
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
... HAPPY READING......
.
.
"Avin, sekarang ayo ceritakan, Nak. Apa sebenarnya yang terjadi? berapa banyak kau menghamili wanita di luar sana?" tanya Tante Anis untuk kedua kalinya, melihat Alvian hanya diam saja belum menjawab pertanyaan mereka semua.
"Pa, Mama, Nenek dan semuanya. Sebelumnya Alvin mau minta maaf pada kalian semua karena tidak hanya membuat kecewa saja. Tapi juga sudah mencoreng nama baik keluarga Rafael." ucap Alvin sebelum melanjutkan ucapannya.
"Akan tetapi semuanya sudah terjadi dan Alvin sangat menyesal, tidak mendengar nasehat dari kalian semua." lanjutnya berhenti sejenak lalu setelahnya kembali bicara lagi.
Tuan Abidzar yang sudah dipeluk oleh istrinya hanya diam mendengarkan putra sulung mereka bercerita. Satu orang pun tidak ada yang menyela ketika Alvian berbicara.
"Alvin hanya menghamili satu orang gadis, dia adalah mantan kekasih Alvin sebelum debut sebagai member ALV." saat menyebutkan kata kata mantan kekasihnya. Pemuda itu langsung menunduk sedih.
Andai saja dia tidak mengakhiri hubungannya bersama Ayara. Maka gadis itu dan putrinya tidak akan pernah menderita seperti sekarang.
"Bukannya mantan pacar kakak hanya ada satu dan dia adalah foto gadis yang ada di dalam kamar Kak Alvin?" tanya Deri karena di kamar Alvian begitu banyak foto Ayara bersamanya dan ada juga bersama keempat sahabatnya.
"Huem, iya! Kau benar! dia adalah Ayara." jawab Alvian menggangguk membenarkan ucapan adiknya.
Lalu setelah itu Alvian kembali lagi melanjutkan ceritanya. Sampai di mana dia mengakhiri hubungan bersama Ayara dan meninggalkan gadis itu.
"Astaga, Nak! Apa yang telah kau lakukan? Kenapa kau tega meninggalkan wanita yang kesuciannya sudah kau renggut," tangis Nyonya Lili pecah seketika.
Antara rasa kecewa pada sang putra dan juga merasa kasihan pada nasib wanita yang sudah dihancurkan kehidupannya oleh Alvian.
"Alvin, tidakkah kau pernah berpikir bagaimana bila wanita itu adalah adik perempuanmu. Atau saudara perempuanmu yang lainnya? Kenapa hanya karena cita-citamu, kau tega membuangnya begitu saja?" lirih Nyonya Lili semakin terisak.
"Dasar anak tidak ada otak! Setelah kesuciannya kau ambil, lalu kau malah meninggalkan dia begitu saja. Di mana otak dan hati nuranimu? Hah! Apa Papa pernah mengajarkan kalian, untuk menjadi laki-laki yang tidak bertanggung jawab?" umpat kasar Tuan Abidzar.
"Lalu jika kau sudah memiliki anak bersamanya. Apakah gadis kecil yang fotonya kau unggah adalah foto putrimu?" tanya Tante Anis dengan menghela nafas dalam-dalam.
Rasanya dia sangat ingin memukul keponakannya itu, karena saking kecewanya atas perbuatan Alvian meninggalkan Ayara. Hanya karena karirnya yang ingin menjadi penyanyi terkenal.
"Iya Tante, dia adalah putri Alvin bersama Ayara. Sekarang umurnya sudah hampir tiga tahun. Selama ini bukan Alvin tidak mau bertanggung jawab. Akan tetapi selain kami hilang kontak tidak bisa saling menghubungi. Alvin juga tidak tahu jika pada saat itu Ayara tengah mengandung Vania." jawab jujur pemuda itu.
Alvian sudah siap menerima apabila tidak diakui lagi anak oleh Tuan Abidzar. Asalkan dia bisa hidup bersama Aya dan buah hatinya. Tapi setidaknya dia sudah berkata jujur, mau diterima atau tidak Itu adalah hak keluarga besar Rafael.
"Ja--jadi namanya Va--vania? Apakah kau mempunyai fotonya? Mama ingin melihatnya," ucap Nyonya Lili terbata-bata.
Entah mengapa rasa sedih dan kecewanya langsung hilang seketika. Begitu mendengar nama sang cucu.
"Iya, Ma! Namanya adalah Vania Amara Jasmeen. Alvin punya banyak fotonya, karena sebelum pulang dari kota B. Alvin sudah membawanya berbelanja." jawab pemuda itu seraya mengeluarkan ponselnya. Lalu mencari salah satu foto Vania yang dia simpan.
"Ini fotonya saat kami membayar belanjaan di kasir," ketika menunjukkan foto sang putri. Alvian tersenyum bahagia. Dia bahkan sudah melupakan rasa sakit pada wajah dan juga bibirnya.
"Ya Tuhan! Dia benar-benar cucu ku, kenapa wajah kalian sangat mirip," seru Nyonya Lili semakin tersenyum.
"Ibu, coba lihat foto cicit mu, dia sangat mirip dengan Alvin." ucap wanita setengah baya itu, menunjukkan foto cucunya pada sang mertua.
"Mana coba lihat lebih dekat lagi. Mata ibu sudah tidak jelas lagi apabila melihat dari jarak jauh," kata nenek Alvian berdiri dari tempat duduknya.
"Ini, coba kalian lihat. Dia benar-benar sangat mirip dengan Alvian," akhirnya ponsel mahal Alvian berputar di ruang keluarga itu, karena mereka semua ingin melihat foto anggota baru keluarga Rafael yang baru mereka ketahui.
