
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
Setelah hampir lima belas menit membujuk Vania yang menangis mau ikut naik pesawat. Akhirnya si member ALV yang bernama lengkap Alvian Fatir Rafael. Bisa berangkat, walaupun sudah pasti dia terlambat daripada yang lainnya.
Selama dalam perjalanan menuju ke perusahaan Agensi yang mereka naungi. Alvian hanya diam sambil menatap foto istri dan anaknya. Ini adalah perpisahan pertama mereka setelah menikah.
Bila pekerjaannya tidak menyangkut orang banyak. Mungkin Alvian akan memilih untuk membatalkan tidak jadi pergi. Daripada harus melihat air mata sang putri.
Namun, karena pekerjaannya sangatlah sensitif dengan kehidupan pribadinya. Membuat Alvian harus meninggalkan buah hatinya dalam keadaan menangis di pelukan sang istri.
"Papa pasti akan merindukan Via sama mama," gumamnya yang duduk di kursi belakang. Sedangkan Denis duduk di depan bersama satu bodyguard kepercayaan Alvian juga.
Bodyguard pribadi dan Bodyguard dari Agensi. Berbeda, karena jika Alvian tidak ada jadwal manggung. Dia dan para member ALV selalu memakai Bodyguard sendiri.
Tidak seperti para artis lainya yang selalu mengunakan Bodyguard dari perusahaan tempat mereka bernaung.
Jadi yang membayar pun juga pribadi. Sehingga ada masalah dan rahasia mereka, tidak akan pernah diketahui oleh orang lain.
"Denis, jika istriku pergi ke makam mamanya, kau jangan biarkan dia masuk ke area pemakaman sendirian." ucap Alvian memecahkan keheningan diantara mereka bertiga.
"Baik, Tuan." Denis menjawab singkat. "Saya akan menjaga Nona Aya dan putri, Anda." lanjut Denis yang sudah tahu apa tugasnya.
"Huem, baiklah! Kau jaga mereka sampai aku kembali dan saat membawa mobil, berhati-hatilah jangan mengebut. Sehingga bisa membahayakan nyawa kau dan keluargaku." pesan si ayah tampan sebelum turun dari mobil karena mereka sudah sampai.
"Baik," hanya itulah jawaban dari Denis. Dia hanya diam di dalam mobil tidak membukakan pintu mobilnya untuk sang bos, karena sudah ada Bodyguard perusahaan juga yang menunggu kedatangannya bak presiden yang dikawal khusus.
Saat keluar dari mobil, Alvian yang sudah terbiasa menggunakan masker. Hanya berjalan turun dari mobil tanpa berkata sepatah katapun.
Begitu turun pun sudah dikawal oleh para bodyguard pilihan, karena para member ALV memang selalu diistimewakan dari artis lain.
"Alvian, kau sudah datang," seru Staf Muzaki yang sudah datang paling awal dari para anak asuhnya.
"Iya, maaf aku sedikit terlambat." kata Alvian karena tahu jika mobil para artis yang akan berangkat satu pesawat degan member ALV sudah berjajar rapi.
"Tidak apa-apa, ayo masuk dulu, sepuluh menit lagi kita berangkat ke bandara karena bila tambah siang akan menghambat perjalanan kita. Soalnya di depan bandara sudah dipenuhi oleh fans kalian dan reporter pencari berita artis." terang Staf Muzaki berjalan beriringan dengan Alvian.
"Huem, aku mengerti," sahut pemuda itu sudah membuka masker yang ia pakai.
"Al, kau sudah datang," sambut para sahabatnya secara bersamaan.
"Alvian, tumben sekali kau terlambat?" tanya Alice yang sudah menunggu pria yang dia cintai sejak tadi. Tapi karena banyak orang, Alvian tidak mendengar pertanyaannya.
"Al, apakah kau terlambat karena Via mau ikut?" tebak Bara yang langsung membuat Alvian tersenyum dan menjawab.
"Iya, dia masih menangis saat aku tinggal. Padahal kemarin sudah berjanji mintanya oleh-oleh karena dia mau menginap di rumah utama. Jadi tidak masalah bila aku pergi." Saking bahagianya membicarakan sang putri. Sampai membuat Alvian dan juga member ALV yang lainya lupa tempat.
