
Dua minggu kemudian.
Di rumah Hana mencoba mengecek dengan test pack sebelum mereka berangkat ke dokter. Tetapi hanya ada garis satu yang artinya Hana tidak hamil. Tentu saja hasil test pack itu belum tentu benar.
Di rumah sakit dokter memeriksa kandungan Hana. Bayi tabung kali ini gagal. Hana tidak hamil. Hana kecewa. Richard kecewa. Hana sebenarnya sudah menyiapkan dirinya karena saat ia menonton video di YouTube tentang perjalanan IVF, ia sering melihat proses pertama banyak yang gagal. Barulah saat penanaman embrio yang kedua biasanya berhasil.
Richard menyalahkan dirinya. "Kak, tidak ada yang salah. Kita coba lagi." Sebenarnya Hana lah yang paling sedih. Anak-anaknya juga ikut sedih. Rei, Rio dan Rin berharap punya adik walau beda ayah. Kalau Ren masih terlalu kecil untuk mengerti arti adik.
Sedangkan Hana merasa bersalah ke Lucas. Itu artinya ia akan lebih lama lagi berada di Amerika. Ia belum bisa melayani Lucas dan melakukan tugasnya sebagai istri.
"Hana, tenang. Mama bakal jaga Lucas terus." Lucy berkata. Lucy tak ingin rumah tangga Lucas hancur lagi.
"Terima kasih, Ma."
Dokter memeriksa Hana lagi. Tidak ada yang salah pada tubuh Hana atau perlu dilakukan tindakan operasi.
Saat waktunya tepat Hana mulai melakukan tanam embrio yang masih ada. Hana dan Richard berdoa begitu juga putra dan putri Hana.
Tetapi yang kedua juga gagal. Akhirnya dokter menyarankan untuk inseminasi buatan. Sebenarnya inseminasi buatan bisa dilakukan sebelum proses bayi tabung. Jika menghendaki anak laki-laki maka dokter akan menaruh sper ma dengan kromosom Y di rahim Hana.
Hana cuma bisa mengiyakan. ~ Haruskah dengan cara alami? Sedetik kata dokter akan jadi.
Hana memukul kepalanya karena berpikir yang tidak-tidak. ~ Hana, ingat! Suamimu itu Lucas. Bukan Richard. Jangan berbuat bodoh.
"Mama, yihat." Rin memperlihatkan sebuah gambar. "Ini mama."
"Mama." Rin memeluk Hana. Ia juga ikut menangis. Hana buru-buru menghapus air matanya. "Mama nggak pa pa. Mama keinget kakak Ryu."
Richard mencoba menghibur Hana. Ia membawa semua orang di rumah menuju ke pangkalan helikopter. Rin melihat takjub helikopter di depannya. "Yin boyeh naik?"
"Boleh."
Untuk giliran pertama Hana, Richard dan Rin menaiki helikopter yang akan membawa mereka keliling kota.
Rin memandang takjub gedung-gedung di bawahnya. "Mama yihat." Rin menunjuk gedung tempat mereka tinggal.
Hana hanya diam di tempat. Sesekali ia bisa melirik ke bawah. Tapi kepalanya langsung pusing. Richard menyentuh tangan Hana yang berkeringat dingin.
Selesai berkeliling mereka kembali lagi ke pangkalan. Hana merasa lemas. Sedangkan Rin ingin naik lagi.
"Sekarang giliran mama Berta dan suster. Rin naiknya lain kali lagi. Orang lain sudah banyak yang antri." Hana menunjuk antrean orang yang ingin naik helikopter.
Richard meminta mama Berta untuk menaruh Ren di pangkuannya karena ia melihat Hana masih mengumpulkan kekuatannya.
Akhirnya mama Berta dan suster serta asisten Richard naik helikopter. Awalnya asisten Richard menolak. Ia merasa harus terus berada di samping tuannya. "Tuan, Maaf. Sebaiknya saya tetap berada di samping Tuan."
Richard tahu itu cuma alasan. Alasan sebenarnya karena sang asisten takut dengan ketinggian.