
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
Pagi harinya. Di rumah sewa sederhana milik Ayara. Sudah berisik suara Bara dan Vania yang bercanda. Lula sedang pulang ke rumahnya untuk mandi. Sekaligus pergi membeli makanan buat mereka semua sarapan.
Tadi Alvian sudah memberikan gadis itu uang puluhan dolar. Agar membeli apa saja yang dia mau.
Sedangkan Ayara masih tidur karena dia belum sembuh total. Kesepakatan yang sudah dia dan Alvian buat tadi malam adalah.
Alvian diberikan izin untuk menemui Vania kapanpun dia mau. Termasuk bila ingin membawa Vania bertemu keluarga Rafael. Akan tetapi Ayara meminta agar jangan sampai ada orang luar yang mengetahui hal tersebut.
Semua itu dia lakukan tentu saja demi ketentraman hidupnya bersama Vania. Padahal Alvian sanggup membuktikan bahwa dia akan mengakui Vania sebagai putri kandungnya di depan publik.
Alvian tidak peduli akan karier yang sudah dia bangun selama ini. Satu-satunya tujuan dia adalah memberikan yang terbaik buat sang putri.
Namun, Ayara tetap menolak tegas dan juga menolak cinta Alvian yang katanya masih mencintainya sampai saat ini. Kaca yang sudah retak, mungkin bisa di rekatkan kembali. Akan tetapi bentuknya tidak akan indah seperti semula.
Diibaratkan itulah hati Ayara. Meskipun Alvian menyesal dan masih sangat mencintainya. Tetap saja hatinya yang sudah terluka tidak bisa sembuh lagi.
"Al, apakah kita akan berangkatnya pagi ini?" tanya Bara memperhatikan Alvian yang lagi berbalas pesan pada ponselnya.
"Tidak! Kita akan pulang sore saja, agar tengah malam baru sampai ke kota S. Siang ini aku ingin membawa Via jalan-jalan," jawab Alvian menyimpan kembali ponselnya.
"Untuk membuat Aya percaya, kau tidak usah ikut. Anggap saja sebagai jaminannya," jawab Alvian tergelak sendiri.
Setelah mengungkapkan perasaannya pada sang mantan. Hati Alvian benar-benar merasa lega. Walaupun Aya tidak mau kembali bersamanya lagi. Tapi wanita itu memberikan izin Alvian buat bertanggung jawab pada putri mereka.
Untuk saat ini, Alvian tidak mau serakah yang ingin mendapatkan semuanya. Namun, dia berjanji pada dirinya sendiri akan merebut hati Ayara nya lagi. Alvian akan menikahi Aya seperti janjinya sebelum merenggut kesucian wanita itu.
Hanya saja semua itu tentu tidak akan mudah, karena Alvian harus menghadapi publik dan juga membuat Ayara percaya pada cintanya seperti dulu lagi.
"Ck, dasar kau ini, sejak dulu selalu saja aku yang kau korbankan," decak Bara yang tidak dihiraukan oleh Alvian.
Dia lebih tertarik mendekati putrinya yang sedang bermain. Vania sudah dimandikan olehnya begitu mereka bagun tidur. Setelah umur putrinya hampir tiga tahun, baru pagi ini Alvian memandikan anaknya.
"Hei... serius sekali," sapa Alvian menatap putrinya penuh cinta dan rasa sesalnya. Menyesal karena sudah melewatkan waktu bersama sang putri yang sangat lucu dan menggemaskan.
Di ponsel mahal Alvian. Sudah dipenuhi oleh foto-foto Vania baru lahir dan sampai sekarang. Dia memintanya pada Lula, karena gadis itu memilikinya.
"Papa tidak nani?" lain yang ditanyakan oleh ayahnya, maka lain pula yang ditanyakan oleh Vania.
"Tidak untuk hari ini, karena Papa ingin bersama Via," jawab Alvian menarik anaknya kearah kursi lalu dia peluk sambil memberikan ciuman di pipi buah hatinya.
"Via mau dualan buna, tama mama," jawab si cantik menunjuk kearah pintu. Mungkin dia mau menunjuk arah tempat mamanya bekerja selama ini.
"Mulai hari ini Via sama mama tidak usah jualan lagi, karena sudah ada Papa," jelasnya yang langsung dibantah oleh Ayara.
Si ibu muda itu ternyata sudah selesai mandi karena dia mana mungkin bisa menikmati sakitnya, karena sudah terbiasa tidak ada yang dia andalkan selama ini.
Mau sakit atau tidak, Ayara harus tetap bangun untuk memasak buat putrinya dan bila demamnya tidak parah. Maka dia akan berangkat bekerja, karena jika dis tidak bekerja, dia dan Vania bisa kelaparan.
"Kata siapa aku tidak bekerja lagi? Berani sekali kau mengambil keputusan seperti itu," Ayara menatap Alvian tajam.
Namun, yang ditatap hanya tersenyum dan tidak menghiraukan apapun yang Ayara katakan. Soalnya Alvian sangat mengenal Ayara, gadis itu tidak pernah bicara kasar bila tidak disakiti lebih dulu.
