
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
"Sayang, kalian berdua menjemput ku?" seru Alvian tersenyum lebar seraya langsung memeluk istri dan anaknya secara bersamaan.
Tadi sebetulnya Ayara tidak mau ikut menjemput Alvian ke bandara karena merasa was-was bila ada orang lain yang melihat mereka berada di dalam mobil seorang member ALV.
Namun, karena Vania menangis ingin ikut bersama Denis yang merupakan bodyguard mereka di saat tidak ada Alvian. Jadinya mau tidak mau Ayara akhirnya ikut juga. Akan tetapi tentu Denis sudah menjamin bahwa mereka berdua aman. Tidak akan ada yang mengetahui bahwa mereka berdua ada di dalam mobil suaminya.
"Papa, Via mau gendong! Via lagi tatit," Vania yang menjawab karena gadis kecil itu memang sangat merindukan papanya.
Gara-gara merindukan sang ayah, anak cantik itu sampai demam sudah dua hari ini. Namun, Ayara sengaja tidak mengatakan pada suaminya. Termasuk keluarga Rafael dan Denis. Mereka di pinta oleh Aya agar tidak memberitahu Alvian.
"Ayo Papa gendong," Alvian langsung saja mengangkat tubuh sang putri ke atas pangkuannya. Lalu karena putrinya mengatakan lagi sakit. Diapun menempelkan punggung tangannya pada kening si buah hati.
"Via sakit?" tanyanya pada Vania bukan pada Ayara yang hanya menyegir kuda. Sebab dia sudah memberikan kode mengedipkan mata pada sang putri. Akan tetapi nampaknya kali ini Vania lagi tidak bisa diajak kerjasama.
"Iya, Via tatit," jawab Vania, yang membuat Denis dan Bodyguard satunya lagi tersenyum kecil.
Setiap kali Alvian menelepon. Ayara selalu bilang kalau Vania dan dia baik-baik saja. Supaya tidak menganggu pekerjaan suaminya. Tadinya bila Vania tidak mengadu pada sang ayah, maka posisi Ayara pasti akan aman-aman saja.
"Alvin, apakah perjalanannya seru?" Ayara tidak kehabisan akal. Agar Alvian tidak tahu jika kemaren dia berbohong.
"Sangat melelahkan karena tidak ada kalian ikut bersamaku. Tapi apakah Via sakit?" Agh! Percuma saja Ayara mencari cara untuk mengalihkan pembicaraan, karena pada akhirnya si tampan Alvian akan menanyakan keadaan putrinya juga.
"Eum... sebetulnya hanya pana---"
Cup!
"Jadi karena Via demam makanya kalian tidur di rumah utama?" Alvian langsung mengecup bibir ranum istrinya karena tanpa Ayara menjawab. Tentu pemuda itu sudah tahu jawabannya.
Sedangkan yang dicium tentu saja matanya langsung membola dan pipinya pun memerah seperti kepiting rebus. Sebab Ayara malu pada kedua bodyguard pribadi sang suami.
Bagaimana dia tidak merasa malu. Alvian mencium di saat posisi mobil mereka belum jalan dan masih ada di bandara. Jadi ke-dua bodyguard itu tentu bukan lagi melihat ke arah jalan. Melainkan sedang menatap mereka dari pantulan kaca di atas kepalanya masing-masing.
"Sayang, apakah teman-teman mu tidak akan pulang sekarang? Kenapa kita belum meninggalkan bandara?" Ayara yang tidak ingin menjelaskan sekarang tentang sang putri yang demam. Kembali mencari cara untuk mengelak.
"Ayara sayang, kau ingin berbohong? Huem!" Alvian tersenyum karena Ayara tidak berkata bila berbohong. Jadi malah terlihat sangat menggemaskan bila di mata Alvian.
"Haaa... ha... Agh! Sudahlah! Nanti saja aku ceritakan kenapa aku berbohong." tawa Ayara karena Alvian sudah menarik tubuhnya agar bersandar pada bahunya.
"Denis, kenapa belum jalan? Apakah belum ada member yang meninggalkan bandara?" tanya Alvian karena sejak masuk ke mobil dia tidak melihat kearah manapun.
Sebab dunianya sudah ada bersamanya. Ayara dan Vania adalah harta paling berharga bagi Alvian. Jadi tidak ingin lagi menyia-nyiakan kebersamaan mereka.
"Belum ada, Tuan. Soalnya ada para fans ALV yang menghambat jalan di depan." jawab Denis mengetahui dari pemberitahuan alat yang menempel pada telinga nya. Yaitu alat penghubung yang selalu dipakai oleh para bodyguard.
Apalagi Denis, laki-laki ini merupakan orang kepercayaan. Jadi tentu dia akan terhubung dengan bodyguard dari agensi yang dinaungi oleh bos nya.
"Apakah masih lama? Aku takut putriku kelelahan bila berada didalam mobil terlalu lama."
"Ini mereka sudah mulai jalan, Tuan." dengan pelan Denis mulai menjalankan kendaraannya. Namun, tidak bisa kencang karena mobil mereka masih dikawal ketat oleh bodyguard agenci.
Bukan hanya mobil Alvian saja yang meninggalkan bandara. Akan tetapi juga mobil para Staf. Jadi jangan heran bila di depan gerbang masuk bandara akan terkena macet.
Soalnya bila ada sedikit kendala saja, Maka mobil-mobil mewah tersebut akan terkena macet.
"Oh, syukurlah! Aku takutnya lama," ucap Alvian sambil mengelus kepala putrinya. Sedang tangan satunya lagi merangkul bahu istrinya.
"Aku sangat merindukan kalian. Rasanya sudah tidak sabar ingin bertemu. Ternyata juga putri kecilku lagi sakit. Pantas saja aku selalu susah tidur, karena mengingat wajah imut ini." lanjut pemuda itu yang tidak merasakan lelah lagi setelah melihat wajah istri dan anaknya.
"Maaf, aku hanya tidak ingin membuat mu khawatir," Ayara menatap muka tampan suaminya dari samping.
"Tidak apa-apa! Aku takutnya putri kita sakitnya parah. Aku percaya kau bisa menjaganya dengan baik. Namun, lain kali tidak boleh seperti ini lagi," sambil berbicara, Alvian kembali lagi memberikan kecupan pada kening istrinya.
"Kau dan Via adalah segalanya bagiku. Sudah cukup dulu kau mengurusnya sendiri. Jangan sampai sekarang kau harus menjaga Via sendiri lagi hanya karena aku sibuk dengan dunia ku sendiri."
"Alvin," seru Ayara tersenyum bahagia walaupun hanya mendengarkan perkataan seperti itu saja. Lalu karena merasa sangat nyaman berada dalam pelukan sang suami. Ayara balik memeluk dari samping yang terhalang oleh putri mereka.
...BERSAMBUNG......