"Al, siapa yang menagis ingin ikut bersamamu? Apakah kau masih memiliki saudara yang masih kecil?" Alice yang diabaikan kembali lagi bertanya dan berjalan maju mendekati Alvian.
"Agh, Alice! Sejak kapan kau ada disini?" Alvian tersentak kaget.
"Sejak kau tersenyum karena pertanyaan Albar? Siapa yang menangis karena mau ikut bersamamu?" gadis seksi itu kembali mengulang pertanyaan yang sama.
"Itu keponakan Alvian dari kota B." bukan Alvian yang menjawab, tapi Sandy.
"Apakah gadis kecil yang ada di status mu?" tebak Rima sahabat Alice.
"Tapi... tunggu-tunggu! Yang ada di status mu bukannya yang kau akui jika orang yang sangat berha---" Rima ingin bertanya lagi. Akan tetapi suara Staf Muzaki sudah mengalihkan percakapan mereka semuanya.
"Anak-anak karena kita sudah berkumpul semua jadi berangkatnya dimajukan sekarang." ucap Staf Muzaki yang langsung membuat mereka berdiri dari tempat duduk untuk berjalan keluar menuju mobil masing-masing yang membawa mereka ke bandara.
"Al, tunggu sebentar!" Alice menahan pergelangan tangan Alvian yang sudah mau berjalan dengan sahabatnya.
"Apa?" pemuda tersebut menjawab singkat karena memang sejak dulu dia berbicara seperlunya.
"Eum... aku dengar kata Staf Muzaki sebelum kau datang. Malam ini kita akan tinggal di hotel yang sama, karena penjagaannya hanya dibuat satu oleh pemerintah setempat."
"Lalu? Bukankah jadwal kita yang satu panggung adalah hari kelima kita di sana?"
"Iya, benar sekali. Tapi malam ini kita akan menghadiri stasiun televisi terbaru. Namun, walaupun masih baru. Tapi mereka adalah milik perusahaan besar. dan mengundang kita secara bersamaan,"
"Huem, yasudah tidak apa-apa." Alvian dan Alice akhirnya berbicara sambil berjalan keluar dari gedung tersebut, karena tidak ada waktu lagi bila hanya diam di dalam, tidak ikut keluar bersama rombongan kru dan para staf yang lain.
"Nanti malam kita jalan-jalan, ya. Eum... aku---"
"Alice, apa yang kau lakukan! Kenapa lama sekali, ayo cepat masuk," ucap salah seorang staf yang sudah sejak tadi menunggu Alice. Soalnya mereka akan menggunakan mobil yang sama.
"Al, nanti kita bicarakan lagi, sekarang aku duluan," pamit gadis itu menuju mobilnya.
Begitu pula Alvian, pemuda itu juga masuk ke mobil mereka.
Braaak!
Suara pintu mobil yang ditutup oleh Bodyguard setelah Alvian duduk dengan nyaman di dalam bersama Bara, Hanan, Naufal dan Sandy. Jadi kali ini kelima member ALV hanya menggunakan satu mobil saja. Akan tetapi pengawalan di depan dan belakangnya sangatlah ketat.
"Al, Alice tadi bicara apa?" tanya Hanan begitu mobil mereka sudah meninggalkan perusahaan Agensi.
"Entahlah! Dia belum selesai bicara, tapi sudah dipanggil oleh Stafnya."
"Untung saja ada Staf Muzaki, jika tidak pasti Rima masih bertanya tentang Via," timpal Naufal karena di dalam mobil hanya ada sopir yang merupakan bodyguard Sandy. Jadi mereka bisa bebas saat berbicara hal pribadi.
"Aku kira mau bertanya tentang Via. Tadi aku juga lupa," imbuh Hanan.
"Tidak apa-apa, semuanya akan aku umumkan bila berkas dari papa sudah selesai. Namun, aku haru bersabar karena nama Aya tidak tertulis sebagai putri Tuan Edward." jawab Alvian karena sekarang ayahnya memang sedang mengurus tentang latar belakang keluarga Ayara.
... BERSAMBUNG... ...