Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 17 Izinkan Aku Hidup Lebih Lama



“Lucas ...”


“Iya?”


“Aku pengen buah mangga itu.” Hana menunjuk buah mangga yang masih muda yang tergantung di pohon.


“Tetapi itu belum matang.”


“Tapi aku pengen yang asem-asem.”


“Bentar ... Aku ambil kayu.” Lucas rencananya akan menggunakan kayu untuk menjatuhkan buah mangga.


“Aku pengen kamu yang petik.”


Alamak ...


Hana bukannya kau tahu aku itu takut ketinggian.


Kemarin buah jambu.


Sekarang buah mangga.


Lucas mencoba menaiki pohon mangga. Sesampainya di atas dia sempat melihat ke bawah dan merasa pusing. Ia buru-buru memetik buah mangga dan langsung turun.


“Terima kasih.”


Hana langsung mencuci buah mangga itu dan mengupasnya. Ia menyodorkan sepotong irisan mangga ke mulut Lucas.


Masam.


Lucas menjulurkan lidahnya. Ia langsung mencuci mulutnya dengan air. Ia melihat Hana yang dengan wajah gembiranya memakan irisan mangga muda.


Rin di perut Hana semakin hari semakin besar. Hana menjadi sedikit kesulitan untuk berjalan dan bergerak. Berat badan Hana sudah bertambah 20 kg. Hampir sama saat ia mengandung triplet.


“Rin jago makan.”


“Rinnya yang jago makan atau mamanya yang doyan?” sindir Lucas.


“Tentu saja Rin.” Hana tidak mau disalahkan atas penyebab kenaikan berat badannya.


Rin bergerak di dalam perut Hana. Ia sepertinya marah dituduh mamanya.


Hana reflek menaruh tangan Lucas di atas perutnya. Mereka sudah seperti sepasang suami istri yang sedang menantikan kelahiran anak mereka. Hanya bedanya ayah Rin adalah Luke.


Luke mengirimi Hana kebutuhan Rin. Dari bajunya, popoknya, box bayinya dan kebutuhan lainnya. Ia memang tidak bisa memiliki Hana tapi ia ayah Rin. Ia masih punya tanggung jawab atas hidup Rin.


“Rin lihat. Bajunya bagus, ya?” Hana berbicara dengan Rin yang masih berada di dalam perutnya.


Beberapa bulan kemudian Rin akhirnya lahir. Rei dan Rio menyambut dengan bahagia kelahiran Rin. Apalagi Rei. Ia sudah lama menginginkan adik perempuan. Rio juga senang walaupun sebenarnya ia menginginkan adik laki-laki.


“Ma ... Habis ini adik laki-laki, ya, Ma. Buat temani Rio.”


Hana hanya tersenyum.


Bagaimana mama bisa punya anak lagi jika mama belum menikah.


Walaupun ada yang senang hati menjadi suami Hana.


Sementara itu di luar negri Luke selalu mengunjungi club. Tidur bersama wanita yang berbeda setiap malam. Tapi tidak ada yang bisa memuaskannya seperti Hana. Hatinya sudah menjadi milik Hana seorang.


Luke menyadari ada yang salah dengan tubuhnya. Berat badannya berkurang, ia sering demam, kelelahan. Ia memeriksakan dirinya ke dokter. Hasil tes keluar. Dokter meminta Luke melakukan tes antibodi dan tes antigen. Ia memberitahu Luke kalau ia terkena HIV, penyakit menular yang mematikan.


HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang kemudian melemahkan kemampuan tubuh dalam melawan infeksi dan penyakit.


Penyekit ini bisa disebabkan karena melakukan hubungan intim dengan penderita, bisa juga karena transfusi darah, juga penggunaan jarum suntik secara bersamaan dan beberapa faktor lainnya. Luke shock. Is tidak menyangka kehidupan bebasnya akan membunuhnya.


Dokter melakukan beberapa tes lagi setelah Luke diketahui positif HIV untuk membantu dokter mengetahui tahap infeksi dan pengobatan yang tepat untuk Luke. Tes yang diadakan dokter adalah menghitung sel CD4, pemeriksaan viral load (HIV RNA) dan resistensi. Dokter memberi Luke obat jenis ARV untuk memperlambat perkembangan virus.


Luke semakin lama semakin melemah. Pengobatan yang diberikan dokter tidak berfungsi lagi. Tubuhnya sudah digerogoti penyakit mematikan itu.


Lucas mendengar kabar kalau Luke kembali lagi ke kota A. Bukan hanya kabar kedatangan Luke tapi juga berita buruk tentang Luke. Luke terkena HIV.


“Hana ... Luke terkena HIV. Aku rasa kau harus tes juga.”


