi tato tato di lengan aktor itu.
"Om, ini asli?"
"Asli."
Preman itu memang terlihat sadis. tetapi kenyataanya ia orang yang baik.
Rin lalu mendekati kru yang memegang tongkat mic di dekat mereka saat syuting.
"Om capek? Rin pijitin." Rin mulai memijit-mijit lengan kiri kru itu. Rayhan datang juga. Ia membantu memijit lengan kanan kru itu.
Syuting dilanjutkan kembali.
Air mulai muncul dari atas. Awalnya gerimis. Bisa saja menggunakan air hujan yang sesungguhnya tetapi kapan turunnya juga tidak bisa dipastikan. Air hujan yang sesungguhnya juga terkadang akan terlihat terlalu besar di kamera.
"Action."
Putri menjulurkan tangannya. "Kak, hujan." Putri merasakan air menitik di tangannya. Hujan yang awalnya gerimis menjadi lebat.
Putra dan Putri berteduh. Perut Putri berbunyi lagi.
Putra mengeluarkan sesuatu dari sakunya. "Putri makan ini dulu." Putra memberikan camilan.
Putri mengambil camilan malkist itu. Ia mengambil satu keping lalu memberikan sisanya ke Putra. "Kakak makan juga."