I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Tidak Mau Disentuh.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


"Diantara kita sudah berakhir, jadi pergilah dari sini. Aku tidak ingin melihat kau disini lagi. Cepat pergi!" seru Ayara untuk kesekian kalinya.


Agar sang mantan pacar pergi dari sana. Pemuda yang sudah membuat dirinya hamil diluar nikah. Laki-laki yang membuat Ayara benar-benar dibuang oleh keluarga kandungnya sendiri.


Hampir empat tahun mereka tidak bertemu. Maka selama itu pula setiap malamnya Ayara menangis dalam diam dan kesendiriannya. Tidak ada pundak tempatnya bersandar, tiada teman hidup yang bisa berbagi masalah sekecil apapun dengannya.


Sehingga setiap Vania berobat mengharapkan belas kasih dari Dokter Erina. Wanita muda yang membantu saat dia melahirkan sampai Vania sakit. Dokter Erlina selalu meringankan beban Ayara.


Sehingga uang yang seharusnya buat bertobat si buah hati. Bisa digunakan buat kebutuhan yang lainya.


Lalu bagaimana mungkin hari ini Alvian datang seperti tidak ada apa-apa diantara mereka. Luka di hati Ayara belum sembuh setelah bertahun-tahun lamanya.


Namun, sore ini begitu melihat kedatangan Alvian ke tempatnya bekerja. Luka tersebut kembali terbuka lebar bersamaan dengan air matanya.


"Alvin, jangan mendekat! Apakah telingamu sudah tuli," bentak Aya semakin mundur. Mengikuti langkah Alvian yang semakin mendekat padanya.


Bukan hanya Ayara yang terluka atas pertemuan ini. Akan tetapi Alvian jauh terlukanya, ketika melihat Ayara nya hidup susah bersama sang putri.


Anak yang tidak pernah Alvian ketahui selama ini. Bertahun-tahun ternyata kedua wanita berbeda usia itu menderita karena kerasnya kehidupan. Sedangkan dirinya hidup dalam kemewahan.


Dimana-mana Alvian disanjung oleh para fansnya. Uang sungguh tidak ada arti apa-apa lagi, karena tanpa harus konser pun uang tersebut mengalir bagaikan air sungai.


"Kenapa? Apakah kau takut aku mengetahui anak kita?" tidak perduli seperti apa Ayara memaki nya. Namun, Alvian terus mendekat.


"Anak kita apa maksudmu? Vania putriku. Jadi cepat pergi dari sini," usir Ayara dengan tatapan nyalang nya. Sekarang diantara mereka bertiga hanya berjarak sekitar setengah meter.


Di belakang, tepatnya di dekat pintu masuk. Aldebaran mengunci pintunya agar tidak ada orang yang masuk.


"Kalian berdua siapa? Kenapa temanmu membuat sahabatku menagis?" tanya Lula menatap punggung Alvian yang membelakangi nya dan juga Bara yang ada di dekat pintu masuk.


"Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya. Kita diam saja." jawab Bara yang tidak bisa dikenal oleh Lula karena maskernya belum dilepas. Begitu pula dengan Alvian.


Mungkin karena Aya sangat mengenal mantan kekasihnya itu. Jadi mau memakai masker penutup wajah sekalipun dia tetap mengenalinya.


"Iya, tapi masalah apa? Kenapa---"


"Hei, diamlah! Kau ini berisik sekali. Diam dan dengarkan saja dramanya." Bara menarik paksa tangan Lula kearah kursi kayu tempat para pengunjung dan duduk disana.


Sehingga membuat Lula tidak protes lagi, karena mendengar Alvian dan Ayara kembali bertengkar. Sialnya Lula bukanlah gadis yang cepat tanggap. Jadi ucapan Alvian yang mengatakan anak kita, cuma diam karena belum paham juga.


"Aya, mau sampai kau akan menyembunyikan Vania dariku?" jawab Alvian menatap Ayara iba.


Rasanya dia sangat ingin memeluk sang mantan kekasih ataupun menghapus air matanya. Jika dulu setiap kali Ayara memiliki masalah, bersama adik tirinya maupun keluarganya yang lain. Maka pundak Alvian lah tempat dia bersandar.


"Alvin, dia... cepat pergilah dari sini. Diantara kita sudah berakhir. Jadi pergilah dari sini, aku sangat membencimu." Aya tadinya ingin kembali memaki Alvian.


Akan tetapi begitu melihat Vania menatap padanya. Jad ia urungkan karena tidak ingin bila sang putri mendengar pertengkaran mereka.


"Aku tidak akan pernah pergi, sebelum kita berbicara."


"Kenapa kau jahat sekali! Pergilah dari sini, aku sangat membencimu," seru ibu muda itu kesal dan terus menangis.


Saat ini Ayara benar-benar bingung harus melakukan apa agar Alvian mau pergi dari sana.


"Hai cantik... kita bertemu lagi." Alvian tidak menghiraukan ocehan Ayara. Tapi dia berjongkok karena bagitu tubuh mamanya menabrak dinding. Si cantik Vania minta di turunkan.


