I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Guru Gadungan.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


Tap!


Tap!


Suara langkah kaki Alvian berlari masuk kedalam rumah orang tuanya. Begitu melihat Ayara dia langsung memeluk istrinya dengan erat.


"Alvin... Via, Vin. Via diculik." lirih Ayara bagaikan tidak memiliki tulang. Tubuhnya lemas tidak berdaya. Bagaimana seorang ibu akan bisa tenang saat keadaan putrinya tidak tahu seperti apa.


"Iya, aku tahu." jawab Alvian menoleh kearah putranya yang lagi tertidur pulas diatas karpet ditemani Nyonya Lili yang duduk disebelah cucunya.


"Aku akan ikut mencarinya, kau yang tenang ya. Kasihan Arka juga membutuhkan dirimu." ucap si member ALV yang tetap saja terlihat tampan. Alvian seharusnya saat ini sedang konser bersama keempat sahabatnya. Maka dari itu dia memakai pakaian rapi.


"Bagaimana aku bisa tenang, Vin. Kita tidak tahu sekarang Via ada dimana? Orang-orang papa berjaga di halaman sekolah. Tapi tidak ada satupun yang tahu kemana anak kita pergi." seru Ayara semakin menagis dalam pelukan laki-laki yang menjadi pelindung keluarga mereka.


"Lalu dengan kau menangis seperti ini apakah Via bisa ditemukan? Kita harus usaha agar cepat menemukannya." Alvian merengangkan pelukannya dan menyapu lembut air mata sang istri. "Aya, tolong dengarkan aku baik-baik. Via pasti akan baik-baik saja. Tidak akan aku biarkan siapapun menyakiti putriku." Alvian menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapannya.


"Via adalah putriku juga. Kau tidak perlu khawatir orang yang menculiknya pasti menyandra Via karena menginginkan sesuatu dari keluarga kita. Entah itu Papa Abi, Papa Edward atau padaku. Mereka bukan orang bodoh yang akan melakukan tindakan bunuh diri bila langsung menyakitinya." ujar Alvian yang diiyakan oleh Nyonya Lili.


"Nak, apa yang dikatakan oleh Alvin benar. Pasti penculik itu menginginkan sesuatu dari keluarga kita." imbuh wanita setengah baya itu mendekati anak dan menantunya.


"Kalian berdua harus kuat. Tidak mungkin Papa Abi dan Papa Edward membiarkan sesuatu terjadi pada princess Rafael." lanjut beliau memberikan pelukan hangat pada Alvian dan Ayara.


"Mama, Alvin titip Aya dan Arka ya. Alvian harus ikut mencari keberadaan Via." ucap Alvian pada mamanya. Walaupun berat dia harus meninggalkan Aya karena ada putrinya yang harus diselamatkan.


"Iya, Nak. Pergilah! Do'a Mama selalu menyertaimu." jawab Nyonya Lili yang tidak mau memperkeruh suasana. Alvian memang harus pergi untuk membantu mencari cucunya.


"Terima kasih, Ma.. Alvian sangat menyayangi Mama." pemuda tampan itu menoleh pada Ayara dan...


Cup!


"Maaf, aku harus pergi. Do'akan saja agar putri kita baik-baik saja." satu kecupan dia berikan sebelum berlari keluar untuk cepat sampai ke mobilnya. Dengan tiga orang Bodyguard sebagai pengawal. Alvian langsung mendatangi sekolah bertaraf internasional tempat putrinya belajar.


"Ya Tuhan... tolong lindungilah putriku. Jaga dia dari orang-orang yang mau menyakitinya."


Do'a Alvian di dalam hatinya. Bohong bila dia tidak khawatir. Dia seakan-akan mau berteriak keras dan memakai orang yang sudah berani menculik sang putri. Namun, sampai saat ini sudah pukul setengah tiga sore. Tidak ada yang menghubungi mereka meminta uang tebusan ataupun sebagainya.


Kurang dari setengah jam. Mobil mewah yang membawanya sudah sampai ke sekolah Via. Di sana sudah dipenuhi oleh orang-orang Rafael dan Wilson. Tuan Edward dan Tuan Abidzar mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari sang cucu. Namun, nasib baik belum berpihak pada mereka. Vania tidak tahu pergi kemana.


"Pa," seru Alvian langsung dipeluk oleh Tuan Abidzar. Sedangkan Tuan Edward lagi menelusuri tempat-tempat yang mereka duga adalah tempat Vania dibawa oleh penculiknya.


"Alvin, kau sudah datang. Syukurlah!" kata suami Tante Anis adik ipar Tuan Abidzar.


"Sudah ditemukan, Nak. Namun, siapa pelakunya belum bisa dipastikan. Dia menyamar kerja disini sebagai guru sejak dua bulan lalu. Maka dari itu anak buah Papa ataupun penjaga gerbang tidak ada yang tahu saat dia membawa Via keluar dari sini." Tuan Abidzar yang menjelaskan pada putranya.


"Tapi kenapa Via diam saja saat dibawa? Apakah dihipnotis?"


"Tidak! Saat mau jam pulang sekolah. Via lewat didepan ruangannya lalu diajak masuk. Setelah itu putrimu tidak terlihat keluar lagi. Hanya guru itu yang keluar membawa kardus dan ternyata Via ada didalamnya." jawab Tuan Abidzar karena mereka hanya menemukan rekaman CCTV di luar ruangan. Sedangkan didalam ruangan guru tersebut sudah dimatikan. Jadi tidak tahu Vania diapakan oleh wanita yang menculiknya.


