I'M The One You Hurt

I'M The One You Hurt
Jus Mangga Muda.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...HAPPY READING......


.


.


Hampir dua bulan berlalu. Tanggal 18 bulan ini adalah habisnya masa kontrak para member ALV. Namun, kelima pemuda tampan itu masih tetap bersatu dengan Agensi AX Si. Salah satu perusahaan yang dulunya biasa saja dan setelah membantu member ALV dikenal seluruh dunia.


Berbagai award musik sudah dimenangkan oleh mereka selama kurang lebih delapan tahun berturut-turut. Namun, tidak membuat mereka sombong pada fans ALV maupun teman sesama artis.


Semenjak ditinggal pergi oleh Lula yang sekarang perutnya mulai terlihat membesar. Kehidupan Bara sudah kacau. Dia benar-benar memutuskan tidak ikut bergabung dengan artis yang sudah disepakati olehnya. Hanya perform bersama member ALV saja yang masih bertahan sampai saat ini karena ada para sahabat yang membuatnya semagat.


Walaupun pemuda itu sudah sempat berbicara lewat telepon bersama Lula. Yaitu jika dirinya menerima sang istri walaupun sudah dinyatakan mandul. Akan tetapi Lula belum juga mau bertemu dan berbicara langsung.


Selain mendapatkan kasih sayang dari Ayara, Nyonya Lili dan anggota keluarga Rafael yang lain. Lula betah tinggal di rumah tersebut karena tidak pernah mendapatkan tekanan dari ibu mertuanya yang jahat. Sehingga tubuh kurusnya mulai berisi lagi.


Tuan Anderson Gretchen juga telah menceraikan Nyonya Marry. Wanita yang dulunya dijodohkan oleh orang tua dan meskipun memiliki anak tidak bisa menghalagi perceraian pasangan tersebut.


"Bara, kau kenapa melamun saja. Sekarang masa kontrak kita sudah habis. Hanya tinggal dua hari lagi. Semuanya berhak mengumumkan hubungan dengan wanita manapun. Termasuk kau dan Ria." canda Naufal karena melihat wajah Bara selalu masam.


"Jangan mencari gara-gara. Aku belum bisa menemukan istriku. Yang ada nanti Lula kabur untuk selama-lamanya karena mendengar kabar burung tidak jelas." jawab Bara sudah hampir putus asa.


Gara-gara Lula, pemuda itu hampir setiap dua Minggu sekali datang berkunjung ke rumah mertuanya. Berharap ada Lula di sana.


"Apakah kau benar-benar ikhlas menerimanya yang sudah dinyatakan mandul?" sekarang Sandy yang bertanya. Di dalam mobil tersebut hanya ada mereka bertiga karena Hanan dan Alvin sudah bersama istri dan anaknya.


"Tentu saja aku sudah menerimanya. Aku benar-benar mencintai Lula. Jika diawal menikah mungkin iya aku hanya menyanyanginya sebagai sahabat. Namun, setelah dua tahun hidup bersama membuatku mencintainya." ungkap Bara yang sudah menyadari bahwa selama ini tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada sang istri.


"Tapi Lula belum juga mau bertemu denganku. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Bara menyandarkan kepalanya pada pundak Sandy.


"Salahmu yang percaya begitu saja pada ucap Tante. Bahkan kau memukul wajahnya." ujar Naufal.


"Huem, iya. Aku memang bersalah. Namun, apakah dia tidak mau memberiku kesempatan untuk memperbaiki segala yang telah aku hancurkan."


"Soal itu kau tanyakan saja padanya. Kami juga tidak tahu karena Lula sendiri yang memiliki keputusan." jawab Sandy seraya mengirimkan rekaman suara percakapan mereka.


Membuat Lula yang berada di sebrang sana tersenyum kecil dan berkata.


"Apakah sudah saatnya aku bertemu Bara? Lagian seperti ini bukanlah menyelesaikan masalah diantara kami." ucap wanita itu dengan berpikir keras.


Selama ini dia lah yang tidak mau bertemu suaminya, karena jika Tuan Abidzar tidak pernah menghalangi selagi itu membuat Lula bahagia.


"Huh!" Lula menghembuskan nafasnya dalam-dalam. "Iya, sepertinya ini adalah waktu yang tepat." ucapnya lagi yang langsung kembali masuk kedalam rumah untuk menghubungi Bara. Keputusan wanita itu sudah bulat setelah hampir setiap hari memikirkan pertemuan dia dan Bara.


