
"Mama, Yin mau yihat kuya-kuya." Rin ingin melihat kura-kura mini di rumah Alex.
"Sekarang masih siang, Rin. Tunggu om Alex pulang." Sebenarnya Hana tidak ingin terlalu sering bertemu tetangga karena di Amerika biasanya menjunjung privasi. Walaupun sebenarnya Hana juga ingin bertanya di mana putri Alex karena tidak terlihat sama sekali.
Atau jangan-jangan Alex suka dengan barang yang imut-imut?
Rin bermain bersama kakak-kakaknya dan adiknya. Ia menunggu sampai sore. Rin meminta diantar ke rumah Alex.
Hana terpaksa membawa Rin ke apartemen Alex. Ia memencet bel. Tetapi tidak ada jawaban. "Om Alex-nya belum pulang kerja. Kita pulang, ya." Hana mengajak Rin.
Tetapi Rin tiba-tiba berlari menuju seseorang. "Om Ayex." Alex langsung menggendong Rin dan menciumnya. Sama seperti yang pernah ia lakukan saat Alice menyambutnya pulang.
Alex tersadar. Yang ia lakukan itu merupakan gerakan refleks. Hana bisa melihat Alex yang menyayangi Rin.
"Yin want to see baby tuytle." Rin ingin melihat kura-kura.
Alex mengajak Rin masuk rumahnya. Rin melihat kura-kura mini.
Akhirnya setiap hari Rin mengunjungi Alex. Sampai suatu saat Hana menemani Rin berkunjung.
Hana memencet bel tapi tidak ada jawaban dari dalam rumah.
Aneh. Biasanya Alex sudah pulang jam segini.
"Rin. Om Alex kayaknya lembur. Belum pulang. Besok kita datang lagi."
Rin mengangkat kedua tangannya tanda minta digendong. Hana lalu menggendong Rin. Tangan Rin menyentuh gagang pintu modern lalu menyentuh angka-angka. Nomor password apartemen Alex.
Pintu terbuka. Hana terkejut. "Rin, kita nggak boleh masuk sembarangan ke rumah orang. Kita bisa dipenjara karena dituduh maling."
Tapi Rin tetap ngotot ingin masuk ke rumah Alex. Rin minta diturunkan. Hana sudah bersiap-siap meminta maaf ke Alex.
Begitu kaki Rin menginjak lantai, ia langsung masuk ke dalam apartemen Alex. "Om ..." Rin menggoyangkan tubuh Alex yang sudah tergeletak di lantai.
"Permisi." Hana masuk dan ikut terkejut.
Hana menyentuh pergelangan Alex. Nadinya lemah. Hana mengarahkan telunjuknya ke bawah lubang hidung Alex. Alex masih bernafas.
Hana langsung menghubungi 911. "I need ambulance."
Petugas 911 meminta keterangan.
"I saw a man with low heartbeart in the floor. But he still breathing." Hana tahu ia harus bertindak cepat. Nyawa Alex dalam bahaya. Setiap detik dan menit sangat berharga. Ambulan datang dan membawa Alex. Hana dan Rin ikut masuk ke dalam ambulan.
Di rumah sakit Hana diminta menulis beberapa biodata Alex. Petugas kesehatan mengira Hana itu istri Alex dan Rin itu anak Alex. Hana hanya mengisi kolom nama.
Aku cuma tahu namanya aja. Yang lainnya aku nggak tahu.
Apa aku bakal masuk penjara karena masuk rumah orang tanpa ijin?
Pikiran Hana jadi kemana-mana.
Ponsel Hana berbunyi karena Richard kuatir. Hana dan Rin berada begitu lama di rumah Alex.
"Aku di rumah sakit. Alex pingsan. Denyut nadinya lemah. Aku tadi nelpon 911." Hana sampai lupa mengabari orang rumah karena panik.
"Apa nama rumah sakitnya?"
Hana bertanya ke suster nama rumah sakit. Richard langsung meluncur ke rumah sakit.
Dokter melakukan pertolongan ke Alex. Untunglah Alex cepat dibawa ke rumah sakit. Saat ini tinggal menunggu Alex kembali sadar.
"Apa kau tau istri Alex di mana?" Hana bertanya ke Richard.
"Aku nggak tahu. Kami jarang ngobrol. Aku sibuk. Ia sibuk."
Hana selama ini juga belum pernah melihat foto Alex dengan istri dan anaknya. Tetapi Hana yakin Alex bukan single.