Ada kemungkinan besar Hana akan terkena HIV secara ia berhubungan intim dengan Luke. Dan Rin juga bisa terkena bila Hana terkena HIV. Hana lalu memeriksakan dirinya di rumah sakit. Hasil tes sudah ada. Hana tidak berani membukanya. Ia menyuruh Lucas yang membukakannya untuk dirinya. Hasilnya negatif.


Hana bisa bernafas lega sekarang. Rin juga terbebas dari penyakit mematikan itu. Rupa-rupanya Luke pernah berhubungan intim dengan wanita yang terkena HIV di luar negri


.


Lucas melihat Luke yang berada di rumah sakit untuk perawatan. Dokter dan suster harus berhati-hati dalam merawat Luke. HIV itu penyakit menular dan mereka bisa tertular. Tetapi rupa-rupanya virus itu sudah menjalar dengan cepat di tubuh Luke. Bila pasien dengan HIV bisa bertahan hidup bertahun-tahun dengan bantuan obat-obatan tapi tidak dengan Luke. Penyakitnya sudah parah.


Luke akhirnya dirawat di rumah keluarga Adiwijaya.


“Kak ... Aku ingin bertemu Hana dan Rin,” lirih Luke. Ia sadar ia sewaktu-waktu bisa meninggal.


“Aku akan mencoba berbicara dengan Hana.”


Di rumah Lucas ...


“Hana ... Luke ingin bertemu denganmu. Juga Rin.”


Hana hanya diam. Ia tidak ingin bertemu Luke.


“Waktu Luke di dunia ini sepertinya tidak lama lagi.” Lucas menunjukkan foto-foto Luke yang sedang terbaring di rumah. Tubuhnya terlihat sangat kurus.


Hana merasa iba.


“Baiklah ... Aku akan melihat Luke.”


Hana datang ke rumah keluarga Adiwijaya. Hana bisa melihat wajah Lucy dan Lukman yang tidak berseri-seri seperti biasanya. Tentu saja karena putra bungsu mereka sudah sakit parah.


Hana menaruh Rin di lengan Luke. Rin tersenyum lebar melihat Luke. Seakan-akan ia tahu kalau orang yang menggendongnya sekarang adalah papanya.


Luke meyodorkan Rin ke tangan Lucas. Energinya sudah terkuras habis.


“Hana ... Maafkan aku.”


“Kak ... Tolong jaga Rin sebagai gantiku. Sayangi Rin seperti kau menyayangi anak kandungmu.”


“Kau tak perlu kuatir. Aku akan selalu menjaga Rin.”


Hana dan Lucas lalu pulang ke rumah.


Hana terus memikirkan Luke. Luke memang penyebab terjadinya Rin. Tapi Luke juga sudah berbuat banyak. Ia pernah mendonorkan sumsumnya untuk Ryu. Membangun studio tari untuk Rei. Dan juga mengajari Rio cara meretas.


Setiap hari Hana membawa Rin menemui Luke. Ia juga menyuapi Luke.


“Luke ... Makan.”


Tapi Luke menolaknya. Ia tidak nafsu makan.


“Hana ini hukuman untukku yang telah melakukan kesalahan besar padamu.”


“Makan .. . Kau harus makan. Bukan untukku, tapi untuk Rin. Apa kau tidak ingin melihat Rin merangkak? Apa kau tidak mau melihat Rin melangkahkan kakinya untuk pertama kalinya? Apa kau tidak mau melihat Rin memanggilmu papa?”


Luke akhirnya mau makan. Walaupun sebentar, ia ingin lebih lama bisa melihat Rin.


Sampai akhirnya suatu malam di rumah Lucas ...


Rin menangis dengan kencang. Hana terbangun dari tidurnya. Hana mencoba menyusui Rin karena berpikir kalau Rin haus. Tetapi Rin menolaknya. Hana juga melihat popok Rin tapi popoknya tidak basah.


“Rin kenapa?” Hana kebingungan. tidak biasanya Rin seperti ini.


Rin terus menangis dan menangis. Lucas yang baru saja ditelpon Lukman, datang memberitahu Hana, “Luke meninggal."


Luke dikuburkan di pemakaman keluarga Adiwijaya. Di tempat yang sama dengan leluhurnya dimakamkan.


Setelahnya mereka berkumpul di rumah keluarga Adiwijaya. Pengacara membacakan surat wasiat dari Luke. Seluruh harta Luke diwariskan ke Rin.


Lucy dn Lukman terkejut. Mereka mengira Luke akan menyumbangkan hartanya ke panti asuhan atau tempat sosial lainnya.


Lucy dan Lukman akhirnya tahu kalau Rin anak kandung Luke.


“Ma .. Pa ... Tolong rahasiakan hal ini. Aku ingin Rin tumbuh bersama Rei dan Ryu dengan aku sebagai sosok ayahnya. Saat usia Rin sudah cukup, aku akan memberitahunya.”


Lucy dan Lukman setuju. Untuk sekarang hal itu yang terbaik.