Sementara itu Bara yang baru saja sampai di rumahnya turun dari mobil Sandy. Akhir-akhir ini dia sudah jarang membawa mobilnya sendiri karena tubuhnya yang terkadang tidak bisa diajak kompromi.


"Agh! Segar sekali!" seru pemuda itu setelah menghabiskan satu gelas jus mangga muda. Aneh! Tapi itulah kenyataannya. Bara suka sekali memakan makanan asam maupun hanya minuman. Padahal biasanya dia paling anti, tidak suka.


"Kenapa semenjak Lula pergi aku memiliki kebiasaan membuat jus mangga muda? Apakah ini pengaruh diriku yang jarang sekali makan makanan berat." ucapnya sudah berjalan kearah ruang tengah.


Ting!


Satu pesan masuk pada ponsel yang selalu dia genggam. Untuk melihat nomor Lula aktif atau tidaknya.


πŸ’Œ Lula : "Datanglah ke Taman belakang dekat jalan ES."


Deg!


"Aaaa... akhirnya!" teriak Bara langsung pergi padahal dia baru saja datang.


πŸ’Œ Lula : "Apakah kau tidak bisa datang? Jika tidak maka tak apa." Lula mengirim pesan lagi.


"Astaga! Aku lupa!" Bara mukul jidat nya sendiri. "Tenang-tenang! Aku tidak boleh tergesa-gesa seperti ini. Bagaimana bila aku malah mengalami kecelakaan dan meninggal pada saat itu juga." pemuda itu memasang sabuk pengaman. Untung saja dia belum keluar dari halaman rumahnya.


"Tuan, Muda apakah mau Saya antar?" tanya sopirnya berjalan mendekati mobil.


"Tidak! Aku akan pergi sendiri." tolak Bara sambil menghubungi nomor telepon Lula.


πŸ“± Lula : Huem?"


πŸ“±Bara : "Aku mau berangkat sekarang. Tolong tunggu aku ya, bila kau sudah datang duluan." ucap Bara dengan nafas naik turun. Sungguh dia tidak bisa menahan rasa bahagianya yang membuncah seketika.


πŸ“± Lula : "Aku belum mengatakan jam berapa, kenapa kau terburu-buru sekali."


πŸ“± Bara : "Tidak apa-apa. Aku akan menunggu kedatangan mu. Aku sangat merindukanmu, Lula. Bagiamana mungkin aku bisa menahannya setelah sekian lama." jawab Bara jujur.


πŸ“± Lula : "Ya, jika begitu tunggu saja sampai aku datang." Lula berkata acuh dan langsung memutuskan sambungan telepon mereka.


"Kau tunggu saja, Bar. Aku masih mau istirahat. Lagian di jam segini kenapa harus berpanasan di taman." ucap Lula tersenyum kecil.


Entah mengapa semenjak hamil, perasaan cintanya pada Bara mulai memudar. Mungkinkah karena hatinya sudah pernah disakiti? Entahlah! Hanya Lula yang tahu jawabannya.


Setibanya di dalam kamar. Wanita itu merebahkan tubuhnya yang sangat lelah dan mengantuk sejak pagi. Sekarang jam masih menunjukkan pukul setengah tiga sore. Tidak lama hanya beberapa menit setelah itu Lula pun tertidur pulas. Apalagi sekarang saat malam ibu hamil tersebut susah tidur.


Tidak perduli jika saat ini Bara melaju kendaraannya dengan kecepatan sedang. Soalnya dari kediaman Bara memang cukup jauh.


"Akhirnya aku bisa bertemu Lula. Pertama-tama yang harus aku lakukan adalah meminta maaf. Lalu mengungkapkan perasaan cintaku padanya." Bara tersenyum-senyum sendiri.


"Kalau begitu sekarang aku harus membeli bunga mawar putih kesukaan Lula. Besok-besok baru aku membawanya ke berbagai tempat yang indah. Aku juga akan mengumumkan pada dunia, bahwa Lula adalah istri yang aku cintai." pemuda tersebut memarkirkan mobilnya dan hendak turun untuk membeli bunga. Namun, satu buah mobil box melaju kencang kearah Bara.


Aaaaaaa!


Praaank!


Duuuar!


Teriak Bara memejamkan matanya karena tidak bisa berlari untuk menghindari mobil box bermuatan berat yang langsung meledak pada saat itu juga.


...BERSAMBUNG......