"Kenapa kau sudah bangun? Istirahat lah! Sebentar lagi Lula akan datang membawa makanan untuk kita sarapan." ucap Alvian berjalan mendekati Aya sambil menggendong Vania. Sedangkan wanita itu masih berdiri di depan pintu kamarnya.
"Kita akan bekerja, tapi hari ini masih libur," meskipun lagi menahan kesal pada Alvian. Tetap saja Ayara memaksakan untuk tetap tersenyum dihadapan putrinya.
"Sepertinya kau sa---"
"Aku tidak ingin bicara dengan mu, jadi diamlah!" sela Ayara sambil berlalu kearah dapur.
"Al, sepertinya Aya masih memiliki perasaan juga padamu," ucap Bara yang sejak tadi hanya tersenyum memperhatikan mereka bertiga.
Mendengar ucapan Bara, Alvian berjalan kearah kursi lagi. Lalu dia duduk seperti semula bersama Vania dalam pelukannya.
"Mungkin! Aku juga belum tahu pasti. Namun, yang jelas aku tidak akan melepaskannya untuk kedua kalinya. Aku ingin membangun rumah tangga bersamanya, Bar. Jangankan sekarang, ada Via yang membuat kami terikat. Dulu juga aku berniat seperti itu. Namun, aku menyesal karena lalai dengan masalah pribadiku sendiri. Sebab kita dituntut untuk tampil sempurna." ungkap Alvian yang begitu banyak penyesalan yang dia rasakan.
"Semoga berhasil, apapun keputusannya. Aku akan mendoakan yang terbaik buat kalian bertiga," Bara mengangguk mengerti.
"Terima kasih! Karena kau dan yang lainya mau mengerti keadaanku," Alvian berucap degan tulus.
Lalu menjelang Lula datang, mereka berdua menemani Vania bermain. Alvian sengaja membiarkan Ayara sendirian karena tahu betul seperti apa sifat mantan kekasihnya itu.
"Kau tidak perlu berterima kasih, aku justru senang bisa ikut menemanimu. Karena itu aku bisa bertemu Vania." Bara tersenyum melihat si gadis kecil yang sangat anteng tidak nakal seperti anak-anak lainya.
"Al, apakah kau bahagia setelah mengetahui bahwa sudah menjadi seorang ayah?" tanya Bara penasaran.
"Apa yang kau katakan. Tentu saja aku bahagia sekali. Apalagi anak bersama wanita yang aku cintai," jawab Alvian tanpa keraguan.
"Aku benar-benar merasa bahagia, Bara. Apalagi bila bisa mendapatkan Ayara ku kembali. Agh nanti setelah memiliki anak, kau akan tahu sendiri seperti apa rasanya," lanjutnya lagi seraya mengeluarkan ponselnya.
Lalu Alvian mengajak Vania berfoto. Dia akan memperlihatkan foto tersebut pada keluarga besarnya. Alvian sangat yakin, bila mamanya akan sangat bahagia bila mengetahui jika dia sudah memiliki seorang putri yang sangat menggemaskan.
"Aku belum bisa berpikir ke sana, karena Ria belum selesai kuliah," jawab Bara yang sebetulnya memiliki seorang kekasih.
Namun, hubungan mereka seperti bukan pacaran saja. Mungkin karena mereka berdua sama-sama sibuk dengan urusan masing-masing.
Deg!
"Jadi Albar sudah memiliki kekasih? Kenapa aku merasa sakit hati ya? Rasanya aku mau menangis." Gumam Lula yang tidak sengaja mendengar ucapan Aldebaran.
"Huem! Aku datang!" seru Lula berpura-pura baru masuk. Padahal dia sudah sejak tadi berdiri di depan pintu masuk.
Alvian dan Bara tidak bisa mendengar jika Lula datang karena asik mengobrol dan mendengarkan suara Vania bernyanyi. Ternyata si cantik Vania mengikuti jejak ayahnya yang suka bernyanyi.
Meskipun suaranya masih cadel, tapi setidaknya Vania sudah memiliki talenta sendiri.
"Lula, sejak kapan kau masuk?" tanya Bara seperti orang habis ketahuan berbohong.
"Baru saja, aku baru masuk! Memangnya ada apa?" berpura-pura tidak tahu untuk menutupi rasa kecewanya.
Meskipun Lula sudah tahu jika mimpinya terlalu tinggi. Tetap saja Lula merasa kecewa. Bukan salahnya bila menyukai Bara. Tapi salahkan lah hati yang salah tempat untuk berlabuh.
"Tante Lula," seru Vania berlari mendekati Lula karena dia memang sangat dekat dengan Lula.
Cup!
Gadis dewasa itu berjongkok dan menaruh barang yang ia bawa pada meja disamping nya. Setelah itu dia memeluk Vania dan memberikan ciuman di pipi si cantik Vania.
"Wah, keponakan Tante harum sekali. Apakah mama sudah sembuh sayang?" tanya Lula yang tidak tahu jika Vania dimandikan oleh Alvian.
"Mama lagi matak di dapul," jawab Vania asal yang membuat Alvian tertawa mendengar ucapan putrinya.
...BERSAMBUNG......