
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
"Jika kalian tidak bersama dalam bentuk pernikahan. Maka sudah pasti Vania akan menjadi korbannya, Nak. Jadi tolong pikirkanlah baik-baik," mendengar ucapan Tuan Abidzar. Membuat Ayara terhenyak tidak bisa berkata apa-apa.
Air matanya mengalir dengan sendirinya. Dia tidak pernah terpikirkan kearah sana. Ayara hanya berpikir cukup memberikan Alvian kesempatan untuk bertanggung jawab pada putri mereka.
Tentang janjinya tadi malam, yang berjanji mau memberikan pemuda itu kesempatan. Hanya untuk menyakinkan dirinya sebelum melepaskan Alvian bersama wanita lain.
"Jika kau dan Alvin, sudah hancur sejak awal hubungan kalian kandas. Tapi jika Vania, dia masih kecil dan akan tumbuh dalam hinaan, karena dosa kedua orangtuanya. Apakah kau mau putrimu hidup seperti itu?" Tuan Abidzar menatap lekat pada Ayara yang terisak kecil.
Untungnya saat ini Vania lagi bermain pada kuda-kudaan yang ada beberapa meter dibelakang mereka. Jadinya si cantik tidak tahu bahwa mama terhebatnya sedang menangis.
"Namun, jika kalian menikah, Saya bisa mengubah yang tidak bisa. Menjadi bisa! Saya bisa merekayasa pernikahan kalian, begitu pula dengan akte kelahiran Vania. Tapi semua keputusan ada ditangan mu."
"Tapi... Alvin sudah memiliki kekasih lagi. Dia mencari Saya pasti hanya terobsesi atas kehadiran Vania," jawab Ayara masih terisak dan tidak percaya jika Alvian benar-benar belum memiliki kekasih. Sebagai penggantinya. Meski pemuda itu sudah mengatakan berulang kali, bahwa dia hanya mencintai Ayara seorang.
"Alvin tidak pernah memiliki kekasih, Nak. Jangan pernah percaya pada berita di luar sana. Itulah kenapa Saya tidak pernah merestui dia degan cita-citanya. Semua itu karena untuk kebaikan Alvin sendiri," jelas beliau menyakinkan.
"Apakah sampai sekarang Anda belum bisa menerima cita-citanya yang ingin menjadi seorang penyanyi terkenal?" ucap Ayara sembari menyeka air matanya.
"Tidak! Saya tidak pernah menyukai sampai saat ini. Hanya saja rasa sayang sebagai seorang ayah. Membuat Saya tidak bisa mengabaikan dia begitu saja. Apalagi setelah dia hampir tewas karena ada seseorang yang ingin menghabisi nyawanya,." terdengar helaan nafas Tuan Abidzar sangat berat. Seperti lagi menahan sesuatu.
"A--apa! Siapa yang mau menyakiti Alvin? Dia sangat baik degan siapapun." seru Ayara kaget mendengar ada yang mau membunuh mantan kekasihnya.
Tuan Abidzar yang tadinya terlihat sedih. Mendengar perkataan Ayara beliau langsung tertawa.
"Haa... ha...'' tertawa sebentar karena setelah itu Tuan Abidzar berkata. "Dia memang pemuda yang baik. Jahat dan brengseknya adalah, sudah menyakitimu dan tidak bertanggung jawab atas perbuatannya yang berani berbuat saja. Setelah itu pergi mengejar mimpinya. Tanpa berpikir seperti apa nasib gadis yang dia lukai."
Ternyata sifat Alvian yang tidak malu mengakui kesalahannya. Mengikuti ayahnya yang memiliki sifat rendah hati. Terbukti meskipun orang kaya dan pengusaha terkenal. Tuan Abidzar tidak malu mengatakan anaknya yang brengsek dan memohon agar Ayara mau menjadi menantunya.
Mungkin bila itu orang lain, maka tidak akan mau melakukan hal tersebut. Jangankan untuk memohon sepertinya, yang ada mereka akan mencari cara agar putranya tidak menikahi gadis miskin seperti Ayara.
"Jujur, Saya sangat marah pada kalian berdua. Tapi semua sudah terjadi dan Saya sudah memiliki cucu yang sangat cantik dan lucu. Tapi Saya akan tetap memberikan Alvin hukuman, agar dia merasakan apa yang kau terima dari Edward." kata Tuan Abidzar yang sangat geram pada Tuan Edward.
"Maksud Anda hukuman seperti apa?" Ayara yang tadinya menagis, sekarang tidak lagi. Setelah mendengar tawa Tuan Abidzar. Wanita itu merasa jika ucapnya tadi memang sangat konyol. Bagaimana mungkin Aya masih sempat-sempatnya memuji bahwa Alvian, adalah pemuda yang baik.
