
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
Setelah kurang lebih empat jam lamanya. Akhirnya Lula sudah siuman sejak beberapa menit yang lalu. Tuan Abidzar beserta istri, anak dan menantunya dengan setia menunggu wanita malang itu bangun. Ralat! Bukan hanya itu saja, tapi ibu dan saudari beliau pun ikut hadir.
Entah apa yang terjadi sesungguhnya karena mereka semua tidak mau menanyakan sekarang. Sebabnya takut keadaan Lula tambah drob.
"A--aya!" lirih Lula langsung menangis setelah menyadari dimana dia saat ini. "Ma--maafkan aku!" wanita itu masih terbata-bata.
"Iya, tidak apa-apa. Kau aman sekarang karena aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu." jawab Ayara mengelus penuh kasih sayang kepala sahabatnya.
"Aku---" ucapan Lula terputus karena suara Nyonya Lili.
"Sayang, kenapa kau melakukan semua ini? Apakah kau tidak menganggap kami sebagai keluargamu?" seru beliau langsung memeluk tubuh Lula. Kebetulan sekali begitu wanita itu sadar Arya menaikan ranjang pasien setengah berbaring.
"Tante..." lirih Lula hanya mampu menagis dalam pelukan orang-orang yang menyayanginya.
"Iya, ini Tante. Kenapa kau tidak langsung menelepon kami jika Bara menyakitimu sampai seperti ini?" Nyonya Lili yang juga menyayangi Lula tidak bisa membendung amarahnya.
"Kau jangan menyembunyikan apapun lagi, Nak. Tante adalah sebagai pengganti ibumu." Nyonya Lili merenggangkan pelukannya dan menyeka air mata Lula.
"Lula, tolong ceritakan yang sebenarnya. Om tidak mau kau menyembunyikan hal sekecil apapun. Kau tahu kan bahwa Om sudah menganggap mu seperti putri Om sendiri." sekarang Tuan Abidzar yang berbicara.
Darah beliau seakan-akan mendidih melihat keadaan Lula saat ini. Namun, untuk langsung bertindak belum memiliki bukti apapun. Oleh karena itulah Tuan Abidzar mau Lula sendiri yang mengatakan apa yang sudah terjadi.
"Om... maafkan Lula yang sudah menyusahkan kalian semua." jawab Lula kembali menangis.
"Kau tidak menyusahkan kami. Namun, apabila kau menyembunyikan hal sekecil apapun, yaitu tentang Bara dan keluarganya. Maka Om akan bertindak sesuatu pada mereka semua." Tuan Abidzar memang sedikit mengancam.
"Lula, ayo katakan apa yang sudah terjadi pada rumah tangga mu? Kau tahu kan bahwa kami semua menyanyangi mu." Ayara mengenggam lembut tangan Lula. Mereka berdua saling tatap seakan-akan lagi berbicara lewat sorot matanya.
"Lula, katakan apa yang sebenarnya terjadi? Kau tidak perlu menyembunyikan hal apapun. Jika benar Bara yang melakukannya, aku tidak akan pernah memaafkan dia. Walaupun kami bersahabat, tapi kau adalah saudariku." sambung Alvian membuat Lula tidak bisa membendung air matanya karena merasa sedih dan bahagia secara bersamaan.
Tidak disangka-sangka jika semua keluarga Rafael mengagap nya sebagai anak sendiri.
"Lula, kau adalah cucu keluarga Rafael, Nak. Katakan pada Om Abi dan Alvian. Agar kami bisa menolong mu. Kau tidak boleh bersedih karena ada anak yang harus kau jaga. Sekarang kau tengah mengandung." nenek Alvian yang sedang menggendong Baby Arka ikut membujuk Lula supaya mau bercerita.
"A--apa? Ja--jadi aku sedang hamil?" seru Lula terbata-bata.
"Tapi kau tidak jujur bahwa Alvian adalah ayahnya. Andai aku tahu sejak awal, maka aku tidak akan menghabiskan uang tabungan selama bekerja tiga bulan untuk menonton konser member ALV." jawaban Lula membuat Alvian tergelak mendegarnya.
