
Setiap malam Richard melihat Ricka yang tinggal di rumah Hana. Ia ingin mengajak Ricka tinggal bersamanya tetapi ia tahu Ricka yang masih bayi lebih baik tetap bersama Hana, ibunya.
"Apa hari ini Ricka boleh aku bawa?" Richard meminta ijin.
Hana berpikir sejenak. "Boleh. Aku siapkan keperluan Ricka dulu." Hana mulai mengepak perlengkapan Ricka.
Rin melihat Ricka yang hendak dibawa pulang Richard. Ia melarang Richard. "Jangan bawa Ricka."
"Om Richard bawa pulang Ricka malam ini aja," bujuk Hana. Rin belum tahu jika Ricka itu anak Richard.
"Kalau Rin kangen, Rin bisa datang ke sebelah. Rumahnya om Richard kan dekat aja," ucap Hana.
Akhirnya malam itu Richard membawa Ricka ke rumahnya. Hana menaruh Ricka yang tertidur di box bayi yang dipesan khusus. "Kalau ada apa-apa, Kak Richard telpon aku aja."
"Ricka, mama pulang dulu." Hana lalu mengajak Rin pergi.
Malam harinya.
Lucas tidak bisa tidur. Ia mengkhawatirkan Ricka. Takut jika Ricka menangis.
"Ada apa?" Hana bertanya melihat Lucas yang gelisah.
"Aku pengen lihat Ricka." Lucas hendak mengenakan jaket.
"Sudah malam. Besok Ricka dibalikin lagi, kok."
"Tapi Richard itu belum pernah punya anak."
"Tenang saja. Richard selama di Amerika ikut pelatihan untuk orang tua baru." Hana juga sering melihat Richard mengganti popok untuk Ricka selama di Milan.
"Kalau Ricka menangis bagaimana?" Lucas mencari alasan.
"Kak Richard pasti bisa nenangin Ricka. Jangan cemas. Terlalu sering khawatir bikin cepat tua." Hana mengajak Lucas untuk tidur.
Keesokkan harinya.
Richard mengembalikan Ricka. Lucas langsung mengambil Ricka dan bermain dengan Ricka. Begitu juga dengan Rin.
Richard lalu berangkat bekerja.
Sore harinya.
Ada panggilan video ke ponsel Rin dari Matthew.
"Mama, Matthew sama Mark datang." Rin memberitahu Hana kalau Matthew dan Mark berada di bandara.
Eh? Kok kak Martha nggak kabari aku?
"Mama di rumah."
Eh? Mereka berdua datang ke Indonesia berdua aja?
Hana langsung menelpon Martha. "Kak, Matthew dan Mark ada di sini." Hana mengira mereka kabur.
"Ah! Aku lupa kabari kamu. Mark pengen ketemu Ricka."
Eh?
"Apa bisa mereka tinggal di sana?"
"Bisa."
"Aku minta tolong jemput mereka di Bandara."
"Iya."
Hana tak habis pikir dengan Martha. Matthew dan Mark masih kecil. Apa kak Martha nggak takut anaknya hilang?
Mobil Lucas memasuki rumah. "Lucas, jemput Matt dan Mark di bandara."
"Sekarang?" Lucas bingung.
"Iya. Mereka lagi nunggu di bandara."
Lucas dan Rin segera menuju bandara. Rin menelpon Matt. "Matthew di mana?"
"Dekat toko donat."
Mereka berhasil menemukan si kembar.
Mereka berempat kembali ke rumah. Hana sudah menyiapkan kamar tamu untuk Matt dan Mark. Tukang masak di dapur juga sudah diminta untuk memasak agak banyak.
Matthew lalu mengeluarkan sesuatu dari kopernya. Sebotol anggur untuk Lucas.
Mark juga ikut mengeluarkan sebotol anggur untuk Richard yang kebetulan ada di rumah Hana.
Mark memandangi Ricka. Ia sudah terpikat dengan Ricka.
Hana masih ingat saat mereka berada di Milan. Begitu mendengar kabar tentang kelahiran Ricka, Martha membawa Martin, Matthew dan Mark ke Milan.
Saat hendak pulang, Mark ingin membawa pulang Ricka. Martha berkata. "Dua puluh tahun lagi, Mark baru boleh bawa Ricka pulang. Sekarang Ricka harus sama papa dan mamanya."
Flashback end.