Glek!
Si ibu muda menelan Saliva nya sendiri. Dia merasa kasihan pada Alvian yang akan di tampar. Namun, juga tidak percaya bahwa Tuan Abidzar orang yang blak-blakan. Apa yang tidak dia suka langsung dia katakan.
"Kenapa rasanya aku ingin tertawa mendengar ucapan Om ini. Ternyata dia orangnya baik, tidak kejam seperti auranya yang dingin." puji Ayara di dalam hatinya.
"Jadi apakah kau menerima Alvin? Jika masih ragu, maka berpikirlah lebih dulu. Saya akan memberi waktu sampai besok pagi, karena setelah itu Saya akan kembali ke kota S. Kepergian Saya ke sini tidak ada yang mengetahuinya. Keluarga Rafael hanya tahu, Saya pergi melakukan perjalanan bisnis. Bukan pergi menemui kalian." ungkap beliau yang kembali menanyakan keputusan Ayara.
"Apakah Tuan yakin jika Alvin tidak akan mengecewakan Saya lagi? Bagaimana bila dugaan Saya benar. Tentang dia yang hanya terobsesi pada putrinya Saya?" Ayara kembali melemparkan pertanyaan.
Dia harus benar-benar yakin sebelum mengambil keputusan. Ini semata-mata bukan hanya untuk Vania. Tapi juga untuk masa depan dia dan Alvina sendiri. Mereka masih sama-sama muda. Jadi sudah pasti mau menjalani kehidupan seorang orang lain.
"Saya sangat yakin bahwa putra Saya tidak akan mengecewakan kalian berdua. Asalkan kau tidak terpengaruh dengan berita yang beredar tentang dirinya." Tuan Abidzar menjawab yakin.
"Jika kau ragu dan ingin melihat sendiri, apakah dia benar-benar mencintaimu atau tidak. Maka mari kita buat kesepakatan. Sabtu, Alvin pasti sudah kembali dari tour nya. Jadi kau dan Vania kembalilah ke kota S, nanti akan ada sopir yang menjemput kalian berdua." ucap Beliau memiliki rencana agar Ayara percaya pada ucapannya.
"Lalu? Apa yang bisa Saya lakukan bila kembali ke sana? Bagaimana caranya Saya mengetahui dia masih mencintai Saya atau tidak?"
"Saat Alvin pulang, Saya akan mengatakan bahwa dirinya harus menikah dengan wanita yang Saya pilih. Dan kalian cukup lihat apa yang terjadi di Apartemennya setelah itu. Kau juga bisa buktikan, apakah dia masih mengunakan tanggal lahir mu sebagai akses masuk kedalam Apartemennya, atau Saya yang berbohong padamu." tawar Tuan Abidzar.
"Bila perkataan Saya ini tidak benar, maka Saya yang akan menjauhkan kalian darinya. Kau dan Vania bisa hidup di luar negeri, karena Saya akan bertanggung jawab penuh untuk kehidupan kalian berdua." beliau sudah selesai menceritakan tentang ide untuk membuktikan Alvian masih mencintai Ayara atau tidak.
"Eum... baiklah! Saya setuju. Tapi bila apa yang Anda katakan tidak benar, maka Saya mau mengikuti ide Anda yang kedua. Cukup bantu Saya meninggalkan negara ini. Setelah itu Saya akan mencari pekerjaan sendiri." jawab Ayara merasa usul Tuan Abidzar tidak merugikan dirinya.
Flashback off...
"Astaga! Jadi Papa yang membuat rencana ini," seru Nyonya Lili, dan Alvian secara bersamaan.
"Huem, tentu saja! Karena Papa tidak mungkin membuat si cantik ini dan mamanya, hidup menderita lagi," jawab Tuan Abidzar yang masih memangku cucunya.
Saat pertemuan mereka dua hari lalu. Tuan Abidzar dan Vania memang sudah dekat, karena hari itu juga. Beliau membawa cucunya dan Ayara pergi jalan-jalan.
Untuk menganti Ayara yang meninggalkan pekerjaannya. Beliau bahkan mengganti rugi pada Kak Regina dengan uang cukup besar.
"Jadi bagaimana sekarang, Apakah kau tetap masih tidak mau dengan wanita yang akan Papa jodohkan denganmu?" tanya Tuan Abidzar yang membuat Alvian mengelengkan kepalanya cepat.
"Eh, tidak-tidak! Alvin mau. Jika saja Papa berkata sejak awal siapa gadisnya. Mana mungkin Alvin akan menolak menikah dengan wanita yang Alvin cintai." jawab pemuda itu merangkul Ayara yang hanya bisa tersenyum bahagia.
... BERSAMBUNG......