"Apa Vania tahu Om siapa?" tanya Alvian meskipun dia sudah tahu jawabannya.


Gadis kecil itu tidak menjawab. Namun, dia mengelengkan kepalanya pelan.


"Ini Papa, Nak!" Alvian langsung membuka masker dan juga topi yang ia pakai. Lalu dia letakan di sampingnya bersamaan dengan jaket yang dia lepas begitu keluar dari mobil tadi.


Deg!


"A--apakah Alvian benar-benar sudah tahu, jika Vania anaknya?" tubuh Ayara menegang sekitar.


"Gawat, sekarang apa yang harus aku lakukan? Bagaimana bila Alvian merebut Vania dariku? Apa aku berbicara dengan nya dan meminta baik-baik agar jangan datang ke sini lagi?" Ayara terus berpikir agar Alvian mau pergi dari sana.


"Vania, ini Papa sayang. Ini Papa mu," pemuda itu mengulurkan tangannya agar bisa menyentuh putrinya. Namun, Vania langsung menolak.



Setelah Vania mendengar kata Papa dan melihat wajah Alvian. Dia hanya menatapnya lekat. Mungkin di dalam hatinya lagi berpikir kenapa wajah mereka berdua bisa begitu mirip.


"Ayo sini Papa gendong," pinta Alvian lagi. Namun, Vania kembali mengelengkan kepalanya.


"Ini, ini punya Vania kan?" pemuda itu mengambil sepatu kecil dari dalam jaket yang ia taruh di lantai. Lalu dia tunjukkan pada putrinya.


"Mama, patu Via," ucap Vania mendongak keatas menatap muka mamanya yang masih bersimbah air mata.


"Bukan, itu hanya mirip," dusta Ayara masih tersedu-sedu.


Akan tetapi meskipun Aya berkata begitu dan menyangkalnya. Alvian yang mendengar ucapan putrinya. Dapat menyimpulkan bahwa itu memanglah sepatu milik Vania saat masih bayi.


"Andai waktu itu aku mengetahui fakta ini, maka sudah dari dulu aku mencari kalian. Namun, Tuhan menghukum ku karena sudah menyakitimu. Makanya tidak pernah mengetahui jika saat kita putus, kau sedang mengandung anakku." Alvian tersenyum menatap putrinya.


Ingin rasanya memeluk Ayara, maupun Vania. Akan tetapi karena kesalahannya Alvian hanya bisa menahan rasa tersebut.


"Alvian, dia adalah putriku. Jadi kau jangan bermimpi dan asal bicara sembarangan," jawab Ayara dengan perasaan semakin tidak menentu.


"Apakah kau masih tidak mau mengaku juga? Aku punya buktinya! Jadi tidak usah mengelak lagi. Ayo kita bicara baik-baik, putri kita tidak boleh mendengar hal seperti ini," ajak Alvian karena dia tidak tahu akan memulai dari mana dulu.


Alvian kembali berdiri dan ingin memegang tangan Aya. Namun, langsung di tepis kasar oleh ibu muda itu.


"Jangan menyentuh! Kalau tidak, aku akan berteriak agar orang-orang datang ke sini dan memukul mu," bentak Aya semakin marah.


"Aku tidak yakin kau tega melakukannya. Kau memiliki hati yang sangat baik, Aya. Menyakiti semut saja kau tidak mau. Lalu apa mungkin kau akan memangil warga untuk memukul ayah dari putrimu sendiri?" Alvian tersenyum kecil.


Akan tetapi dia tetap menoleh ke arah pintu. Takutnya benar-benar ada orang yang datang, sehingga mengenali siapa dirinya.


Hal itu membuat Lula tahu siapa pemilik wajah yang di tutup tadi.


"Ka--kalian! I---itu Ian ALV kah? A--apa mataku yang salah lihat ," tanya Lula terbata-bata.


Bila tidak sayang pada kesempatan emas bisa bertemu tanpa adanya staf dan bodyguard. Mungkin Lula sudah pingsan karenanya.


"Tidak! Kau tidak salah lihat. Dia memang Ian ALV. Jadi tolong diamlah! Biarkan dia dan Aya menyelesaikan masalahnya." jawab Bara yang sangat ingin berlari ke depan buat memeluk Vania yang sangat imut dan lucu.


"Apakah Ara dan Ian saling kenal?" pikiran Lula mulai mengerti walaupun loading begitu lama.


"Huem! Mereka bukan hanya saling kenal. Tapi Vania adalah bukti buah cinta mereka." Bara menjawab apa adanya.


Ketahuilah, jangankan Alvian. Hatinya saja terasa sakit, melihat kehidupan Ayara yang mereka kenal. Sekarang bekerja menjadi penjual bunga.


Tanpa dijelaskan saja, tentu mereka sudah tahu bahwa Ayara mengalami hidup yang sangat sulit.


