
Hana melihat Rin yang sedang berenang bersama Richard. Rin dan Richard terlihat seperti ayah dan anak yang sedang bermain bersama. Dalam hatinya Hana menyesali perbuatannya di masa lalu. ~ Seandainya saat itu aku bisa bersikap dewasa, seandainya aku saat itu tidak pergi ke club, mungkin aku masih bisa bersama kak Richard.
Setelah sepuluh menit Richard membawa Rin keluar dari kolam renang. Hana membawa handuk kering untuk Richard dan Rin. Hana membilas tubuh Rin dan memakaikan baju bersih. Kemudian giliran Richard yang membersihkan tubuhnya.
Makanan tersaji di meja. Rin lalu mengambil sesuatu dari tasnya. "Buat Om." Rin memberi satu bungkus kerupuk untuk Richard.
"Terima kasih, Rin," ucap Richard.
"Yin suka keyupuk." Rin memakan makanannya dengan kerupuk. Ia begitu menikmatinya.
"Rin mau jadi anak Om? Rin bisa staycation dan berenang tiap hari." Richard mencoba membujuk Rin.
"Mau."
"Panggil papa."
"Papa." Rin memanggil Richard.
"Papa Lucas gimana?" Hana bertanya.
"Papa Yucas sibuk. Yin cayi papa bayu. Yin sayang papa Yicat." Rin mengecup pipi Richard.
Hana bingung mendengar Rin begitu mudahnya mengabaikan Lucas.
Richard dan Rin saling berpandangan. "Ha ... Ha ... Ha ..." Richard dan Rin tertawa bersamaan. Hana jadi bingung. ~ Kenapa kak Richard dan Rin ketawa? Apa ada sesuatu di wajahku? ~ Hana mencari cermin dan ia melihat tidak ada apa-apa di wajahnya.
Ternyata saat di kolam renang tadi Richard bersepakat dengan Rin untuk mengerjai Hana.
Rin, tadi mama pikir Rin beneran mau jadi anak Om Richard. ~ Hana merasa lega. Seandainya tadi itu beneran tentu saja akan melukai hati Lucas. Setelah makan Rin mengantuk dan tertidur. Hana menyelimuti Rin.
"Terima kasih, Kak. Di rumah tadi aku sudah berusaha untuk menidurkan Rin tapi ia nggak mau tidur. Ia pengen tidur di hotel."
"Hana, lahirkan anakku," pinta Richard tiba-tiba. Seketika itu juga tubuh Hana membeku. ~ Seharusnya aku bisa belajar dari masa lalu. Bertahun-tahun telah berlalu dan bisa mengubah sifat seseorang. Kak Richard mungkin sudah berubah sekarang. Apakah kejadian Rin akan terjadi lagi?
Hana menjadi sangat takut.
Richard mengusap air mata Hana. "Jangan menangis."
Hana mencoba melihat mata Richard. Ia tidak melihat mata iblis seperti Luke saat kejadian Rin. Mata Richard terlihat normal dan sayu.
"Kak, aku itu sudah jadi istri orang." Hana tidak bisa mengandung anak dari pria lain.
"Siapa bilang kau harus bercerai dari Lucas."
"Maksud kakak? Bukankah kita harus melakukannya supaya aku hamil. Aku tak ingin selingkuh."
Richard menjentikkan jarinya di dahi Hana. "Oon, kok dipelihara."
"Kakak ngatain aku bodoh?"
"Memang kenyataannya, kan?
"Iya juga, sih."
"Kita tak harus melakukannya secara alami. Atau kau mau yang alami?" Richard tersenyum penuh arti.
Hana menggoyangkan telapak tangannya tanda tidak setuju. Saat ini suasana begitu mendukung. Lampu kamar yang temaram. Tapi baik Hana dan Richard masih sadar diri.
"Kita bisa coba bayi tabung."
"Bayi tabung? Kakak itu orang kaya. Oasti banyak wanita yang mau melahirkan anak kakak."
"Tapi wanita itu bukan dirimu. Jika aku memaksakan diri untuk menikah dengan wanita lain, kami akan sama-sama menderita karena tak ada cinta "
"Suamiku belum tentu menyetujuinya. Mertuaku juga mungkin tidak setuju."
"Kamu setuju?"