Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 84 Mogok part 2



Tiba-tiba ada sinyal. Ponsel Hana berbunyi. Ada panggilan video dari Lucas. Sejak pagi (waktu Indonesia) sejak mendapat kabar dari Richard bahwa Hana dan Rin belum pulang-pulang, Lucas terus berusaha menghubungi Hana.


Rin mengangkat telpon. "Papa."


"Mama mana, Rin?"


"Mama keyahi." Rin mengarahkan kamera belakang ponsel ke arah Hana yang sedang memukuli Richard dengan bantal.


Lucas bisa melihat Hana yang hanya menutupi tubuhnya dengan selimut. Belum lagi Robert yang bertelanjang dada. Lucas jadi berpikir negatif.


Mereka ...


Apa mereka berdua?


Rin membawa ponsel ke Hana. Hana terkejut melihat Lucas. Ia bingung mau bicara apa. Robert lalu mengambil alih ponsel.


"Jangan salah paham. Tidak terjadi apa-apa semalam." Robert tak ingin Lucas salah mengerti. Robert memang menyukai Hana tetapi ia masih tahu batasannya.


"Kemarin aku ajak Hana dan Rin jalan-jalan pake motor. Saat kami mau pulang, motorku mogok. Karena sudah malam, kami menginap di motel. Uang yang kami bawa terbatas, jadinya kami cuma bisa booking satu kamar. Semalam Hana demam. Ia takut minum obat. Aku terpaksa buka bajunya untuk menurunkan panasnya." Robert tidak hanya membuka baju Hana. Ia juga mengelap tubuh Hana dengan air hangat.


Lucas merasa bisa mempercayai Robert. "Hana sudah nggak panas lagi?"


"Suhu tubuhnya sudah normal sekarang."


Lucas lalu berbicara dengan Hana. "Segera telpon Richard. Ia sudah mencarimu ke mana-mana."


"Iya." Hana tidak berani memandang wajah Lucas.


Lucas mendapat panggilan dari suster. Ada pasien yang perlu diperiksa. "Hana, aku tutup telponnya. I love you."


"I love you too."


Hana menelpon Richard. Mengabari kalau mereka bertiga baik-baik saja. "Maafkan aku, Kak. Ponselku baru aja dapat sinyal." Ia lalu mengirim lokasinya.


Beberapa waktu kemudian ada dua mobil yang datang. Satu untuk tumpangan mereka. Satu mobil pick up untuk menaruh motor Robert dan mengantarkannya ke bengkel.


Supir Richard mengantar Robert pulang lalu menuju ke gedung apartemen mereka.


"Mama ..." Rei dan Rio berlari memeluk Hana. Semalaman mereka cemas karena tidak ada kabar. Ditelpon juga tidak tersambung. Mereka khawatir jika terjadi sesuatu dengan mama dan adik-adiknya.


"Mama dan Rin nggak pa pa." Hana berusaha menenangkan mereka.


"Yin naik motoy." Rin lalu bercerita ke kakak-kakaknya mereka ke mana saja, melihat apa saja.


"Mama keyahi. Mama pukuy om Yobek." Rin bercerita kejadian tadi pagi.


"Yang menang siapa, Rin?" tanya Rio penasaran.


"Hush. Nggak usah dijawab, Rin." Rei tak ingin membahas lagi soal perkelahian itu. Menurutnya itu urusan orang dewasa.


...***...


Hari berlalu. Rei dan Rio pulang ke Indonesia. Hana ingin mereka tetap berada di Amerika tetapi mereka harus sekolah.


Hana melihat Ren yang berada di pangkuan Richard. Mereka berdua sedang asyik menonton pertandingan sepak bola.


Hana bisa melihat ketertarikan Ren dengan olahraga itu. Saat bermain juga Ren akan lebih memilih bermain bola.


Apa yang diucapkan Ryu itu benar? Ren bakal jadi pemain bola?


Hana memang membebaskan semua anaknya memilih apa yang mereka mau asalkan itu positif.