Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 19 America



Hana dan Lucas menghabiskan waktu beberapa hari lagi di Hawaii. Bila malam tiba dan anak-anak sudah tidur, mereka mencuri-curi kesempatan untuk bisa bersama. Mengambil waktu singkat. Tapi itu tidak mudah. Kadang Rei ingin tidur bersama. Kadang Rin tidak kunjung tidur.


“Ma ...” Rei berusaha membuka pintu kamar Hana dan Lucas. Tapi tidak bisa. Untung saja sudah Hana kunci tadi. Hana dan Lucas langsung mengenakan pakaian mereka.


Hana berjalan menuju pintu dan membukanya . Ia melihat ada Rei di sana.


“Rei, kenapa?”


“Rei mau tidur sama mama.” Rei langsung masuk ke dalam kamar dan naik ke ranjang. Lucas sudah pura-pura tidur setelah mengenakan pakaiannya kembali.


“Ma ... Baju papa terbalik.“ Rei memberitahu Hana.


“Nggak pa pa. Papa sudah tidur. Biarin aja.”


Akhirnya Rei tidur di tengah-tengah Hana dan Lucas. Di malam yang lain, Rei dan Rio sudah tidur. Rin juga tidur. Lucas mendekati Hana. Ia mencium Hana tapi saat mereka hendak bersatu, Rin menangis.


Kemarin Rei. Sekarang Rin. Rin nggak mau punya adik? ~ Lucas berkata dalam hatinya.


Hana terpaksa menghentikan aktifitas mereka dan menenangkan Rin.


Mereka lalu pulang kembali ke kota A.


Rin sudah mulai merangkak. Setiap kali Lucas pulang kerja atau berada di rumah, Rin ingin dekat-dekat Lucas. Entah kenapa Rin begitu lengket dengan Lucas.


Saat ini mereka berada di meja makan untuk makan malam bersama. Lucas mengumumkan sesuatu. Ia akan dipindahtugaskan ke Amerika. Selain bisa menambah ilmu, ia juga akan bisa memperluas networking-nya secara teknologi kedokteran di sana sangat maju.


“Bulan depan kita akan pindah ke Amerika.”


Hana melihat reaksi anak-anak. Ia sudah diberitahu oleh Lucas kalau mereka akan pindah ke Amerika. Hana harus ikut karena mereka tak ingin ada kejadian seperti Maria waktu itu. Apalagi di Amerika sangat bebas, bisa-bisa Lucas jatuh cinta dengan wanita yang cantik dan seksi di sana.


Rei melihat ke Rio. Rei tahu Rio memang ingin ke Amerika. Di sana teknologi sangat maju. Rio juga bisa belajar banyak di sana. Kalau Rei ia bisa belajar menari dengan penari-penari hebat di sana.


“Nanti Rei di sana cari bule.” Rei berucap.


“Maksud Rei?” Lucas sedikit bingung.


“Rei mau nikah sama pria berambut pirang dan bermata biru.”


“Katanya Rei mau nikah sama papa?” Lucas pernah mendengar Rei berkata kalau ia ingin menikah dengan pria seperti ayahnya. Dan usia Rei yang baru enam tahun juga masih terlalu muda untuk memikirkan pernikahan.


“Tapi mama bagaimana?” Rio jadi kuatir.


“Kenapa mama?”


“Mama nggak bisa bahasa Inggris, Pa. Mama cuma bisa bilang yes, no, thank you.”


“Nanti mama belajar.” Hana menimpali.


“Tapi mama sudah pernah belajar tapi nggak bisa-bisa.”


“Nanti Rei ajarin mama.”


Rin bergerak seperti akan berkata ~ Rin juga mau ajari mama.


Hana lalu bersiap-siap. Ia mengurus surat-surat pindah sekolah Rei dan


Rio. Juga mengurus surat–surat pindah mereka. Hana menjadi sangat sibuk karena ia juga harus extra perhatian dengan Rin yang masih bayi.


Hari keberangkatan mereka ...


Di bandara Lucy dan Lukman mengantar mereka sampai bandara. Mereka akan berpisah.


“Nanti nenek dan kakek jalan-jalan ke Amerika, ya,” pinta Rei.


“Iya ... Nanti nenek bawain banyak makanan Indonesia.”


“Nggak usah repot-repot, Ma. Di sana ada yang jual produk Indonesia.” Lucas tidak ingin merepoti mamanya.


“Tapi pasti mahal dan kurang lengkap.”


Hana memeluk Lucy. Rei dan Rio juga ikut memeluk nenek dan kakeknya.


Mereka lalu menuju ke pesawat. Rei memulai lagi vlognya. Ia membawa tongsis untuk merekam dirinya.


“Rei lagi naik pesawat terbang.”


Rio merekam jendela yang hanya ada awan di luar sana.


“Rei pergi ke Amerika karena papa Rei pindah ke sana. Sekarang Rei mau coba pakai bahasa Inggris. Hai ... My name is Rei. Nice to meet you.”