"Astaga! Jadi itu alasan Ara tidak pernah menyukai ALV. Pa--pantas saja Vania begitu mirip dengan Ian," Lula sampai menutup mulutnya sendiri.


"Kau sangat tahu tentang ALV. Apakah kau fans mereka?" tanya Bara menatap lekat wajah Lula. Dia merasa seperti pernah berjumpa.


"Tentu saj---"


"Bara, bisa kau bawa putriku pergi bersamanya. Aku ingin bicara dengan Aya," perkataan Alvian membuat Bara langsung berdiri untuk mendekati sahabatnya. Diikuti oleh Lula dibelakangnya.


"Aya," sapa Bara mendekati Ayara.


"Ba--bara," seru Araya yang ternyata juga mengenali Aldebaran.


"Wah, ternyata kau juga masih bisa mengenali aku," Bara tersenyum dan menarik Ayara untuk dia peluk.


"Maaf, maafkan aku! Aku tidak tahu akan seperti ini jadinya." ucap Bara memeluk Ayara yang semakin menagis.


Sejak dulu hubungan Ayara dan keempat sahabat Alvian emang sangat dekat. Alvian tidak pernah merasa cemburu bila Ayara di peluk sahabatnya, karena dia tahu mereka semua menyayangi Aya seperti adik mereka sendiri.


"Kami semua minta maaf padamu. Hanan, Naufal dan Sandy juga minta maaf padamu. Hari ini mereka sudah kembali ke kota S. Tapi lain kali dia akan datang untuk bertemu denganmu dan juga si cantik ini." ucap Bara setelah lepas pelukannya dan Aya. Lalu dia pun berjongkok seperti mana Alvian di hadapan Vania.


"Hai cantik... kenalkan ini Om Bara," lanjutnya melepaskan masker dan topi yang dia pakai. Baru setelahnya mengulurkan tangan pada Vania dan disambut baik oleh si kecil.


Berbeda saat dengan Alvian. Vania hanya diam dan tidak mau saat akan disentuh tangannya. Mungkin karena dia melihat mamanya menangis karena pemuda itu.


"Om Bala pacal nya Tante tan?" jawab Vania yang sudah setiap hari juga melihat wajah tampan Bara. Yaitu dari ponsel Tante Lula nya.


"Vania, kau bicara apa," Lula cepat-cepat mendekati si kecil lalu menutup mulutnya.


"Hei, kenapa mulut keponakan ku kau tutup? Nanti dia tidak bisa bernafas," seru Bara menarik Vania lalu langsung dia gendong.


Sehingga membuat Alvian tersenyum miris di dalam hatinya. "kenapa sama Bara, dia mau bersalaman dan digendong. Sedangkan denganku disentuh saja tidak mau?" tanya Alvian dengan rasa nyeri dihatinya.


"Om Albal," ucapan Vania langsung membuat Bara dan Alvian tahu jika si cantik Vania. Mengenal Bara degan sebutan Albar.


"Iya, ini Om Albar dan ini papa Vania. Namanya Om Ian." jelas Bara setelah mencium pipi Vania gemas.


"Albar, I--ian. I--ini benar-benar kalian. Jadi Vania anakmu. Berarti karena itu Vania yang cantik, menyukai tanda tangan mu pada bajunya," Lula terus berbicara dengan terbata-bata dia benar-benar tidak percaya akan hal tersebut.


Bagaimana mungkin idola yang mereka bangga-banggakan. Ternyata adalah ayah kandung dari Vania. Gadis kecil yang sudah dianggap seperti keponakannya sendiri.


"Ara... jadi selama ini kau mengenal mereka semua?" tanya Lula sambil berjalan melewati Alvian dan memeluk sang sahabat yang matanya hampir membengkak akibat terlalu lama menangis.


"Lula," lirih Ayara merasa bersalah sudah membohongi sahabatnya. Tapi dia harus bagaimana lagi, karena Aya juga tidak mungkin untuk berkata jujur.


"Sudahlah! Aku tahu kenapa kau tidak pernah jujur selama ini," Lula terus memeluk Aya.


Sampai merasa sahabatnya itu lebih tenang, barulah dia melepaskan pelukannya dan menatap muka Ayara.


"Ara, aku akan pulang ke rumahmu membawa Vania. Ini sudah gelap, putrimu harus mandi. Kau selesaikanlah masalahmu terlebih dahulu."


"Tapi Lula, aku tidak memiliki masalah apapun.. Aku juga akan pulang sekarang," jawab Aya ingin mengambil Vania.


"Bara, tolong berikan putriku. Kalian pergilah dari sini. Vania hanya putriku dan tidak ada hubungannya dengan sahabat mu," pintanya yang tidak di turuti oleh Bara.


"Tidak, Aya! selesaikanlah masalahmu dan Alvian. Bicarakanlah baik-baik, aku akan ikut pulang bersama mereka dan menunggu di sana." tolaknya langsung menarik tangan Lula. Sedangkan tangan satunya masih mengendong Vania.


... BERSAMBUNG......