Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 180 Perut Ren Ada Seratus



Di dekat lokasi syuting mereka ada warung tradisional yang menjual aneka barang. Ada pensil, buku, mi instan dan lain lain.


Ren melihat camilan di warung. Ia melihat lebih dekat. Rin mengikuti Ren.


"Ren mau yang mana?" Rin bertanya.


"Yang ini." Ren menunjuk camilan coklat.


"Obaa-chan, ikura desu ka? (Nenek, harganya berapa?)" Rin bertanya dengan ramah ke nenek penjual sambil menunjuk camilan yang Ren mau.


"100 yen." Nenek empunya warung menjawab.


Rin memberikan uang 500 Yen. Ia mendapatkan uang kembalian 400 Yen. "Arigatou gozaimasu." Rin mengucapkan terima kasih ke nenek itu. Nenek itu tersenyum.


Ren mendengar namanya disebut. Ia melihat nenek pemilik warung lalu melihat Rin. "Kakak, neneknya tahu nama Yen. Padahal Yen belum kenalan sama neneknya."


"Neneknya bukan nyebut nama Ren. Tapi mata uang di Jepang itu Yen. Seperti rupiah di Indonesia."


"Mama kasih nama uang ke Yen?" Ren tahu mamanya suka uang tetapi apakah anaknya juga dinamai dengan nama uang.


"Nama Ren pakai huruf R. Yen pakai huruf Y. Beda." Rin menjelaskan.


Ren menganggukkan kepalanya. Ia akhirnya paham.


Syuting dimulai.


Rin dan Ren mulai berjalan sambil menggandeng Ricka yang berada di tengah. Rio mulai merekam dari depan.


Rin, Ren dan Ricka berjalan lagi dari awal. Rio mulai merekam lagi dari belakang. Lalu ia merekam lagi dari samping.


Setelah itu mereka berpindah ke taman bermain. Ren mulai menaiki ayunan. Rin dan Ricka mengorek-orek pasir. Mereka bermain di lokasi taman bermain.


Tak lupa mereka mengambil foto bertiga untuk pilihan thumbnail di YouTube.


Lalu dilanjutkan dengan adegan solo Ricka. Ricka berjalan dan berjalan sendirian karena tersesat.


Untuk film kedua Spider Family masih mengikuti film pertama dengan fokus utama ke Ricka yang tersesat di Osaka.



Tak lupa mereka menuju ke foto spot. Mereka menaikan kedua tangan mereka dan menaikkan salah satu kaki. Menirukan logo glico


Mereka melihat hasilnya. Malah ada pose Ren sedang ngupil. "Tadi hidung Yen gatal." Ren beralasan.


"Besok Kakak Yei, Kakak Yio pulang?" Ren bertanya yang ia tahu jawabannya.


"Iya. Jadi, hari ini kita harus sudah selesai syutingnya." Rei menjelaskan.


"Tapi Kakak, Yen lapar."


"Ren mau makan apa?"


"Takoyaki, okonomiyaki, yakisoba, ramen, sushi, tonkatsu." Ren menyebutkan makanan khas Jepang yang ia tau.


"Ren bisa makan semuanya?" Rei sudah terbiasa dengan nafsu makan Ren yang besar.


"Bisa. Peyut Yen ada sepuluh." Ren memegang perutnya yang bisa menampung semua makanan.


Rio ikut nimbrung. "Kakak rasa perut Ren bukan ada sepuluh lagi tapi seratus. Semua makanan bisa masuk."


"Di dekat sini ada restoran okonomiyaki yang enak," ucap supir yang selalu menemani mereka. Richard sengaja memilih supir yang mengetahui kota Osaka dan bisa berbahasa Inggris untuk kemudahan komunikasi.


”Kata Om Jun (nama supir) dekat sini ada restoran okonomiyaki. Kita makan siang di sana ga pa pa?" Lucas yang berada di sebelah supir menoleh ke belakang melihat Hana dan putra putrinya. Ia juga merasa lapar.


"Iya. Yen mau makan. Cacing cacing di peyut Yen demo minta makan." Ren menyentuh perutnya. Perut Ren berbunyi.


"Jun, kita makan di restoran okonomiyaki," ujar Lucas.


"Hai (Ya)." Jun mengarahkan mobil menuju ke restoran okonomiyaki.


Sesampainya di restoran okonomiyaki.


"Jun, ayo ikut makan bersama kami." Lucas mengajak Jun.


"Saya sudah membawa bento, Tuan." Jun merasa tidak enak.


"Bentonya dibawa masuk aja."


"Tidak, Tuan. Terima kasih untuk tawarannya."


Ren langsung menggandeng tangan Jun dan menuntunnya ke restoran. Semakin lama berdebat akan membuatnya semakin tambah lapar.


Akhirnya Jun ikut makan bersama mereka.