Rei lalu berbincang-bincang dengan kamera. Saat makanan datang Rio merekam makanan itu.


“Rei sudah lapar. Rei mau makan.” Rei menyuapi dirinya.


“Hmmm ... Enak ... Rei paling suka cake ini. Tadi tante pramugari bawain Rei dan Rio cake. Katanya karena Rei dan Rio ulang tahun bulan ini. Terima kasih tante.”


Mereka akhirnya tiba di Amerika. Mereka tinggal di Beverly Hills. Tempat tinggal banyak selebriti.


“Ma ... Apa kita akan lihat artis Hollywood?”


Rei menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Tinggal di negara lain tentu saja ada peraturan yang berbeda dari negara asal.


Di Indonesia kita hanya bisa menerima barang dan bersalaman dengan tangan kanan. Sedangkan di Amerika sebaliknya. Kita bisa bersalaman, memberi dan menerima barang dengan tangan kiri. Makanan sudah pasti berbeda. Di indonesia harus ada nasi. Di Amerika biasanya pasta.


Hana yang merasa lelah beristirahat sejenak. Rin juga tidak rewel. Sepertinya ia tahu mamanya sedang kecapaian.


Saat ini mereka sedang menonton TV.


Rei melihat iklan audisi Amerika Got Talent. Ia ingin ikut.


“Ma .. Rei boleh ikut itu?” Rei menunjuk iklan audisi America Got Talent.


“Rei tanya papa juga.“ Hana sudah pasti setuju.


“Pa ... Rei boleh ikut?” Rei bertanya ke Lucas.


“Boleh. Tapi Rei harus berlatih lebih keras dari biasanya, Di sana banyak yang berbakat. Juga kalau Rei nggak lolos jangan sedih. Rei masih bisa latihan terus dan ikut tahun depan.”


Rio mendaftarkan kakaknya ke audisi America Got Talent. Rei berlatih setiap hari agar bisa menampilkan yang terbaik di depan juri dan penonton.


Saat hari audisi ...


Banyak peserta datang untuk ikut audisi. Dari yang muda seperti Rei, yang remaja, yang dewasa sampai kakek dan nenek juga ada.


Saat hendak memasuki panggung, Rei sedikit gugup.


“Rei ...Tarik napas panjang. Tahan sebentar lalu hembuskan.” Lucas memberi saran. Padahal ia sendiri juga gugup melihat penonton yang begitu banyak.


Rei masuk dengan sorakan tepuk tangan dari penonton.


“Hello young lady, introduce your self,” ucap salah satu juri.


“My name is Rei. I’m 6 year old. I’m from Indonesia.” Rei berkata dengan percaya diri.


“What do you want to show?”


“I want to show you my dancing.”


Musik mulai dimainkan. Rei menari mengikuti irama. Semua penonton mulai heboh. Pertunjukkan Rei mendapat sambutan meriah.


Tak lama kemudian ada tombol yang ditekan. Confetti turun dari atas. Baik Hana, Lucas dan Rio tidak mempercayainya. Rei mendapatkan golden tiket.


Rei merasa sangat senang. Latihannya setiap hari membuahkan hasil. Ia lalu berpelukan dengan juri di sana.


Di sisi lain ...


Rio juga sedang membuat game. Setelah selesai ia mencoba menawarkannya ke Microsoft. Iseng-iseng saja. Kalau diterima syukur, kalau tidak berarti bukan rejekinya. Tapi Microsoft tertarik dan meminta Rio datang.


Rio datang ditemani Lucas.


“Are you Rio?” Pihak Microsoft bersalaman dengan Lucas.


“No. I’m Lucas. I’m Rio’s father.” Lucas memperkenalkan dirinya.


“I’m Rio.”


Pihak Microsoft itu melihat ke bawah dan terkejut melihat bocah enam tahun yang ternyata pembuat game.


Rio lalu menjelaskan apa potensi besar dari game buatannya . Mereka kagum dengan game buatan Rio tapi lebih kagum lagi saat tahu pencipta game itu adalah anak berumur enam tahun.


Rio mulai mendapatkan royalti saat game mulai dipasarkan.


Sedangkan Hana mulai merasakan sesuatu di tubuhnya. Sesuatu yang pernah ia alami dua kali dalam hidupnya. Saat mengandung triplet dan Rin.


Saat Hana menyusun barang-barang kebutuhan bulanan yang baru saja ia beli, ia melihat pembalutnya masih banyak.


Aneh ...


Harusnya tinggal dikit.


Hana melihat kalender mejanya. Tidak ada coretan selama dua bulan ini. Coretan yang menunjukkan hari-hari merahnya.


Bukannya aku harusnya datang bulan di awal bulan.


Apa aku lupa coret?


Sebentar ... Sebentar... ~ Hana mulai mengingat sesuatu.


Astaga!


Aku lupa minum pil KB.


Hana cepat-cepat membeli tes pack di toko terdekat dan mencobanya di rumah.


Sekali lagi ia melihat dua garis di sana.


Aku hamil lagi?