"Jadi sekarang sebagai Alvian member ALV. Kau harus jujur padaku." ucap pria tersebut yang membuat Lula mengagguk mengiyakan.
Entah mengapa mendengar dia sedang hamil. Dunianya yang sudah gelap, sekarang ada cahaya yang menerangi.
Dengan menghembuskan nafas dalam-dalam. Wanita itupun menceritakan semuanya. Termasuk tentang Nyonya Marry yang memberi obat pencegah kehamilan dan ancaman bila dia sampai hamil.
Lalu pertengkaran dia dan Bara karena difitnah telah meminum obat pencegah kehamilan. Membuat Tuan Abidzar langsung mengirimi pesan pada anak buahnya untuk menyelidiki jika saat ini Bara ada dimana.
"Astaga! Kenapa ada wanita yang begitu licik." seru Nyonya Lili tidak menyangka wanita terhormat seperti mamanya Bara tega melakukan hal sekejam itu.
"Lula, apakah kau masih mau kembali ke rumah Bara?" tanya Tuan Abidzar yang sudah terpikirkan mau melakukan apa untuk menghukum Bara dan keluarganya.
"Tidak, Om. Tolong rahasiakan jika saat ini aku lagi hamil. Aku tidak mau pulang ke rumah itu lagi. Biarkanlah Bara menikahi gadis yang bisa membuat keluarga Anderson bahagia." tanpa berpikir lagi, wanita itu langsung mengambil keputusan.
"Aku tidak mau hidup tertekan lagi. Mungkin selama ini aku saja yang tergila-gila pada Bara. Namun, seperti yang mamanya katakan, aku hanyalah pelarian karena hubungannya dan Ria kandas. Tapi sekarang gadis itu sudah kembali lagi untuk memperjuangkan cinta mereka."
Gumam Lula karena terlalu kecewa atas sikap Bara. Bahkan setelah menyakiti Lula, pemuda itu tidak ada meminta maaf atau berniat menyelesaikan masalah mereka.
"Bagus! Jawaban itulah yang Om butuhkan. Cukup pikirkan tentang kesehatan kau dan calon anakmu. Selebihnya itu urusan Om." kata Tuan Abidzar yang tidak akan tinggal diam saja.
"Berani sekali Marry melakukan ini pada cucuku. Tidak tahu dia, jika menyakiti Lula sama halnya menyakiti putri Rafael." neneknya Alvian ikut menggerutu.
"Arya, kau siapkan kepulangan Lula sekarang juga. Kita harus membawanya pergi dari sini. Om tidak mau Bara mengetahui bahwa Lula lagi mengandung. Jika benar dia serius pada putriku, maka biarkan dia berjuang dan membuktikan keseriusannya yang mau menerima Lula jika mandul sekalipun." perintah Tuan Abidzar yang disetujui oleh semuanya termasuk Alvian.
"Baiklah! Jika begitu Arya akan mengurusnya sekarang." kata Arya karena kebetulan dia memang bekerja di Rumah sakit tersebut.
"Lula, kau tidak akan menyesal kan mengambil keputusan ini?" tanya Ayara menyakinkan sang sahabat.
"Tidak, Aya. Benar kata Om Abi, jika Bara benar-benar mengaggap aku adalah istirnya maka dia tidak akan melakukan ini padaku." jawab Lula tersenyum dibalik luka yang dia rasakan.
"Jika kau benar-benar mencintaiku, maka kau pasti tidak pernah menyakitiku sedalam ini Bar. Kau marah dan kecewa tanpa mencari tahu kebenarannya. Biarkanlah aku membawanya pergi. Mungkin dengan begitu kau lebih bahagia lagi bisa menikah dengan mantan kekasih mu."
Gumam Lula seraya menyentuh perutnya yang masih datar. Sakit? Jangan pernah tanyakan karena bekas tamparan Bara saja belum hilang sampai saat ini.
"Anderson, kalian semua harus mendapatkan balasannya. Berani sekali membohongiku."
Tuan Abidzar mengepalkan tangannya erat. Pria setengah baya itu benar-benar marah pada Bara maupun orang tua pemuda itu.
... BERSAMBUNG... ...