"Bagaimana mungkin bisa para dewan pembina ceroboh seperti ini?" Alvian mengusap wajahnya kasar. "Tapi Pa, apakah tidak bisa melacak guru itu dari identitas nya?"


"Wanita itu mengunakan data-data palsu. Tapi sekarang anak buah Papa lagi melacak lewat sidik jarinya." Tuan Abi menepuk pundak Alvian dan berkata. "Via pasti akan baik-baik saja. Namun, untuk saat ini kita harus merahasiakan hal ini dari polisi maupun publik."


"Iya, Pa. Alvin tahu. Jika begitu apa yang membuat Papa masih disini? Kemana kita harus mencari putriku, Pa?"


"Semua anak buah Papa dan mertua mu sudah berpencar ke berbagai tempat. Jadi Papa menunggu mereka menelepon kita." meskipun dalam keadaan khawatir pada cucunya. Tuan Abidzar masih terlihat tenang dan berwibawa.


"Iya, Pa. Alvin juga tidak tahu siapa kira-kira yang sudah menculik Via." pemuda tampan itu duduk pada bangku depan sekolahan bersama papanya. Tidak lama menunggu anak buah kepercayaan Tuan Abidzar sudah datang. Dia adalah yang bertugas untuk melakukan tes sidik jari dari dalam ruangan guru yang menculik Vania.


"Bagaimana?" Tuan Abidzar langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Sepertinya mereka sudah mengatur sedemikian rupa agar kita tidak bisa melacak keberadaan Nona Via, Tuan." jawab pengawal tersebut seraya menyerahkan sampel yang sudah diperiksa.


"Brengsek! Jadi guru gadungan itu sudah manipulasi sidik jarinya juga." umpat Alvian ketika membaca hasil laboratorium.


"Alvin, pulanglah, Nak. Mama mu, Aya dan Arka membutuhkan dirimu. Jangan sampai Aya drob karena Via belum ditemukan. Papa mau menemui Frans Kaisiepo." kata Tuan Abidzar.


"Siapa Frans, Pa? Apakah---"


"Dia adalah geng mafia yang biasanya menjual organ tubuh manusia. Bukan apa-apa, Papa menemuinya hanya untuk antisipasi. Takutnya bila guru ini tidak terlibat dengan siapapun. Berarti tujuannya adalah menjual setiap anak-anak yang dia culik." sela Tuan Abidzar memberikan penjelasan langsung.


"Tapi, Pa. Alvin ingin membantu mencari Vania. Bagaimana mung---"


"Alvin, jika istrimu sampai kenapa-kenapa juga. Maka pencarian pada putrimu akan terhambat. Dengarkanlah Papa, Nak. Apakah kau pikir Papa hanya akan duduk diam disini menunggu sampai malam. Berharap ada yang menelepon meminta uang tebusan. Lalu kita bayar berapapun yang mereka mau dan masalahnya akan selesai?" seru beliau karena dia pun akan melakukan berbagai cara demi keselamatan sang cucu.


"Lagian mau kemana kau mencarinya? Papa mertua mu sejak tahu Via menjadi korban penculikan, dia langsung turun tangan sendiri untuk mencari keberadaan princess. Ratusan anak buah papa telah menelusuri ibukota. Namun, sekarang sudah mau jam empat sore, tapi kita tidak ada yang mendapatkan petunjuk apapun." lanjutnya lagi.


"Pulanglah! Papa dan Om mu akan menemui para Mafia yang ada di ibukota ini. Ayara membutuhkan dirimu. Mama mu tidak akan sanggup menanganinya sendiri, Vin. Sejak mendapatkan kabar bahwa putri kalian menghilang, Aya sudah jatuh pingsan berulangkali."


"Iya, Pa... Alvin akan pulang sekarang. Tolong temukan Via, Pa. Alvin tidak perduli berapapun uang yang wanita itu pinta. Semuanya akan Alvin berikan asalkan Via kembali dalam keadaan baik-baik saja." Alvian akhirnya menangis karena katakutan terbesarnya adalah bila sang putri disiksa atau bisa jadi nyawanya dihabisi.


"Huem, itu sudah pasti. Pulanglah!" setelah itu Tuan Abidzar langsung memasuki mobilnya bersama beberapa orang pengawal.


"Vin, pulanglah, Nak. Benar kata papamu, Ayara membutuhkan dirimu. Dia masih shock dengan kejadian ini. Om akan berusaha untuk menyelamatkan putri kalian." kata suami Tante Anis menepuk pundak Alvian. Lalu diapun pergi untuk menemui para mafia yang mereka kenal.


"Via... kau baik-baik saja kan, Nak? Papa mohon bertahanlah, sayang. Opa dan kakek mu lagi berusaha untuk menemukan tempat keberadaan mu saat ini. Maafkan Papa yang tidak bisa menjaga Via dengan baik."


Gumam Alvian begitu sudah duduk di dalam mobilnya. Dia akan pulang ke kediaman keluarga Rafael. Seperti yang diperintahkan oleh Tuan Abidzar. Memang betul jika tidak ada gunanya dia ikut mencari, karena orang-orang pilihan sudah menyebar agar bisa menemukan princess Rafael secepatnya.


... BERSAMBUNG... ...