
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
Pagi-pagi sekali Lula sudah bangun dan memasak untuk sarapan mereka berdua. Rencananya jam sepuluh nanti mereka akan berangkat ke rumah orang tua Bara. Baru dua hari setelahnya pergi ke kota B untuk meminta Restu pada keluarga Lula.
Sudah pernah tinggal satu Apartemen dan tidur satu ranjang. Membuat Lula tidak kaget saat bangun dalam pelukan suaminya. Justru hampir lima belas menit sebelum turun dari ranjang. Gadis itu menatap ketampanan wajah Bara.
"Aaagh! Akhirnya selesai juga!" Lula tersenyum kecil melihat beberapa macam masakannya di atas meja makan.
Cup!
"Pagi..." tiba-tiba tangan Bara melingkar indah di pinggang ramping Lula dan juga mencium pipi gadis itu.
"Ba--bara!" seru Lula tergagap karena kaget. Di rumah besar tersebut memang belum ada penghuni lain selain mereka berdua. Soalnya rumah tersebut biasanya hanya dibersihkan oleh asisten dari rumah orang tua Bara.
"Kenapa kaget? Bukannya kita sudah pernah tinggal bersama," Bara memutar tubuh Lula agar berhadapan padanya.
"Kenapa kau tidak menjawab kata-kata selamat pagi dariku?" pemuda itu kembali bertanya karena Lula hanya terdiam.
"Pagi juga! Kau sudah bangun. Padahal aku baru saja baru mau membangunkan mu," ucap Lula tersenyum kecil. Namun, tetap terlihat sangat manis di mata Bara.
Cup, cup, Muaach!
Lagi-lagi bara mengecup kedua pipi dan berakhir di bibir ranum yang pernah dia nikmati saat di Apartemen dan tadi sore ketika mereka resmi menjadi pasangan suami-istri.
"Bernafas! Jika kau tahan bisa-bisa kehabisan oksigen," Bara tersenyum sambil menyapu lembut bibir istrinya. "Ternyata kau belum pernah berciuman sama sekali," lanjutnya yang membuat kedua pipi Lula merah merona dalam waktu seketika.
"Aku memang belum pernah berciuman karena berpacaran saja aku hanya satu kali. Itupun tidak lama cuma dua Minggu." jawab Lula jujur.
"Itu semua karena aku sudah bahagia dengan dunia halu ku. Aku tidak pernah memikirkan untuk memiliki pacar lain lagi setelah mengenal para member ALV." ungkap gadis itu karena selama hubungan mereka dekat Lula memang sangat tertutup apabila masalah pribadinya.
Berbeda dengan Bara yang selalu menceritakan permasalahannya dengan Ria, maupun para mantan kekasihnya saat masih sekolah menengah atas.
"Tapi sekarang kau tidak sedang berhalusinasi, karena kau benar-benar bisa memiliki salah satu member ALV." ujar pemuda itu sudah menarik Lula untuk dia peluk.
"Terima kasih karena cinta mu pada kami. Membuat aku mendapatkan ciuman pertama mu," ucap Bara lagi merasa begitu bahagia bisa memiliki gadis bar-bar dan bisa menjaga kehormatannya.
"Bara, ayo kita sarapan! Bukannya kita mau ke rumah orang tua mu?"
"Nanti malam saja sekaligus menginap. Hari ini aku ingin bersama istri ku tanpa ada yang mengaggu. Walaupun ada panggilan dari Staf Muzaki sekalipun."
"Tapi---"
Cup!
"Jangan protes karena aku hanya ingin berduaan bersama mu. Sekarang kita sarapan setelah itu kita kembali keatas untuk melanjutkan malam pertam---"
"Baiklah! Kau mau sarapan apa? Duduklah! Biar aku yang menyiapkan untuk mu," mendengar perkataan Bara dengan cepat Lula memotong ucapan pemuda itu.
"Apa saja karena aku tidak terlalu pemilih seperti Alvian. Lagian semua masakan mu aku menyukainya," Bara yang tahu bahwa Lula malu, hanya tersenyum tampan dan mengikuti perkataan istrinya untuk duduk di kursi meja makan.
"Ternyata memiliki seorang istri sangat membahagiakan. Pantas saja Alvian selalu tersenyum bahagia bila membicarakan Ayara dan Via."
Bara bergumam dengan tatapan mata menatap lekat Lula yang semakin tersipu malu.
"Jika memiliki anak membuat sebuah rumah tangga bahagia. Maka aku dan Lula juga akan memiliki anak. Aku hanya ingin hidup seperti mana pemuda lainya. Walaupun pernikahan kami dirahasiakan. Akan tetapi aku bisa merasakan dunia ku sendiri tidak harus di atur para staf."
Pemuda itu kembali bergumam. Namun, di dalam pikirannya sudah memiliki berbagai rencana untuk membangun sebuah keluarga.
... BERSAMBUNG......