Kebetulan dia sangat menyukai anak kecil, karena di keluarga mereka memang tidak ada yang umurnya di bawah sepuluh tahun.
"Dia tidak tinggal di kota ini, tapi mereka tinggal di ibukota B." jawab pemuda itu lagi.
Dengan mata melirik ke ayahnya yang hanya diam seperti tidak tertarik untuk melihat foto sang cucu.
"Pa, Apakah Papa tidak ingin melihat foto cucu kita? Dia seorang perempuan, yang lucu dan cantik sekali," tanya nyonya Lili karena melihat suaminya hanya diam saja.
"Dari mana kau yakin bahwa dia adalah putrimu? Bukannya tadi kau bilang dia adalah anak mantan kekasihmu? Lalu kenapa dia bisa berada di ibukota B? Apakah dia di sini tidak memiliki keluarga atau gadis itu hanya wanita nakal yang kau hamili?"
Setelah sejak tadi hanya diam saja. Sekali berbicara ternyata Tuan Abidzar memiliki beberapa jumlah pertanyaan sekaligus. Seakan-akan putranya adalah seorang penjahat.
Soalnya juga Alvian memang belum bercerita. Bahwa gara-gara hamil anaknya, gadis itu sampai diusir dari rumah. Tadi sebetulnya jika Deri tidak memotong ucapannya. Alvian akan bercerita sampai selesai.
"Dia... di usir dari rumah, sehari setelah Alvin meninggalkannya, karena pada hari itu juga lah keluarganya baru mengetahui bahwa Aya tengah hamil." jawab Alvian hanya bisa menunduk sambil menyesali keputusannya.
"Ya Tuhan! Dosa apa yang telah aku lakukan? Kenapa putraku berbuat bejat seperti ini?" seru Nyonya Lili menutup mukanya menggunakan kedua tangannya sendiri.
"Ma... tolong maafin Alvin, sudah membuat kalian semua kecewa." ucap pemuda itu mendekati ibunya. Lalu bersimpuh di bawah sofa yang diduduki oleh wanita yang sudah melahirkannya dua puluh tiga tahun yang lalu.
"Kau tidak punya salah pada Mama, Alvin. Tapi dosamu adalah pada gadis itu dan putrimu. Sekarang ceritakan semuanya, Mama ingin tahu segalanya." jawab Nyonya Lili terisak sedih.
Sehingga mau tidak mau Alvian, akhirnya menceritakan semuanya. Sampai tidak ada yang terlewatkan sedikit pun. Tidak ada yang disembunyikan oleh Alvian. Dia menceritakan semuanya.
Bahkan pada saat di usir, Ayara bukan hanya lagi hamil saja. Akan tetapi juga sedang demam.
"Tapi setelah sepuluh bulan setelahnya. Alvin mendatangi rumah keluarga Wilson dan penjaga rumah itu mengatakan jika Aya lagi melanjutkan studinya di luar negeri." kata pemuda itu selesai menjelaskan, karena sebelumnya tadi dia sudah bercerita tentang pekerjaan Ayara di kota B.
"Sungguh keterlaluan sekali, kenapa ada orang tua yang tega mengusir anaknya sendiri dari rumah dalam keadaan hamil dan juga lagi sakit." seru Tante Anis sampai menangis setelah mendengar kisah Ayara.
"Bukannya anak Edward sedang kuliah di new York? Lalu anaknya yang mana? Setahuku anak Edward hanya ada dua orang? Atau anaknya bersama istrinya yang sudah meninggal?" tanya Tuan Abidzar dengan suara sudah melemah.
Tidak seperti tadi yang siapa menerkam siapa saja. Setelah mendengar cerita Alvian, cara bicara beliau melunak seketika. Api amarahnya bagaikan tersiram air dingin dan langsung padam dalam sekejap.
"Apakah Papa mengenal Tuan Edward?" tanya Alvian menatap pada ayahnya. Saat ini pemuda tampan itu masih duduk di atas lantai. Yaitu di samping kaki mamanya.
"Bodoh! Tentu saja Papa mengenalnya, siapa yang tidak kenal keluarga Wilson. Dia adalah saingan bisnis papa sejak beberapa tahun terakhir." jawab Tuan Abidzar seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Alvin, dia anak Edward yang mana? Apakah Edward yang dikatakan oleh papamu, atau orang lain lagi?" tanya Nyonya Lili yang hatinya terasa tidak karuan.
Sedih karena kelakukan anaknya yang membuat Ayara menderita dan juga bahagia karena ternyata sudah memiliki cucu yang sangat cantik dan juga lucu.
"Tuan Edward yang sama, Ma. Tapi Aya adalah putrinya bersama Almarhumah Tante Jasmeen. Beliau meninggal dunia saat Aya masih berumur dua tahun." jawab Alvian karena dia memang sudah tahu banyak tentang Ayara.
Hanya saja sampai saat ini dia belum tahu seperti apa laki-laki bernama Edward tersebut.
"Ya Tuhan! Kasihan sekali nasibnya! Cepat kau jemput dia dan bawa pulang ke sini, Avin." seru neneknya Alvian tidak tega mendengar cerita sang cucu.
"Lalu sekarang kakak mau bagiamana? Mau bertanggung jawab pada putri Kakak saja, atau mau menikah mantan pacar ka---"
"Kakak mu hanya akan menikah dengan gadis yang papa pilihkan, karena Papa sudah memiliki calon untuknya ." sela Tuan Abidzar berdiri dari tempat duduknya.
"Apa! Tidak Pa, Alvin hanya akan menikahi Ayara." sentak Alvian degan mata memerah.
Mendengar ucapan ayahnya, emosi pemuda itu langsung meledak seketika. Bagaimana mungkin sang ayah mau menikahkan dia degan gadis lain.
...BERSAMBUNG......